Akhir-akhir ini, ada yang menarik soal diskursus publik yang berkembang mengenai Pancasila. Dalam diskusi yang berlangsung di ILC, Rocky Gerung mengatakan bahwa sila-sila dalam pancasila itu saling bertentangan.

Rocky mencontohkan kontradiksi antara sila pertama dan sila kedua dalam Pancasila. Saya memahami bahwa pemikiran Rocky Gerung yang demikian didasarkan atas cara-cara pemahaman humanisme atheis.

Oleh sebab itu, yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, bagamana diskursus humanisme sendiri dalam tradisi filsafat?

Humanisme dalam tradisi filsafat renaissance merupakan sebuah usaha untuk membebaskan manusia dari belenggu-belenggu agama. Agama dianggap menghalangi manusia untuk dapat mencapai potensi-potensi kemanusiaannya.

Dengan kata lain, arus dominan diskursus humanisme renaissance adalah bentuk reaksi kritis ataupun perlawanan terhadap teosentris ataupun agama. Karena sebelumnya, Barat mempunyai pengalaman buruk dengan dominasi agama (gereja) pada abad pertengahan yang kemudian disebut sebagai abad kegelapan (dark ages).

Meminjam pendapat Budi Hardiman dalam buku Humanisme dan Sesudahnya, humanisme seperti berupaya untuk merebut manusia dari alienasi oleh obsesi masyarakat pada “dunia sana” dan mengakarkannya kembali ke “dunia sini”.

Berangkat dari zeitgeist (jiwa zaman) yang seperti itulah kita akan memahami mengapa terjadi pertentangan yang tajam antara humanisme yang berangkat dari semangat antroposentris dengan teosentris ataupun agama.

Akan tetapi, yang perlu kita pahami lebih lanjut, diskurus humanisme dalam filsafat pun beragam. Ada juga pendapat-pendapat lain yang tidak melulu mempertentangkan secara tajam antara humanisme dengan agama.

Kita bisa melihat, misalnya saja pandangan Jurgen Habermas yang menyatakan bahwa sebenarnya humanisme berakar dari tradisi kristiani yang memandang manusia sebagai imago Dei (citra Tuhan). Dengan kata lain, apa yang disebut sebagai humanisme merupakan bentuk kontinuitas dari tradisi kristiani tersebut.

Selain itu, Martin Heidegger dalam Letter on Humanism, di samping melakukan kritik-kritik terhadap humanisme, pun merenungkan juga bahwa kekeristenan yang memusatkan diri pada keselamatan jiwa adalah sebuah humanisme juga.

Berangkat dari pemaparan di atas, tentu kita bisa menyimpulkan bahwa penafsiran atas humanisme dalam tradisi filsafat amatlah beragam, bukan hanya mempertentangkan secara tajam dengan agama seperti yang dipaparkan oleh Rocky Gerung yang berangkat dari diskursus dominan dalam humanisme.

Menjadi pertanyaan menarik lainnya, yakni “bagaimana penafsiran humanisme yang relevan dalam diskursus Pancasila? Apakah sila pertama (yang menunjukkan semangat teosentris) itu bertentangan dengan sila kedua (yang berbicara soal humanisme)?”

Pertama-tama, kita harus memahami bahwa para founding father kita memang dikenal kuat dalam membaca litetarur-literatur ilmu sosial humaniora, termasuk di dalamnya soal sejarah sosial demokrasi Eropa, yang sudah barang tentu di dalamnya membahas soal-soal humanisme.

Akan tetapi, yang perlu kita bahas lebih lanjut, apakah saat founding father terinspirasi ide humanisme yang kemudian digunakan dalam merumuskan Pancasila, founding father ini menerima begitu saja arus dominan tafsiran humanisme Barat yang mempertentangkan secara tajam dengan agama tersebut?

Jawabannya tidak. Founding father bangsa ini dikenal begitu kritis, sehingga sudah barang tentu mereka melakukan kritik ataupun filterisasi (termasuk dalam soal menyerap ide humanisme ini) untuk kemudian menyesuaikan dengan nilai-nilai dalam masyarakat kita.

