Perseteruan antara Rusia dengan Uni Eropa (UE) kini kembali menghangat. Bukan mengenai konflik di Ukraina ataupun terkait kisruh politik di Belarusia yang melibatkan sekutu penting Presiden Vladimir Putin, yaitu Alexander Lukashenko.

Kali ini sumber masalahnya justru berada di negara Rusia sendiri, namun membetot perhatian serta kecaman dari Uni Eropa, terutama Jerman. Ini terkait dengan peristiwa diracunnya Alexei Navalny yang merupakan rival politik Presiden Vladimir Putin.

Diberitakan bahwa Navalny diduga keracunan Novichok, sebuah zat pelumpuh syaraf berbahaya saat berada di kota Omsk pada 20 Agustus 2020 lalu. Ia lantas tak sadarkan diri saat berada di pesawat menuju Moskow dan langsung dibawa ke sebuah rumah sakit di Berlin, Jerman, dua hari kemudian.

Para peneliti dari Prancis dan Swedia yang diberikan akses untuk memeriksa sampel air minum Navalny juga makin mengukuhkan bahwa sang pemimpin oposisi diracun oleh Novichok. Tuduhan pun mengarah ke pemerintah Rusia sebagai dalang peracunan tersebut.

Peristiwa ini jelas menjadi babak baru dari konflik klasik antara Uni Eropa dengan Rusia. Hubungan keduanya benar-benar memburuk ketika Rusia secara sepihak mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina pada 2014. Bahkan perang saudara sampai sekarang masih terjadi di Ukraina Timur.

Akibat peristiwa tersebut, UE mengeluarkan sejumlah sanksi ekonomi pada Rusia. Perekonomian negara yang beribukotakan Moskow ini terdampak hebat. Namun walau sanksi telah dikeluarkan, Rusia masih keukeuh tak mau menyerah atau berkompromi

Dan secara tidak langsung, perseteruan ini juga berdampak pada sejumlah proyek kerja sama antara UE dan Rusia. Salah satunya ialah proyek pembangunan pipa gas alam Nord Stream 2 yang membentang sepanjang Laut Baltik dari Rusia hingga Jerman. Ada usulan, atau lebih tepatnya tekanan untuk segera menghentikan proyek ini.

Padahal proses pengerjaan pipa gas bawah laut ini sudah mencapai 94. Bersama dengan pipa Nord Stream pertama yang telah terlebih dahulu rampung, gas yang berasal dari ladang-ladang migas di Rusia bagian utara dan tengah ini akan disalurkan, mulai dari Jerman hingga menuju negara-negara lainnya di Eropa Barat.

Nord Stream bisa dikatakan proyek yang revolusioner. Bagaimana tidak, ia merupakan pipa gas bawah laut pertama yang menyambungkan langsung antara Rusia sebagai produsen dengan konsumennya di barat, dalam hal ini yaitu Jerman.

Ini bisa dilakukan karena ia berada di dalam Laut Baltik dan tak harus melewati negara-negara transit seperti Ukraina atau Belarusia. Pipa tersebut membentang sepanjang 1.222 kilometer dan mulai dikerjakan mulai akhir 2011. Pemegang saham terbesarnya ialah perusahaan energi raksasa Rusia yaitu Gazprom.

Nord Stream terdiri dari beberapa pipa yang secara keseluruhan mampu memasok sekitar 110 miliar kubik gas per tahunnya. Jumlah itu setara dengan sepertiga kebutuhan gas Eropa.

Pipa gas darat memiliki sejumlah kerugian. Selain Rusia mesti memberikan sejumlah komisi pada mereka sebagai negara yang dilewati pipa gas, ancaman konflik di negara-negara tersebut juga bisa saja mengancam kelancaran pasokan.

Sudah sejak lama Eropa Barat mengimpor gas alam dari Rusia. Negara ini memang diberkahi cadangan minyak dan gas (migas) yang melimpah ruah

Apakah dibangunnya pipa ini akan menjadikan negara-negara industrialis di barat Eropa akan makin ketergantungan pada gas Rusia? Apakah mereka jadinya akan mudah disetir oleh Rusia lewat permainan gas tersebut?

Sejumlah pengamat meragukan hal tersebut karena kedua pihak sama-sama ketergantungan dan saling membutuhkan. Eropa butuh gas, sementara Rusia juga butuh uang. Dan perlu diketahui juga bahwa sektor migas merupakan salah satu devisa terbesar negeri beruang merah.

Memang kelihatannya Rusia dapat “mempermainkan” Eropa karena punya kontrol besar atas distribusi gas yang dibutuhkan pelanggannya. Ketahanan energi Eropa Barat akan makin bergantung pada Rusia. Tetapi di sisi lain, apabila Rusia sampai menyetop pasokan, potensi kerugian finansial yang akan ia derita juga tak kalah besar.

Memang tekanan untuk menyetopnya datang bertubi-tubi dari sana-sini, terutama dari Amerika Serikat dan sejumlah negara-negara Eropa Timur dan Tengah. Akibatnya, proses penyambungan pipa yang harusnya selesai pada akhir 2019 ternyata belum rampung juga hingga saat ini.

Namun pada akhirnya, proyek senilai total 11 miliar dollar tersebut akan terus dilanjutkan. Selain karena tinggal enam persen lagi, proyek ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Terlalu berat dan mahal untuk sekonyong-konyong menghentikannya begitu saja.

Uni Eropa juga merupakan aktor yang sangat rasional. Mereka akan menimbang berkali-kali dan tak akan bertindak gegabah. Sebab bagaimanapun juga, tidak hanya Jerman yang memerlukan pasokan gas Rusia, melainkan Italia, Prancis dan Belanda.

Peristiwa diracunnya Navalny memang bukan persoalan sepele menurut Uni Eropa. Namun hal itu tak akan sampai membatalkan proyek ambisius tersebut, karena ada semacam simbiosis mutualisme didalamnya. Apabila sudah merasa sama-sama butuh dan sama-sama untung, tekanan dari Amerika pun akan dianggap angin lalu.