Wanita identik dengan sifat keibuan, penuh kasih sayang, dan juga anggun. Dunia memandang wanita bak sebuah bunga yang memiliki berbagai macam warna sebagai persona dari tiap-tiap wanita itu sendiri. 

Terlepas dari beberapa hal tadi, wanita tentunya juga memiliki ketangguhan dan bahkan mampu menjadi pemimpin, baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri.

Akan tetapi, dunia -terutama kaum yang terlanjur menganut paham patriarki dan misoginis- kerap kali memandang wanita sebelah mata. Beberapa dari mereka tidak jarang mengaitkan wanita sebagai sosok yang lemah dan juga lebih rendah dari kaum pria. 

Wanita terkadang menerima sebuah kritik terhadap suatu hal yang seharusnya bukan merupakan masalah besar dan dapat dilakukan oleh siapapun, terlepas dari siapa orang tersebut: pria atau wanita. Muncul anggapan bahwa wanita yang berkarir menyalahi tanggung jawab mereka. Wanita juga mengalami dilema akibat konstruksi sosial yang memiliki pandangan miring terhadap mereka yang lebih fokus untuk berkarir dibandingkan menikah

Wanita sudah seharusnya berdiam di rumah dan mengurus anak. Wanita tidak perlu bersekolah setinggi-tingginya. Toh, pada akhirnya mereka hanya jadi tukang masak bagi suami dan anak.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Usut punya usut, akar permasalahan sebenarnya hadir oleh miskonsepsi yang telah lama mengakar di masyarakat kita. Sebagian besar memiliki anggapan bahwa berkarir, mencari nafkah, dan melakukan pekerjaan tertentu haruslah dibatasi kepada kaum pria saja. Pemikiran seperti ini tidak murni hanya dimiliki oleh pria saja. 

Mirisnya, masih banyak wanita yang memiliki pemikiran serupa dan mengakibatkan generasi penerusnya harus menelan mentah-mentah pil pahit yang merupakan buah dari pemikiran konservatif generasi terdahulu.

Pemikiran ini berasal dari sebuah sistem sosial, yakni patriarki. Budaya patriarki sebagai sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai otoritas tunggal (Charles E, Bressler, 2007). Apabila ditelisik dari jauh, terdapat banyak faktor lain yang turut andil dalam mempengaruhi bagaimana pemikiran patriarki yang mengakar kuat di masyarakat konservatif.

Pertama, minimnya pemberdayaan terhadap wanita mengenai kesetaraan gender. Dalam perkembangan anak-anak, pemberian pendidikan mengenai kesetaraan gender sangatlah penting. 

Pengetahuan akan konsep kesetaraan gender dapat membantu anak terutama kepada anak perempuan dapat mengajarkan bagaimana mereka dapat mengetahui value yang mereka miliki. 

Perlu kita ketahui bahwa pernikahan dini bagi anak bukanlah sesuatu yang menentukan value mereka sebagai wanita. Sudah seharusnya wanita dapat memilih dan merencanakan masa depan sesuai dengan keinginan mereka.

Kedua, toxic masculinity yang terdapat pada pria dapat menjadi dorongan bagi pria untuk memanipulasi wanita dan memberikan pandangan bahwa wanita tidak seharusnya melebihi pria yang terkadang diberi narasi tambahan berupa “Wanita yang lebih pandai dibandingkan pria tidak akan bisa memperoleh jodoh”.

Mereka melakukan ini semata-mata untuk melindungi rasa maskulinitas dan menutupi perasaan insecure akan ketidakmampuan yang mereka miliki. 

Wanita berhak memperoleh pendidikan setinggi mungkin dan juga berkarir di bidang apapun tanpa harus memiliki kekhawatiran, sebagaimana pria yang berkarir di kehidupan. Berbagai macam bidang dapat dilakoni baik pria maupun wanita tanpa terkecuali.

Ketiga, pemikiran misoginis yang berkembang di antara para wanita. Berbagai macam persona yang dimiliki wanita tentunya akan menjadi sebuah harmoni yang indah apabila didukung dengan dukungan antara wanita satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, lahirnya pemikiran misoginis yang merupakan imbas lain dari budaya patriarki. 

Misoginisme lahir akibat kebencian terhadap wanita. Pelakunya tidak hanya dari kalangan wanita saja, tetapi juga bisa berasal dari wanita. Misoginisme memandang rendah wanita dan melakukan berbagai macam cara untuk membungkam wanita. 

Sangat disayangkan bahwa pelaku misoginis tidak jarang berasal dari sesama wanita. Wanita-wanita yang memiliki pandangan misoginisme cenderung merendahkan wanita lain untuk membuat anggapan bahwa dirinya lebih baik daripada wanita yang ia rendahkan. 

Perilaku misoginisme dengan mudah mengecap wanita sebagai objek yang rendah hanya dari penampilannya (Ukockis, 2019).

Berbagai narasi yang muncul akibat pemikiran patriarki dan misoginis menempatkan wanita di dalam sebuah dilema berkepanjangan. Wanita menjadi kekurangan rasa percaya diri dan sulit menyuarakan haknya di depan banyak orang untuk memperoleh keadilan. 

Atas dasar latar belakang dan permasalahan yang sama, wanita-wanita di seluruh dunia bersatu dan bersama menggaungkan women empowerment lewat narasi “Women supporting women”.

Melalui gerakan ini, wanita di berbagai belahan dunia bersama-sama memperjuangkan kesetaraan gender sebagai upaya menghapuskan budaya patriarki dan misoginisme terhadap kaum mereka. 

Dengan adanya gerakan ini, diharapkan bahwa seluruh wanita di dunia memiliki kebebasan berekspresi dan juga melakukan segala hal tanpa memperoleh cap negatif akibat latar belakang mereka dan gender mereka sebagai wanita. 

Sudah sepatutnya tidak ada pembatasan dan juga ketimpangan di masyarakat mengenai peran wanita maupun pria di dalam masyarakat.