Kalau mengikuti adat Eropa, jika ada seorang lelaki berjalan bersama-sama dua orang perempuan, yang lelaki meski berjalan di tengah dan kanan-kirinya diapit perempuan.” - Student Hidjo, 1919.   

Karya sastra lahir tidak berada dalam kekosongan budaya, tetapi pasti muncul pada masyarakat yang telah memiIiki tradisi, adat-istiadat, konvensi, keyakinan, pandangan hidup, cara hidup, cara berpikir, pandangan tentang estetika, dan lain-lain yang kesemuanya dapat dikategorikan sebagai wujud kebudayaan.

Sastra yang lahir dalam sebuah masyarakat dalam banyak hal akan mencerminkan keadaan kehidupan sosial budaya masyarakat itu. Pesan-pesan yang terdapat dalam karya-karya itu pada umumnya juga berupa nilai-nilai yang ada kaitannya dengan nilai-nilai yang terdapat pada latar belakang sosial budaya masyarakat di mana pengarang hidup dan menjadi salah seorang anggotanya. 

Dalam 'hubungan ini, Abrams (1981) menyatakan bahwa karya sastra mencerminkan kehidupan masyarakat yang secara tak terelakkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya. Jadi, seorang penulis tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh kerangka sosial budaya masyarakat yang telah membentuk dirinya.

Mas Marco dan Student Hidjo

Student Hidjo merupakan roman yang ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo, salah seorang pengarang Indonesia yang karya-karyanya digolongkan sebagai bacaan yang terbit di luar Balai Pustaka atau sering juga disebut sebagai bacaan liar oleh pihak Balai Pustaka.

Karya Mas Marco ini mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda yang bernama Raden Hidjo dan tunangannya, Raden Ajeng Biroe. Raden Hidjo adalah seorang pemuda bumiputera lulusan Hogere Burger School (HBS). Demi masa depan, pemuda ini melanjutkan sekolahnya ke Belanda dengan meninggalkan tunangannya. 

Roman ini selanjutnya mengisahkan bagaimana dua orang pemuda ini mempertahankan cintanya. Raden Hidjo digoda gadis Belanda, Raden Ajeng Biroe juga digoda oleh seorang Controleur Belanda. Namun, roman ini tidak semata-mata hanya menampilkan kisah cinta saja, gambaran sosial masyarakat golongan atas—priyayi—dalam masarakat Jawa—Solo Khususnya—yang sedang mencari identitasnya sebagai warga dunia dengan meniru-niru budaya modern terlihat dengan jelas. 

Di dalam roman ini pasangan muda-mudi ini digambarkan hidup dengan meniru budaya Barat. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Belanda dan bertingkah laku seperti orang-orang Belanda. Juga di dalamnya muncul persoalan-persoalan hubungan antara bumiputera dan Belanda yang diajukan sebagai bahan pembicaraan tokoh-tokohnya.

Diskriminasi Budaya dalan Novel Student Hidjo

Diskriminasi budaya terjadi ketika Hidjo di Belanda. Diskriminasi tersebut sangat jelas sekali antara budaya Jawa dan budaya Eropa. Hidjo sering melancong dengan kedua anak dari orang yang ditumpanginya, seorang gadis bangsa Eropa. Ketika melancong, Hidjo berada di antara dua orang gadis tersebut. Tentu saja karena ia sedang berada di Belanda, ia menggunakan budaya Eropa. Selain itu, budaya Eropa lebih bebas pergaulannya dibandingkan dengan budaya Jawa.

Sekarang Hidjo berada di kalangan dua gadis bangsa Eropa, sudah barang tentu Hidjo harus memakai adat Eropa yang telah beberapa tahun ia jalankan di sekolah H.B.S di Tanah Jawa. Meskipun adat Eropa di Negeri Belanda lebih bebas (vrij) daripada adat Eropa di Tanah Hindia tetapi Hidjo tidak kebingungan tambah kebebasannya.

Selain itu, diskriminasi budaya yang berarti membedakan budaya atau merendahkan budaya terjadi pada saat Hidjo melakukan perjalan ke negeri Belanda. Pada saat Hidjo sedang melihat-lihat panorama dengan tiga orang perempuan. Salah satu gadis mengatakan bahwa orang Jawa bodoh. Diskriminasi budaya tersebut memiliki tujuan untuk merendahkan bahwa budaya dirinya lebih baik dari budaya orang lain.

“Apakah Tuan bodoh?” tanya Anna untuk humor. 

“Ya, saya bodoh,” kata Anna untuk mengguncangkan hati Hidjo, ”Orang Jawa bodoh, cis!” 

“Kamu gila Anna!” kata Jetje. “Kamu tidak tahu adat.”

Tidak hanya itu, diskriminasi budaya pada novel ini terjadi ketika Controleur dan Sergeant Djepris yang hendak sekolah militer pergi ke Belanda. Mereka bertemu di dalam sebuah kapal yang mereka tumpangi. Sergeant Djepris adalah bangsa Eropa yang merupakan seorang serdadu dari Nederland yang tinggal di kampung yang miskin di Amsterdam, dan ia pergi menjadi kolonial (serdadu kolonie). 

Di Hindia, ia telah mendapat pensiun. Dan karena rajinnya ia bekerja, ia menjadi amat kaya. Karena kekayaannya, ia sering menjadi besar kepala. Di kapal tersebut Sergeant Djepris mengatakan bahwa orang Jawa bodoh, kotor, dan malas.

“Ketika mendengar kata-kata Walter itu, Sergeant Djepris naik darah.dan dia berkata “Orang Jawa kotor. Orang Jawa bodoh, orang Jawa malas, orang Jawa tidak beschaafd. Pendeknya orang Jawa atau orang Hindia itu adalah bangsa yang paling busuk sendiri!””

Jika melihat dari diskriminasi tersebut bahwa adanya budaya Timur dan Barat mempengaruhi terciptanya diskriminasi antara Barat dan Timur. Termasuk Indonesia yang pernah dijajah, oleh banga Barat. Timur adalah bangsa yang dijajah dan Barat bangsa yang menjajah. Sehingga muncul pandangan bahwa Barat kuat dan Timur lemah, dalam diskriminasi budaya tersebut membuktikan bahwa Barat superior sedangkan Timur inferior.