Sungguh aneh jika sekolah offline mendadak dirindukan oleh banyak pihak. Padahal sehari-hari kebanyakan merasa malas sekolah. Bahkan mengkritik metode pembelajaran di sekolah yang terkesan “itu-itu saja.”

Entahlah, musim pandemi memang membuat semuanya mudah berubah.

Sebagaimana yang diketahui, pendidikan adalah tempat kursusnya karyawan-karyawan industri. Karena itu, dalam kuliah, anak dibagi dalam jurusan yang sesuai dengan yang ada di manajemen industri (Cak Nun).

Masalah yang sering menghantui dan menjadi ironi bagi pendidikan, khususnya di Indonesia, adalah mindset bahwa pendidikan berbanding lurus dengan kekayaan. Contohnya: Si Joko sangat rajin di sekolahnya, dia mengikuti semua aturan sekolah, namun ketika dia lulus, dia tidak menjadi apa-apa. 

Berbeda nasib dengan Jeki yang dianggap nakal oleh sekolah karena tidak menaati peraturan. Namun ketika lulus, Jeki bisa membangun bisnis dan kaya raya.

Pertanyaannya yaitu: apa sebenarnya peran sekolah dalam kehidupan? Apakah untuk mencerdaskan saja? Apakah hanya untuk mendapat ranking yang dinamai prestasi?

Seingat saya, sekolah dulunya sangat menyebalkan. Setidaknya bagi saya, sekolah hanyalah pencipta aturan baru dan sangat aneh. 

Di sekolah, mereka dibatasi dalam berekspresi dan berkreasi, serta dibatasi untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai. Padahal anak-anak selalu ingin melakukan hal-hal yang sifatnya baru, mencoba hal baru, dan memainkan imajinasinya.

“Harus berprestasi” juga menjadikan peserta didik tertekan secara tidak langsung. Ini dialami oleh peserta didik karena ada anggapan bahwa anak yang baik adalah anak yang berprestasi. 

Budaya kompetisi mewajibkan peserta didik menjadi yang terbaik untuk membuat bangga orang tuanya. Orang tua tanpa sadar ikut merampas hak anak untuk bermain dan mengenal lingkungannya dengan memberi tekanan kepada anaknya serta tuntutan untuk dapat ranking atas

Banyak sekali tugas dan PR bagi para murid. Sehingga waktu untuk belajar menjadi sangat panjang. 

Bayangkan saja, dari pagi sampai sore mereka harus belajar di sekolah, setelah itu pergi ke tempat bimbingan belajar sampai magrib, setelah itu mengerjakan PR sampai ketiduran. Bahkan saking padatnya, sebagian dari mereka ada yang tidur tanpa diucapkan selamat malam (sabar, mblo).

Aktivitas tersebut membuat anak-anak harus menjalani hari-harinya dengan sekuat tenaga. Belum lagi adanya budaya kompetisi yang mewajibkan anak-anak menjadi yang terbaik. Orang tua tanpa sadar ikut merampas hak anak untuk bermain dan mengenal lingkungannya dengan memberi tekanan kepada anaknya serta tuntutan untuk dapat ranking atas. “Kalau mau nyenengin emak, harus dapet ranking atas.”

Seakan emak-emak malu jika punya anak yang tidak berprestasi di sekolah. Bagi emak-emak, yang terpenting adalah anaknya pintar (dengan acuan nilai rapor), meskipun mereka tidak pernah tahu cara apa yang anak ambil sampai bisa di posisi itu.

Kalimat guru yang bilang “nggak papa kamu dapet nilai 5 asalkan itu dari hasil kamu sendiri” itu bullshit. Mana ada juara satu dapet nilai 5? Yang jadi juara tetap mereka yang dapet nilai 10 atau 9.

Pendidikan sekarang itu gimana caranya biar bisa lulus. Gimana caranya dapat nilai bagus. Caranya gimana, terserah. Walaupun nyontek, tapi kalau nilai bagus ya tetap dapat pujian kok. Prinsipnya adalah “terserah dari mana saja dapatnya, yang penting nilainya tinggi”.

Belum lagi masalah pelabelan pada tiap murid. Penyebutan murid nakal dan murid pintar seharusnya perlu dipertanyakan. Mereka seperti itu juga pasti bukan tanpa alasan. 

Apakah yang tidak mengerjakan PR karena memang tidak paham materi disebut nakal? Apakah yang ramai di kelas karena di rumah tidak mendapat perhatian disebut nakal? Apakah yang jarang masuk sekolah karena membantu orang tua bekerja disebut nakal?

Dalam hati orang yang dianggap nakal, pasti mereka berkata, “Tuntunlah kami ke jalan yang benar, tanpa memberi label bahwa kami adalah kegagalan.”

Maka jangan heran kalau pelajaran yang paling disukai murid-murid adalah “pelajaran kosong” alias tidak ada pelajaran. Semua murid pasti senang. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Ya karena kalau pelajaran kosong, mereka bisa bebas mengekspresikan apa yang mereka mau. Harusnya orang tua sadar dong kalau jiwa anak-anak mereka berteriak ingin hidup santuy.

Di masa pandemi seperti sekarang ini seharusnya membuat murid-murid mempunyai banyak waktu dan bisa lebih bernapas lega. Namun, emak-emak tetap merasa kurang puas dengan kondisi anak mereka yang kelihatan lebih malas dibanding ketika sekolah offline.

Saya punya sedikit saran untuk emak-emak, daripada sibuk mempermasalahkan pembelajaran online, mending ayo emak-emak jadikan rumah menjadi sekolah unggulan buat anak-anak kalian. Cobalah mulai memahami apa yang diinginkan anak kalian, bukan apa yang kalian inginkan untuk anak kalian.

Memang sudah saatnya orang dewasa belajar dari anak-anak, atau memang sekolah sebaiknya jam kosong saja setiap harinya.