Mahasiswa
4 bulan lalu · 91 view · 6 menit baca · Hukum 83102_36101.jpg
Dok. Pribadi

Diskriminasi Penutup Kepala dan Alas Kaki

Setiap orang, dengan bermacam latar belakang, dengan bermacam suku dan ras, dengan bermacam agama dan budaya, mau tidak mau harus mempersiapkan diri mereka dari satu kata sederhana namun kerap sekali memicu kontroversi yaitu “Perbedaan.” Melalui satu kata perbedaan tadi, orang-orang menjadi semakin latah dengan ungkapan “Ketidak adilan, pemaksaan, perlawanan, serta diskriminasi.”

Diskriminasi adalah sebuah tindakan yang kerap sekali terkesan memaksakan sesutau kepada seseorang, atau sekelompok orang yang kemudian dikait-kaitkan dengan perbedaan. Pertanyaannya, apakah setiap gejolak yang dikait-kaitkan dengan perbedaan tadi adalah merupakan sebuah wujud dari tindakan diskriminasi?

Tidak meyakinkan sekali rasanya jika harus membahas mengenai diskriminasi diatas altar sebuah dongeng, namun jika begitu adanya, anggaplah ini sebuah deskripsi imajinatif saja.

Sepasang Sepatu Merah Karen

Karen (Tokoh utama dalam dongeng yang berjudul, Kutukan Sepasang Sepatu Merah), diceritakan bahwa dirinya hanyalah sesosok anak kecil yang miskin dan hidup sebatang kara. Tidak memiliki apa-apa selain sepasang sepatu Merah kesayangannya.

Pada suatu ketika, Ratu dari sebuah Istana menginginkan Karen agar ikut bersamanya. Karen pun memilih untuk ikut bersama dengan sang Ratu, meski ia harus merasa kehilangan sepasang sepatu Merah yang baru saja dibakar oleh Ratu tersebut hanya dengan alasan ia tidak menyukainya dan Karen tidak lagi boleh mengenakan sepatu berwarna Merah.

Setelah tinggal di Istana, Karen kerap sekali diajak bepergian oleh Ratu. Bahkan mereka mengunjungi toko-toko sepatu yang khusus menjahit sepatu untuk keturunan bangsawan. Kala itu, Ratu memang sudah sangat tua, bahkan penglihatannya sudah tidak lagi jelas. Karen mulai memanfaatkan keadaan tersebut dengan meminta sepasang sepatu berwarna Merah kepada Ratu, dan Karen berhasil mendapatkannya. 

Suatu hari, Ratu membawa Karen untuk pergi beribadah, hanya saja yang terjadi selama ibadah berlangsung, Karen mulai merasa tidak fokus, ia yang semula merasa tidak bisa berdansa kini mulai menggerak-gerakan kakinya dan melekuk-lekukan tubuh layaknya seseorang yang mahir berdansa.

Hingga pada akhirnya, Ratu yang selama ini sudah mengurusi dan memberikan kebahagiaan berupa materi dan perhatian penuh pada Karen jatuh sakit. Ia sama sekali tidak menginginkan apa-apa melainkan Karen yang selalu ada disisinya, untuk merawatnya saat ini.

Lalu apa yang membuat Karen terlihat sangat bimbang? Undangan pesta. Ia merasa bahwa dirinya harus berdansa dan menunjukkan kemampuannya saat menari menggunakan sepatu Merah itu. Maka dengan hati yang sedikit berat, Karen tetap memilih untuk pergi dan meninggalkan Ratu untuk beberapa saat.

Singkat cerita, Karen kian tak terkendalikan. Ia tak henti-hentinya berdansa bahkan meninggalkan lokasi dimana pesta berlangsung. Karen kecil bahkan menari-nari hingga masuk ke Hutan sedang sepatu itu sama sekali sudah tidak bisa ia lepaskan.

Berhari-hari lamanya ia menari tanpa henti di tengah-tengah hutan belantara dan merasakan lelah juga ketakutan hingga akhirnya saat sepatu itu sudah berhasil terlepas dan Karen hendak kembali ke Istana, sang Ratu telah meninggal dunia. Sungguh tindakan ceroboh yang pada akhirnya harus menyisakan luka.

