Sebelum Ramadan tahun ini, kami sekeluarga kedatangan anggota keluarga baru. Bukan seorang anak manusia, tapi seekor anak kucing. Iya, seekor kucing berumur 5 bulan berjenis Persia jantan.

Kami memperolehnya secara cuma-cuma dari teman kerja Ibu. Warna hitam putih dengan ekor yang panjang. Bulu yang tebal ukuran 3 cm membuat nyaman untuk dielus-elus. Kucing itu ketika datang pertama kali di rumah sudah berbobot 5 Kg. Lumayan berat untuk seukuran anak kucing.

Saat ini, kucing itu diberi tugas untuk menjaga rumah kami. Khususnya dari serangan binatang pengerat yang dikenal mengerikan dan menjijikkan: Tikus. Di rumah kami memang banyak tikus berkeliaran, apalagi ketika malam hari. 

Sebelum ada kucing itu, para tikus itu mencuri sebagian makanan di meja makan sampai membuat sarang di kolong meja komputer. Setelah ada kucing, pasukan tikus gentar berkeliaran di lantai rumah, tapi berpindah tempat ke plafon rumah. Beruntung mereka karena kucing tidak bisa terbang dan tak punya pijakan untuk naik ke plafon rumah.

Sebulan di rumah, kami baru memberi nama kucing kami dengan nama “Cindil”. Iya, Cindil. Sebenarnya sangat tidak tepat memberi nama itu ke kucing kami. Bagi Orang Jawa, Cindil berarti “Anak Tikus”. Sudah bertugas menjaga benteng pertahanan rumah dari serbuan tikus, malah diberi nama yang memiliki unsur tikus.

Tapi, mau bagaimana lagi? Ketika dipanggil “Cindil”, kucing kami itu malah mendekat.

*

Tapi, ada sebuah pergolakan mendasar dalam lubuk hati terdalam. Bukan masalah rumah jadi sepi karena ketidakhadiran tikus-tikus itu, melainkan sistem pengangkatan kucing persia itu sebagai penjaga rumah.

Beruntung kami memperoleh dari teman kerja ibu tanpa mengeluarkan rupiah sepeser pun. Padahal, kami bisa saja merekrut kucing-kucing jalanan yang sering berkeliaran di lingkungan rumah untuk dipekerjakan di rumah kami dengan gratis. Cukup dengan upah makan ikan segar atau makanan khusus kucing.

Alasan yang paling klise mengapa tidak memilih kucing-kucing jalanan itu adalah masalah kebersihan. Semua pasti tahu bahwa kucing-kucing jalanan tidak ada yang dirawat langsung oleh warga. Mereka dibiarkan begitu saja. Cari makan di tempat sampah, gorong-gorong, atau tempat yang jorok.

Mandi tidak pakai air bersih, hanya dengan menjilat-jilatkan lidahnya ke badannya sendiri. Tempat tinggal mereka nomaden dari got satu ke lainnya. Padahal, mungkin saja daya juang untuk mengusir tikus lebih besar dan lebih tangguh dari Cindil.

Memang semua itu dimulai dari pandangan pertama dulu: Penampilan. Cindil datang ke rumah dalam keadaan sangat bersih. Bulu-bulunya tidak mudah rontok walau dielus-elus. Good looking kesannya. Berbeda dengan kucing jalanan yang lusuh, bulu-bulu mudah rontok. Sangat tidak menarik perhatian.

Itu salah satu bentuk diskriminasi manusia kepada kucing jalanan. Kucing jalanan bisa saja terlihat sangat menawan kalau kita mau untuk merawatnya. Memandikannya dengan sampo, memotong kuku panjangnya, dan memberinya makanan.

Bisa juga kami beri nama yang baik untuk sekadar bersapa dengannya. Mempersiapkan sebuah kamar mandi dari pasir yang higienis untuk sekadar buang air si kucing. Namun itu semua telah dikalahkan oleh mata yang menipu dan menghalangi hati untuk mau merekrutnya.

Baru dari segi penampilan. Ketika kucing jalanan meminta makanan sedikit saja, pasti kita dengan segera mengusirnya tanpa rasa kasihan. Padahal yang diminta sedikit, tidak sampai 5% makanan yang kita konsumsi.

