Semua bermula dari kata. Kata dan lintasan dalam pikiran adalah abstraksi yang menggerakan setiap kreativitas manusia baik tindakan, perilaku, kegiatan atau pemikiran. Atau sebagaimana kaidah yang diuraikan Muhammad al-Ghazali (Imam al-Ghazali) bahwa anta maa kaifa tufakkir, anda akan menjadi seperti apa yang anda pikirkan. 

Dengan kata lain setiap realitas yang terjadi di alam kenyataan, sebelumnya merupakan realitas di alam pemikiran. Sebaliknya realitas yang tidak pernah ada di alam pemikiran maka tidak akan pernah pula menjadi realitas di alam nyata. Oleh karena itu kita ini dituntun, digerakkan dan diwarnai oleh cara berpikir kita.

Pemikiran juga dapat diselaraskan dalam gagasan Edward W Said tentang intelektual dimana mungkin terkait intelektual itu, pemikiran dapat menggunakan pengertian sebagai merepresentasikan, mengekspresikan serta mengartikulasikan pesan, pandangan sikap dan filosofi. Atau dalam pengertian sebagai mengkomunikasikan ide, emansipatoris dan mencerahkan. 

Kemudian pemikiran ditempatkan berkaitan dengan ketajaman nalar serta kemampuan memberikan representasi gagasan dan narasi kepada publik. Semua defenisi ini yang dilekatkan kepada kata intelektual atau sebagai peran intelektual. Pemikiran juga diasumsikan sebagai gagasan dan buah pikiran lain yang disajikan kepada khalayak mencerminkan keyakinan serta nilai-nilai anutannya sendiri.


Transformasi Digital

Digitalisasi di berbagai lini terjadi di masa sekarang ini. Massifikasi tentang digitalisasi ini berjalan dengan begitu cepat. Mulai dari pengguna jasa transportasi, belanja kebutuhan, keuangan, respon kebijakan publik, donasi sosial, kegiatan sosial, bimbingan belajar pendidikan dan lainnya. Sebelum lebih jauh membincang digitalisasi. 

Ketika kita searching misalnya ada kueri yang membagi soal digitalisasi ini yakni digitisasi, digitalisasi dan transformasi digital. Dan tentu kejadian pandemi covid 19 telah menjadi proses akselerasi yang paling nyata dalam penggunaan sarana-sarana digital atau media digital ini.

Digitasi dalam beberapa pengertian dijelaskan sebagai proses mengubah yang bersifat non digital menjadi bersifat digital. Digitasi sebagai proses awal perubahan ke bentuk digital. Digitalisasi diartikan sebagai proses penggunaan teknologi digital dan proses untuk membentuk budaya digital. Sedangkan transformasi digital adalah proses keseluruhan dalam penggunaan dan pemanfaatan teknologi digital baik dalam aktivitas, proses maupun model. 

Akan tetapi bila digitasi dan digitalisasi dipandang sebagai proses penggunaan maka transformasi digital ditempatkan kepada pengguna atau manusia sebagai objek yang menggunakan. Digitisasi dan digitalisasi kemudian ditempatkan sebagai tahapan-tahapan dalam memenuhi transformasi digital.


Digitalisasi Platform Menulis

Digitalisasi mungkin tidak hanya berkaitan dengan pengubahan sarana menjadi kepada penggunaan teknologi. Di era saat ini kemungkinan pengertian digitalisasi juga erat kaitannya dengan platform internet. Misalkan yang dipandang sebagai analog itu seperti video di dalam kamera, buku, foto di handphone, arsip dokumen, dan lainnya. Maka proses digitalisasi itu menjadi penggunaan terhadap platform atau media atau sarana website tertentu yang mengubah bahan-bahan analog tersebut menjadi lebih mudah digunakan atau dikonsumsi baik sebagai individu maupun publik.

Hal ini membuat proses digitalisasi menjadi erat kaitan dengan passion, hiburan, hobi, ataupun bahkan eksistensi diri. Dalam platform menulis maka erat kaitannya dengan lahirnya platform blogging, berita online, media online, microblogging ataupun platform menulis online. Maka digitalisasi ini erat kaitan dengan media digital dan media sosial. 

Media digital merupakan penggunaan model distribusi konten dengan penyebaran yang bersifat cepat. Penggunaan distribusi konten ini bisa menggunakan media sosial tentunya. Konten yang dibuat oleh pengguna akan semakin populer pada saluran media digital dan media sosial.