Keduanya, apalagi jika kita berbicara dalam konteks sosiologis-historis, pengalaman bangsa Indonesia pun amat berbeda dengan Barat, di mana bangsa kita tidak punya pengalaman sebagaimana yang terjadi di Barat, saat terjadi pertentangan tajam antara agama dengan humanisme, yang terjadi justru: doktrin-doktrin agama itulah yang turut menginspirasi masyarakat kita dan menjadi landasan nilai untuk menjadi manusia yang beradab, dan sebagainya.

Contoh paling nyata, sikap toleransi yang menjadi salah satu inti dari ajaran humanisme justru sudah dikenal sejak masa kerajaan tradisional dan itu bersumber dari semangat teologis, yang berbunyi bhineka tunggal ika.

Dengan demikian, antara sila pertama dan sila kedua dalam Pancasila bisa membentuk suatu bangunan logika yang koheren dan bukannya kontradiksi. Setiap orang bisa disebut sebagai humanis ketika ia membela martabat kemanusiaan (dari mereka yang melecehkannya), dan semangat membela martabat kemanusiaan tersebut bisa berangkat termasuk dari doktrin-doktrin teologis.

Tentunya, manakala doktrin-doktrin teologis tersebut mendapatkan sebuah status epistemis, sehingga memungkinkan terjadi saling pengertian intersubjektivitas. 

Orang seperti Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah contoh nyata, bagaimana sikap humanisme yang ia bangun justru berangkat dari semangat ajaran-ajaran teologis, di mana Gus Dur menafsirkan ajaran teologis (Islam) tersebut tidak sempit hanya untuk kepentingan ekslusif pemeluknya (islam) semata, melainkan untuk kepentingan yang lebih luas lagi, yakni kemanusiaan.

Bahkan, cara saya menafsirkan Pancasila dengan tidak mempertentangkan sila pertama dan kedua tersebut mempunyai basis teoretis juga dalam tradisi filsafat. Salah satu yang bisa dijadikan rujukan, yakni pendekatan reflektif-retrospektif yang digunakan oleh Jurgen Habermas dalam memahami humanisme.

Menurut Budi Hardiman, Habermas memahami humanisme ataupun konsep-konsep penting dalam filsafat maupun humaniora sebenarnya berakar dari tradisi Kristiani. Dengan kata lain, filsafat barat (termasuk humanisme) banyak belajar dari tradisi Kristiani, seperti imago Dei yang berbicara martabat manusia, moral rasional, dan imperatif kategories yang berkembang pada abad pencerahan merupakan hasil destilasi intelektual pemahaman Kristiani tentang suara hati.

Maka saya pun berpendapat, humanisme ataupun tafsiran atas nilai-nilai kemanusiaan dalam konteks Pancasila dapat dikembangkan dari pemahaman-pemahaman teologis ataupun spiritualitas yang memang secara umumnya sudah sangat mengakar dalam khazanah budaya bangsa. Dengan demikian, tidak melulu harus selalu dipertentangkan.

Meminjam pendapat Budi Hardiman, kita perlu mempraktikan apa yang disebut sebagai hermeneutic of suspicion ketika kebenaran agama sedang didekati, mengingat cahaya nalar menjangkau sumber-sumber inspirasi yang paling profetis dalam iman religius untuk dibiarkan bicara bagi kemanusiaan.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa cara-cara ekslusif dalam menafsirkan humanisme, seperti yang dilakukan oleh Rocky Gerung yang berangkat dari pemahamannya atas humanisme sekularisme/ateisme, yang bahkan menyebut ketika movivasi kemanusiaan berangkat dari semangat teologis maka kemanusiaannya adalah kemanusiaan palsu, bahkan mempertengkan secara tajam antara humanisme dan teologis.

Bukankah hal tersebut justru bisa membawa humanisme ke dalam fideisme gaya baru? Mengapa demikian? Karena seakan-akan yang dapat berbicara ataupun menyumbangkan tentang kemanusiaan.

Hanya mereka kalangan humanis ateistis/sekularis dan orang yang berangkat dari semangat teologis ataupun sumber-sumber inspirasi profetis tidak dapat berbicara dan menyumbangkan untuk nilai-nilai kemanusiaan ataupun yang diperjuangkan oleh humanisme itu sendiri.