Coba kalau kucing mewah seperti Persia, Hungaria, Angora, atau lainnya. Belum minta makan saja sudah dibelikan berbungkus-bungkus. Sekali mengeong langsung disiapkan makanan di tempat yang tersedia. Beda dengan Kucing Jalanan yang saat mengeong malah kita usir.

Belum lagi kalau kita sudah di puncak kekesalan. Amarah kita langsung dilampiaskan ke kucing-kucing yang tak berdosa itu. Contohnya pemukulan dengan tongkat sapu. Dipukul tongkat sapu saja kita menjerit kesakitan, apalagi kucing yang kecil tak berdaya itu?

Selain itu, ketika diusir dengan cara disiram air kotor. Kita saja saat ulang tahun diguyur dengan air sampah langsung gatal-gatal, bagaimana dengan kucing yang tidak bisa membersihkan seluruh badannya sendiri?

Kasus penyiksaan terhadap kucing masih terus terjadi di Indonesia. Entah yang terekspos media atau tidak, dengan korban kebanyakan kucing jalanan.

Paling baru yaitu kasus penyiksaan kucing dengan pemberian minuman sejenis ciu. Kita tahu Ciu mengandung kadar alkohol yang tinggi. Namun entah sengaja atau tidak, oknum itu memberikan ciu yang secara fisiologis tak mampu mencerna alkohol sebanyak 1 gelas. Akhirnya kucing itu meninggalkan kita semua dengan tragis.

Hal tersebut menimbulkan kesan bahwa ada sebagian wilayah di Indonesia tidak ramah akan kehadiran kucing. Lalu apakah ada negara yang ramah kucing? Tentu saja ada.

Ambil saja contoh negara yang memberlakukan kucing jalanan layaknya kucing rumahan. Negara tersebut bernama Turki.

Sering kita lihat di timeline media sosial bahwa kucing-kucing di Turki hidup bebas berdampingan dengan masyarakat. Mereka dirawat dengan sangat baik. Diberi makanan yang bergizi, diberi bantuan tempat tinggal, dimandikan, dan lain-lain. 

Lebih mengesankan lagi ketika melihat kucing jalanan bebas berkeliaran di dalam rumah ibadah, terutama masjid. Jemaah masjid di sana tidak keberatan akan hadirnya kucing-kucing itu, walau sudah masuk waktu ibadah salat. Padahal, rumah ibadah seperti masjid harus bersih dari najis. Tapi memang faktanya kucing-kucing jalanan di sana terlihat sangat terawat dan jauh dari kesan najis.

Kisah kucing yang terkenal dari Turki bernama Tombili. Kucing dengan postur gendut nan imut ini pernah digunakan sebagai tokoh meme yang mendunia. Adegan duduk santai di pinggir jalan Kota Istanbul membuat kucing ini terkenal di mana-mana.

Namun, akhir tahun 2016, Tombili mengembuskan napas terakhirnya karena sakit yang parah. Masyarakat Istanbul bersepakat untuk membuat Patung Perunggu Kucing Tombili sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasanya yang memopulerkan Turki sebagai negara yang ramah kucing.

*

Memang sebuah penampilan dan kesehatan hewan peliharaan, khususnya kucing, membentuk kesan lingkungan rumah yang bersih dan jauh dari penyakit. Itu faktor utama pemilihan hewan peliharaan.

Tapi, apakah dengan begitu sikap kita ke kucing-kucing jalanan berbeda dengan kucing peliharaan kita? Kucing jalanan tak mungkin punya daya untuk dilahirkan sebagai kucing aristokrat atau sebangsanya. Mereka juga ingin hidup normal. Diperlakukan dengan baik dan dicintai oleh makhluk lainnya, khususnya manusia. 

Inilah salah satu bentuk ujian bagi manusia bagaimana bersikap untuk adil terhadap lingkungan sekelilingnya. Terlebih kucing-kucing jalanan ini sering hadir dalam kehidupan sehari-hari kita.

Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Cindil sudah makin dewasa. Dia sudah cukup umur dan layak untuk melakukan perkawinan dengan lawan jenisnya. Semoga dia segera mendapat jodoh yang baik, kawin, dan beranak pinak. Membentuk keluarga kucing yang bebas dari tirani manusia.