Tidaklah terlalu jelas tentang kapan sebenarnya masyarakat mengetahui ada perbedaan antara agama langit (samawi) dan agama bumi (ardy), kategori-kategori seperti ini baru muncul belakangan dan bukan muncul sejak awal lahirnya Islam. Kalau kita membaca Alquran dan Hadits, tidak ada penjelasan yang pasti tentang adanya kategori agama samawi dan agama ardy.

Terlebih kalau kita melihat sejarah kemunculan agama-agama di berbagai belahan dunia, hampir seluruh agama bermula dari permenungan yang bersifat individual dan dari kontemplasi yang bersifat privat. Baru kemudian menyebar menjadi milik komunal, lalu menjadi miliki publik secara keseluruhan.

Mari kita lihat bagaimana kehadiran agama Islam 14 abad yang lalu. Ketika usia Nabi Muhammad menjelang 40 tahun, dia memiliki kebiasaan datang ke gua Hiro’ untuk bermeditasi atau merenung. Di tempat inilah, selang beberapa hari, Nabi Muhammad mendapatkan wahyu yang selama ini kita kenal dengan surat Iqra’ atau Al-Alaq.

Wahyu pertama ini kemudian disampaikan oleh Nabi kepada orang-orang terdekatnya, maka Khadizah pun mengatahui tentang wahyu ini dan beberapa sahabat lainnya. Makin lama makin banyak orang yang percaya terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi, kemudian membentuk sebuah komunitas masyarakat Islam, lalu makin lama makin melebar, hingga sekarang ini tak kurang dari 1,5 miliyar penganut agama Islam di seluruh dunia.

Hal yang sama juga dialami oleh agama Kristen, yang pada mulanya kekristenan muncul lebih merupakan permenungan pribadi dari Nabi Isa atau Yesus Kristus. Agama Budha juga begitu, lebih merupakan permenungan pribadi dari pendirinya Sidarta Gautama, yang kemudian melahirkan agama Budha di India.

Dengan demikian, pada mulanya seluruh agama merupakan hasil komunikasi manusia dengan Allah dan hasil komunikasi manusia dengan langit. Seluruh agama pada mulanya sebenarnya agama langit. Tapi ketika hasil dari agama langit itu diterjemahkan, disebarkan, dan diajarkan, maka seluruh agama kemudian menjadi agama bumi, atau yang disebut dengan agama ardy.

Tapi dalam perkembangan selanjutnya, seringkali sebutan agama bumi dikenakan pada agama Timur, yakni agama-agama yang muncul di daerah India dan Cina, agama yang muncul bukan dari kawasan Timur Tengah. Ini seperti ingin menunjukkan ada semacam diskriminasi cara pandang terhadap agama-agama yang muncul bukan dari kawasan Timur Tengah.

Seakan-akan agama langit dikesankan sebagai agama yang paling benar dan agama yang merujuk kepada ajaran ketuhanan. Sementara agama bumi, seakan dikesankan, dibangun, dan dibentuk murni oleh manusia sendiri tanpa campur tangan Tuhan, padahal di situ juga ada hasil inspirasi dan komunikasi antara manusia atau pendiri agama dengan Tuhannya.

Masalah yang seringkali muncul adalah agama bumi itu disematkan juga kepada agama yang tidak memiliki kitab suci. Bila kita belajar sejarah, seluruh agama Semitik, mulai dari Yahudi, Kristen, dan Islam, bukan hanya memiliki tokoh suci yang disebut dengan Nabi, tapi juga pada saat yang sama memiliki kitab suci.

Itu sebabnya, agama-agama lokal di Nusantara yang tidak memiliki kitab suci, sekalipun mereka memiliki tokoh suci, umat yang banyak, dan memiliki hari suci, tapi karena mereka tidak memiliki kitab suci maka banyak orang tidak mau menyebut keyakinan mereka sebagai agama, pemerintah pun juga begitu, mereka lebih sering disebut sebagai aliran kepercayaan.

Cara pandangan yang bias dari agama-agama Semitik seperti ini, melalui sebutan agama langit bagi agama yang memiliki kitab suci, haruslah diubat untuk memberikan perhatian yang lebih wajar dan bijak kepada agama-agama lokal, yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Meski sekarang jumlah penganutnya terbilang relatif kecil, agama lokal ini ternyata sangat banyak jumlah alirannya, ada yang menyebut lebih dari seratus model atau aliran yang berbeda-beda dari sabang sampai merouke. 

Agama-agama ini dikreasikan dan tumbuh murni dari orang-orang Indonesia sendiri, harusnya mereka memiliki hak yang lebih baik dari agama-agama impor untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana hak yang dimiliki oleh agama-agama lain, yaitu agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan seterusnya.

Agama-agama lokal memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah, sehingga mereka bisa menjalankan ibadah ritual dengan sangat baik tanpa gangguan dan tindakan diskriminasi dari kelompok agama-agama lain yang umumnya merasa paling benar dan lebih suci. Inilah sikap keterbukaan dan toleransi yang harus terus diupayakan, sebab keyakinan mereka sudah ada duluan sebelum kehadiran agama-agama lain di Nusantara.

Komitmen keterbukaan ini haruslah dimulai dari diri kita sendiri, untuk terus mengembangkan sikap saling mengormati dan menghargai. Lebih-lebih bila sikap ini diteruskan untuk saling mengetahui dan belajar tentang keyakinan macam apa yang mereka miliki.

Selain menambah wawasan keilmuan, juga sekaligus sebagai upaya untuk menjaga khazanah kenusantaraan yang sangat kaya akan budaya-budaya lokal dan, tidaklah elok bila keyakinan mereka dihancurkan atas nama kebenaran agamanya masing-masing, yang pada hakikatnya kita pun tidak tahu keyakinan yang seperti apa yang nantinya akan benar-benar diridhoi oleh Allah SWT.