Penulis
2 tahun lalu · 573 view · 4 menit baca · Cerpen merenung_1.jpg
www.google.com

Dipecundangi Mimpi

Adinda, aku hampir kalah oleh mimpiku sendiri, aku dipecundangi dengan keadaan. Masih mau kah dirimu dengan sang pencundang adinda?

Adinda, di suatu pagi yang tenang dan dingin aku terbangun, terlihat sedikit cahaya dari celah jendela kamar kecil berukuran 4 x 4, seingatku tak ada cahaya lain pada pagi itu selain setitik cahaya yang memantul ke dinding kamar melalui celah kecil jendela kamar.

Hanya ada kipas angin yang seakan megejekku dengan gelengan kepalanya ke kanan dan ke kiri yang pun seakan mau tak mau untuk memberikan kesejukannya, ada juga televisi layar cembung yang masih menyala dan sedikit redup, dan juga sisa mimpi-mimpi besarku yang ternyata masih berserakkan dimana-mana. 

Aku pun tak ingat, apakah itu sisa mimpi malam sebelum pagi itu atau memang sisa dari kumpulan mimpi-mimpiku yang sudah terlalu banyak berserakkan dari malam-malam sebelumnya yang tak sempat aku buang ke tong sampah. Yang ku ingat hanya mimpi-mimpi itu masih berserakkan dimana-mana, bahkan ada yang sudah terlihat usang dan berdebu.
Sayangnya, pantulan cahaya kecil dari celah jendela tak membantuku untuk segera beranjak dari kasur brengsek. Ya brengsek, karena dari situ aku memulai mimpi di tiap malamku dan dari situ pula lah aku membiarkan mimpiku berserakkan.

Aku ingat pada saat itu jam dinding yang terlihat masih samar-samar menunjukkan kira-kira pukul 06.13. Terdengar diluar suara burung yang entah sedang bernyanyi atau berbicara, semoga saja burung itu tak sedang mengintip dari celah jendela sehingga dia punya bahasan untuk kawanannya untuk mereka tertawakan.

Tubuhku masih saja tak sedikitpun bergerak, masih saja berfikir harus diapakan mimpi-mimpi yang berserakkan itu, seingatku tong sampah di kamarku pun tak akan cukup untuk menampungnya. Mimpiku sangat besar, kau tahu itu adinda, besarnya kira-kira tak jauh beda dengan besarnya kepalaku, namun beratnya tak seringan isi kepalaku. Jumlahnya pun tak sedikit, kira-kira jumlahnya lebih dari jumlah jari ditanganku.

Pernah suatu hari aku meminta temanku untuk membawa pulang salahsatunya, namun dia pun tak kuat untuk mengangkat dan membawanya pulang. Jangankan untuk dibuang ke tong sampah, untuk diangkat saja tak seorang pun yang mampu adinda. Sementara, aku masih saja tak beranjak dari si brengsek.

Tak terasa, ternyata cahaya yang memantul ke dinding melalui celah jendela pun semakin memaksa untuk masuk ke kamar kecilku. Anehnya, mimpi-mimpiku pun mulai bergerak menghindari cahaya tersebut. Mereka mulai bersembunyi adinda, ada yang dibawah meja, naik keatas lemari, menutupi dirinya dengan baju kotor yang ketika itu belum sempat ku cuci, dan juga ada yang bergegas lari ke kamar mandi.

Adinda, kau tahu? Mimpiku takut akan cahaya dan aku tertawa kecut melihatnya. Mereka berlari seperti pecundang, padahal itu hanya setitik cahaya yang baru saja memaksa untuk masuk ke kamarku. Melihat tingkah laku mereka tersebut, ketika itu aku pun terlintas fikiran untuk sesegera mungkin membuka lebar-lebar jendela kamarku, sehingga akan ku biarkan saja masuk semua cahaya ke kamarku agar semua mimpiku ketakutan lalu pergi dan menghilang dengan sendirinya. Jadi, aku tak perlu capek-capek untuk mengangkatnya satu-satu untuk dibuang.

Namun, sayangnya si burung sialan itu masih saja diluar, aku takut dia melihat mimpi-mimpiku ketakutan dan membuatnya tertawa dan meceritakan kejadian tersebut ke kawanannya, sehingga aku memutuskan untuk menunggu dirinya pergi.