Penutup Kepala (Kerudung) Miftahul Jannah

Lalu berlanjut pada kisah seorang atlit Judo yang akhir-akhir kerap sekali disebut namanya dan tidak lupa dibubuhi embel-embel diskriminasi di belakangnya. Miftahul Jannah, adalah seorang gadis Muslim, kelahiran 4 Mei, 1997 di Aceh. Semestinya, pada tanggal 8 Oktober 2018, Miftahul Jannah bertanding melawan Judoka asal Mongolia, Oyun Gantulga, pada kelas 52 kg di Jakarta International Expo.

Namun, ia tidak dibenarkan tampil dengan alasan tutup kepala (Kerudung) yang dikenakan oleh gadis tersebut.

Secara tertulis, telah disampaikan berikut peraturan dalam cabang olahraga Judo : Rambut panjang harus diikat sehingga tidak menimbulkan ketidak nyamanan pada kontestan lainnya. Rambut harus diikat dengan pita rambut yang terbuat dari karet atau bahan sejenis dan tidak ada komponen kaku atau logam. Kepala tidak boleh ditutupi kecuali untuk pembalutan yang bersifat medis, yang harus mematuhi aturan kerapian kepala.

Memang benar, kasus serupa pernah terjadi dulunya pada seorang atlit yang berasal dari Arab Saudi pada ajang Olimpiade 2012 London. Saat itu, Judoka Wojdan Ali Seraj Abdulrahim Shaherkani sempat dilarang bertanding karena penutup kepala (Kerudung). Pada akhirnya, Komite Olimpiade Internasional (KOI) Arab Saudi mencoba merundingkan masalah dengan IJF. Jalan tengah pun ditemukan, ia diizinkan bertanding setelah memodifikasi jilbabnya seperti penutup kepala yang dipakai perenang saat berlaga.

Itulah yang menjadi salah satualasan kenapa Miftahul Jannah masih tetap bertahan untuk datang ke arenapertandingan, dengan harapan-haapan lain yang tetap menjadikan dirinya bisabertanding, atau setidaknya, saat ia memilih untuk terdiskualifikasi,atlit-atlit yang juga mengenakan kerudung lainnya, tetap mempertahankan prinsipyang mereka pegang teguh sebagai seorang Muslim.

Dan sejatinya, Miftahul Jannah sudah tau bahwa dalam perlombaan Judo memang tidak dibenarkan menggunakan penutup kepalas jenis apa pun termasuk kerudung.

“Memang saya sudah tahu, tapi mungkin ada peluang untuk tampil dengan tetap memakai hijab, saya juga sudah mendengar sejak technical meeting sebenarnya, dan saya sudah berkomitmen untuk tidak bertanding jika dibuka.” (TEMPO.CO)

Selain itu, Beberapa bahaya yang dapat ditimbulkan jika mengenakan penutup kepala saat pertandingan Judo menurut Galih (2018), diantaranya :

Gerakan Judo yang dinamis menjadikan penggunaan penutup kepala rawan cedera leher. Ada banyak sekali gerakan di dalamnya mulai dari bantingan sampai mengunci sendi. Fakta tersebut menjadi salah satu alasan kenapa memakai penutup kepala (Kerudung) begitu dilarang di pertandingan Judo. Pasalnya, lewat gerakan untuk menjatuhkan lawan kain penutup kepala rawan membuat pemakaiannya mengalami cedera.

Penggunaan jilbab rawan dimanfaatkan lawan dalam melakukan serangan. Dalam pertandingan Judo ada gerakan cekikan dan bergulat di bawah, sehingga kain penutup kepala dapat dimanfaatkan untuk menumbangkan lawan. 

Diskriminasi Penutup Kepala dan Alas Kaki  

Kali ini,penulis sendiri akan lebih berorientasi kepada prinsip dan beberapa perbandingan terhadap pemaparan di atas.

Hal ke 1, Karen merupakan anak kecil yang miskin dan kemudian diajak untuk tinggal di Istanabersama dengan seorang Ratu dimana pertauran yang harus diikuti oleh Karen adalah peraturan-peraturan Istana yang dibuat atau bahkan dibuat-buat oleh Ratu sendiri.