Di era digitalisasi ini mungkin soal kualitas bisa menjadi esensi ataupun sebaliknya tidak memberikan esensi. Tapi pemanfaatan kuantitas penyebaran konten akan menjadi harapan utama. Bisa jadi kualitas juga akan memberikan pengaruh terhadap kuantitas penyebaran (traffic) atau sebaliknya kuantitas penyebaran konten akan memicu pandangan soal kualitas konten.


Sekedar Saran Terhadap Qureta: Passion dan Honorarium

Digitalisasi pemikiran dengan platform menulis online mungkin berkaitan dengan blog dan juga istilah literasi digital. Pengertian yang paling relevan saat ini, literasi digital sebagai pengetahuan dan kecakapan dalam menggunakan dan memanfaatkan media digital, alat komunikasi, jaringan internet. Literasi digital maka saat ini bisa berbentuk media sosial, berita online, media online, blogging atau platform menulis online.

Berita online dapat digambarkan sebagai koran digital yang memiliki berbagai liputan berita maka media online mungkin lebih dominan soal opini, perspektif, atau bahkan asumsi. Di titik tertentu media online bisa jadi sama dengan berita online.

Platform menulis online adalah hal yang cukup menarik. Mungkin kita menamakan demikian untuk sekedar membedakan atau mengerucutkan dari media online atau berita online. Tapi platform menulis online mungkin pengembangan “makro” dari blog pribadi ataupun blog niche. Di titik ini platform menulis online adalah digitalisasi pemikiran sekaligus diskursus gagasan secara kolektif baik yang menyediakan sarana pengguna ataupun postingan dari admin semata.

Qureta dalam websitenya menjelaskan dirinya sebagai sebuah inisiatif untuk merawat dan mengembangkan tradisi literasi di Indonesia. Qureta menggambarkan dirinya untuk memberikan ruang kepada para penulis untuk menyiarkan ide mereka secara lebih mendalam dan sistematis. Secara mendasar, kita dapat menyebut Qureta sebagai platform menulis online.

Qureta juga mendesain dirinya sebagai sebuah tempat yang nyaman untuk berbagi ide, cerita dan pengalaman. Qureta sekaligus menempatkan dirinya sebagai taman baca masa depan di mana orang berkumpul, mencari dan berbagi informasi dan pengetahuan.

Bagi penulis pemula mempublikasi tulisan dan mendapatkan honorarium adalah kebahagian. Tertulis dalam blog Qureta bahwa sejak 1 Desember 2018, Qureta memberlakukan sistem honorarium kepada penulisnya, yang ditentukan berdasarkan view. Setiap artikel yang telah mencapai 5000 view atau lebih berhak mendapatkan honor, yang jumlahnya akan ditentukan oleh dewan redaksi.

 

Sekedar saran untuk Qureta, pertama adalah ketimbang menggunakan view blog atau jumlah kunjungan pada tulisan pengguna lebih baik Qureta mengembangkan pembayaran sistem honorarium kepada jumlah tulisan pengguna (kuantitas). Atau misalnya Qureta menentukan minimal jumlah tulisan yang dipublikasikan anggota Qureta (pengguna) sebagai batas dasar dalam pembayaran honorarium. Paling ideal menurut kami dalam intensitas atau jumlah tulisan pengguna (anggota) Qureta adalah 30 tulisan terpublikasi.

Kedua, dengan ditentukan batas minimum publikasi tulisan (untuk dibayarkan) maka tingkat selektivitas pada tulisan yang akan dipublikasi semakin ketat baik dari kualitas tulisan maupun teknis penulisan. Atau sebaliknya Qureta tetap dengan sistem selektif saat ini untuk terus memberikan kesempatan pada penulis-penulis baru dalam menumbuhkan tradisi menulis. Dengan demikian Qureta telah menempatkan diri sebagai penumbuhan tradisi dalam diskursus ide.

Tradisi menulis adalah tradisi gerakan sosial sekaligus diskursus ide walaupun pada akhirnya menulis adalah soal kesadaran sosial tapi pemberian (hadiah atau honorarium) semacam itu adalah pemicu baik untuk penulis-penulis baru atau pemicu dalam menumbuhkan tradisi diskursus ide.