“'Kalian tuh Islam! Islam kafir salat di masjid! Kafir! Kafir! Allahuakbar!'

Pekikan di atas adalah sepenggal kalimat sadis yang dilontarkan oleh pelaku penusukan anggota Brimob. Peristiwa tersebut terjadi seusai salat Jumat di masjid Falatehan, Jakarta Selatan.

Kata kafir tidak hanya kali ini saja terdengar, tapi sudah cukup familiar. Kata ini biasanya cenderung untuk mendiskriminasikan suatu golongan/kelompok tertentu yang dianggap berseberangan dalam pandangan keagamaan.

Kata tersebut semakin eksis ketika mencuat kasus Ahok yang dianggap menistakan agama Islam, meskipun Ahok secara pribadi mengakui tidak berniat menistakan agama tertentu melalui ucapannya. Ahok pun telah meminta maaf.

Banyak pihak menganggap tindakan Ahok sebagai salah ucap semata dan tidak menganggap bahwa itu penistaan agama. Itu jika dilihat dari sudut pandang penggunaan tata bahasa.

Namun, berhubung situasi politik tengah bergejolak, maka terdapat kepentingan-kepentingan politik yang kemudian memakai baju agama untuk memanfaatkan kasus tersebut. Ini dimanfaatkan demi keuntungan kelompoknya.

Persoalan agama memang persoalan yang cukup sensitif ketika disinggung. Karena, banyak penganut agama yang cenderung menganut eksklusivisme. Bahwa apa yang dianut atau apa yang dipercayai adalah yang paling benar.

Hal ini pula yang menyebabkan banyak di antara umat Muslim yang akhirnya membenci Ahok dan pendukungnya, dan menyebut mereka dengan kata “KAFIR”.

Tidak hanya itu, bahkan sesama saudara kandung, hanya karena beda pemahaman tentang siapa calon yang akan dipilihnya, maka tak jarang mereka saling mengkafirkan.

Namun, di sini yang tidak kalah mengherankan adalah definisi kafir daalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Di kamus ini, diungkapkan bahwa kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya.

Jelas, untuk konteks Indonesia, dengan ideologi Pancasila dan masyarakat yang plural, hal ini sangat tidak relevan. Negara (secara resmi) mengakui 7 agama yang hidup di Indonesia. Belum lagi, agama-agama lain serta penganut kepercayaan. Tetapi KBBI, dalam hal ini, justru memberi batasan kata "kafir" sebagai pengingkar Allah dan Rasul-Nya, yang berarti ini hanya untuk kalangan Muslim.

Jika diteliti lagi, hanya umat Islam yang mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan mereka. Lantas, bagaimana dengan saya yang Kristen, dengan saudara- saudara saya lain yang beragama Budha, Katholik atau Hindu? Kafirkah kami?

Cukup mengejutkan memang ketika KBBI yang seharusnya tidak boleh diskriminatif, namun dalam kasus ini, nampak memandang hanya kepada satu agama saja.

Menelisik lebih jauh menurut Wikipedia, KBBI adalah kamus resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kedudukan kamus ini menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia yang baku.

Undang-undang Dasar 1945 menempatkan bahasa Indonesia pada posisi yang amat kuat. Bab XV Pasal 36 menyatakan, “Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia.” Di sini, bahasa Indonesia bukan saja sebagai bahasa penghubung, melainkan menjadi bahasa resmi kenegaraan.

Dibentuknya KBBI sebagai suatu produk negara untuk umum berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila bukanlah tanpa dasar. Mengapa demikian? Karena pada kenyataannya, Indonesia adalah Negara kesatuan dengan memiliki kurang lebih 18.000 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, sehingga di sana terbentuk kumpulan-kumpulan masyarakat dengan perbedaan suku, agama, etnis, dll.

Bahkan menurut Wikipedia, Indonesia memiliki 748 bahasa yang berbeda. Di sini, negara hadir untuk mempersatukan dan mengikat seluruh rakyat Indonesia melalui pasal 36 UUD 1954 di mana pasal tersebut berbunyi: “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.“

Di tengah perkembangan zaman yang sangat cepat dan dinamis, tentunya banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk dari segi bahasa, terutama dalam bidang kosa kata Bahasa.

Menarik memang, KBBI seolah hadir sebagi suatu solusi yang amat sangat tepat untuk menjawab setiap kosa kata bahasa Indonesia yang hendak dicari maknanya.

Namun, sangat berbahaya ketika KBBI melalui penjelasan kata “kafir”, menerjemahkan bahwa kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya. Di sini, konteksnya sangat sempit kerena yang percaya Allah dan rasul hanyalah umat Islam.

Di sini juga, jelas terjadi suatu pengkhianatan terhadap nilai-nilai pertama Pancasila, bahwa Tuhan itu disebut dengan secara umum melalui ke-Esa-annya.

KBBI diakses oleh kalangan pelajar, dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi. Lalu, apabila ada penafsiran yang seolah mendiskriminasi kalangan tertentu, apakah tidak khawatir jika efek dari penerjemahan ini adalah melahirkan kalangan tertentu yang kemudian mengangap orang di luar agama Islam dianggap kafir? Ini juga bisa menjadi pemicu terjadinya perpecahan.

Diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan kini semakin menyeruak dan menimbulkan dampak yang cukup meluas dan berbahaya. Hendaknya ini disiasati dengan baik oleh pemerintah, termasuk oleh para penyusun KBBI yang memproduksi kamus bahasa bagi publik.

Hendaknya para penyusun KBBI lebih selektif dan melakukan koreksi serta pertimbangan dari berbagai ahli terkait, agar kesan diskriminatif dapat diminimalisir, dan, kalau boleh, dihilangkan.

Dengan demikian, pita bertuliskan Bhineka Tunggal Ika yang dicengkeram sang Garuda tidak hanya menjadi semboyan pemanis semata, melainkan dapat menjadi semboyan pemersatu bangsa.