Sedang Miftahul Jannah adalah seorang atlit Muslim pada cabangolahraga Judo yang kemudian ingin mengikuti sebuah pertandingan namun tidak dibenarkan ikut, karena ia tidak mau melepaskan penutup kepala (Kerudung) seperti peraturan yang sudah disepakati oleh dunia internasional.

Hal ke 2, Karen tetap saja keras kepala untuk memakai sepatu Merahnya meski sang Ratu sudah melarangnya berkali-kali, namu Ratu sendiri tidak memberikan alasan kenapa Karen tidak dibolehkan mengenakan sepatu Merah tersebut. Sedang Miftahul Jannah tidak dibenarkan untuk mengikuti pertandingan dengan alasan bahwa peraturan tetaplah peraturan, dan juga membahayakan bagi atlit itu sendiri.

Hal ke 3, Karen tetap bertahan untuk datang ke Pesta dansa dengan sepatu Merahnya, hinggaakhirnya ia menari tanpa henti, menerima ganjaran atas sikap keras kepalanyaselama ini, hingga akhirnya menyesal saat mengetahui bahwa ternyata Ratu sudahmeninggal dunia. Sedang Miftahul Jannah, juga dengan tegas mengatakan bahwadirinya tidak akan mengikuti pertandingan karena tidak mau menyesal baik itu darisegi fisik, atau pun mentalitas nantinya.

Dalam hal ini, penulis berasumsi bahwa sikap Ratu yang terkesan memaksa Karen untuk melakukan ini dan itu serta meninggalkan ini dan itu tanpa alasan pun masihtidak bisa dikatakan sebagai wujud diskriminasi, karena sejatinya sang Ratu memiliki alasan atas keselamatan Karen, hanya saja Ratu tidak menjelaskannya terlebih dulu terhadap Karen. 

Lalu bagaimana dengan peraturan cabang olahraga yang sudah disepakati dunia internasional serta pemaparan bahaya yang dapat disimbulkan? Apakah itu masih wujud dari sikap diskriminasi?

Sikap Karen yang secara sembunyi-sembunyi mengenakan sepatu Merah apakah itu wujud dari sebuah perlawanan? Juga sama sekali tidak, bukankah itu salah satu wujud dari Karen yang menghargai sang Ratu? Ia tidak menentang atau pun memohon kepada sang Ratu agar tetap mengizinkannya untuk mengenakan kembali sepatu Merahnya dan ia melakukan hal tersebut mengingat Ratu yang sudah tidak lagi memiliki penglihatan yang bagus.

Lalu bagaimana dengan sikap Miftahul Jannah atas sebuah penolakan yang secara terang-terangan tidak ingin mengikuti pertandingan jika harus melepaskan penutup kepala(Kerudung)? 

Dirinya melakukan penolakan secara terang-terangan dengan alasan peraturan pun juga telah disampaikan secara terang-terangan bahkan diakui oleh dunia internasional. Apakah sikap Miftahul Jannah merupakan wujud dari sebuah perlawanan? Bukankah gadis itu juga tidak meminta agar peraturannya diganti dan berkobar-kobar agar dirinya tetap bisa bertanding?

Sikap keras kepalayang dimiliki oleh Karen merupakan cerminan bahwa sosok gadis kecil itu memiliki prinsip, hanya saja ia harus menyesal terlebih dulu atas keputusanyang sudah ditetapkannya. Sikap keras kepala yang dimiliki oleh Miftahul Jannah juga merupakan sebuah prinsip yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun,dan ia tidak mau menyesal jika salah-salah mengambil keputusan.

Karena berbicara soal “Prinsip” kata tersebut bukan hanya hak peroroangan saja, namun juga sekelompok orang dan tidak menutup kemungkinan mencakup sebuah komunitas. Miftahul dengan prinsip yang dipegang teguh olehnya, dan cabang olahraga Judo dengan prinsip yang dijunjung tingginya.

Keduanya juga harus saling menghargai satu sama lain, dan kenapa sampai saat ini persoalan tersebut dinyatakan selesai? Karena sikap saling menghargai prinsip. Sehingga untuk kita “Pepara” yang terlalu mudah menyimpulkan dan mengasumsi ini dan itu,sebaiknya sudahi saja penggunaan kalimat penuh kontroversi tersebut jika memang kita belum siap untuk mendasarinya.