Tak lama kemudian aku menoleh ke jam dinding, pada saat itu sepertinya sudah pukul 06.50, aku melihatnya masih saja samar-samar. Sudah tak terdengar suara kicauan si burung sialan itu, namun cahaya yang tadinya memaksa masuk pun perlahan menarik diri kembali keluar.

Bergegas aku beranjak dan mengejar cahaya tersebut untuk ku tarik kembali ke kamarku, namun ternyata cahaya tersebut terlalu kuat untuk diriku seorang adinda, dia tetap saja perlahan menarik dirinya keluar. Lantas spontan aku berteriak, "hei hei! Jangan jangan! Jangan pergi! Masuklah kemari!". Namun sayang, dia tak mendengarnya dan dia terus saja menarik diri keluar.

Saat itu aku masih tak terlalu gelisah adinda, fikirku masih banyak cahaya diluar sana. Langsung saja aku bergegas membuka jendela kamarku agar semua cahaya masuk untuk mengusir mimpi-mimpiku yang sudah sangat lama berserakkan dan bahkan sudah berdebu itu.

Dasar memang sial, cahaya tadi mengajak cahaya-cahaya lainnya untuk segera pergi dan bersembunyi dibalik gumpalan awan yang gelap. Angin pun mulai tak bersahabat, awan gelap pun mulai bersatu, dan pagi yang tadinya tenang pun mulai menyeramkan.

Adinda, kau tahu apa yang terjadi pada tubuhku di pagi itu? Tak bergerak sedikitpun. Awan gelap diluar memaksaku untuk tetap didalam kamar, namun mimpi-mimpiku yang tadinya bersembunyi mulai bergerak kembali keluar dari persembunyiannya. Tak ada lagi ketenangan di pagi itu untukku adinda, tubuhku tak bergerak, namun fikiranku ingin melangkah. Dan mimpi-mimpiku? Mereka terus saja bergerak mendekat kearahku.

Pada saat itu aku mulai takut adinda. Tubuhku gemetar, keringatku mulai membasahi tubuh, mataku hanya terpaku pada jam dinding yang terus bergerak seakan tak perduli dengan diriku, dan telingaku hanya mendengar debaran jantung yang berdetak semakin kencang.

Mimpi-mimpiku semakin mendekat adinda, mereka tertawa, mereka menertawaiku adinda. Aku pun mulai pucat, fikiranku mulai berhenti, mulutku tak bergerak, dan mataku mulai terpejam. Mulai kupaksakan langkah kakiku untuk bergerak yang rasanya sangat berat adinda.

Sambil memejamkan mata, aku berusaha untuk bergerak tak tentu arah, yang pasti ku ingat pada saat itu di kananku adalah jendela kamar, lantas ku tutup terlebih dahulu jendelanya agar si burung sialan tak melihatku dalam keadaan seperti itu. Setelah itu, baru aku memaksakan kembali langkah kakiku mundur menjauhi mimpi-mimpiku yang perlahan menghampiri sambil tertawa.

Baru saja beberapa langkah aku mundur, sudah terasa tembok kamar menyentuh tumit kakiku. Sedangkan mimpi-mimpiku terus saja bergerak mendekat dan mentertawaiku. Tubuhku di pagi itu semakin tak kuat menahannya adinda, mataku yang kupaksa untuk terbuka justru semakin remang-remang, tubuhku semakin lemas, keringatku menjadi dingin, dan akupun mulai tak mengingat apa-apa adinda, kemudian tubuhku terkapar.

Tak berselang lama kemudian, aku terbangun dengan tubuh yang masih lemas, dan jam dinding sudah menunjukkan kira-kira pukul 12.30 siang, sedangkan mimpi-mimpiku sudah sangat dekat denganku, mereka bahkan menempel ditubuhku. Mereka sudah tak tertawa lagi, namun terus menatapku tajam adinda.

Sejak pagi itu, aku selalu dibuntuti oleh ketakutan akan mimpiku adinda. Mereka selalu menatapku tajam. Aku hampir kalah oleh mimpiku sendiri, aku dipecundangi dengan keadaan. Masih mau kah dirimu dengan sang pencundang ini adinda?