Corona datang sebagai tamu yang tak diundang. Seketika aktivitas umat manusia terhenti dibuatnya untuk sementara waktu. Aktivitas ekonomi lumpuh, industri mandek, tempat ibadah sunyi, bumi seolah-olah bisa bernapas dengan lega setelah sekian lama manusia rakus mengeksploitasi dirinya.

Tak ketinggalan, aktivitas pendidikan seketika gagap menghadapi problema yang tak pernah diprediksi kemunculannya. Covid-19 datang bertubi-tubi menghantam setiap orang tanpa pandang bulu, dunia pendidikan dibuatnya kelabakan. Mau tidak mau, suka tidak suka, pejabat perguruan tinggi hingga pejabat pendidikan anak usia dini harus segera tanggap menyikapi problema ini.

Virus ini dapat dengan mudah menular melalui kontak langsung. Sedangkan proses pembelajaran tidak bisa lepas dari adanya interaksi atau kontak langsung, baik pengajar dengan murid, murid dengan murid, dan interaksi antar civitas akademika secara keseluruhan. Demi kebaikan bersama, sebagai konsekuensinya, seluruh institusi pendidikan merumahkan murid-muridnya juga para pengajar dan seluruh pegawainya.

Tentu kebijakan yang diambil bukan meliburkan, melainkan mengganti metode pembelajarannya. Dari yang sebelumnya proses pembelajaran itu dilakukan dengan cara tatap muka, sekarang dilakukan dengan menggunakan sistem daring melalui beragam tools

Sebenarnya sudah banyak kampus yang menggunakan sistem kuliah daring, hanya saja memang porsinya sedikit. Misalnya di salah satu perguruan tinggi ada yang menggunakan sistem 7 kali pertemuan kuliah sesi Ujian Tengah Semester (UTS), salah satu pertemuannya dilakukan dengan menggunakan sistem kuliah daring. Begitu juga dengan sesi Ujian Akhir Semester (UAS).

Agaknya memang Indonesia cukup ketinggalan kalau berbicara soal 4.0, walaupun sebenarnya Revolusi Industri sudah mulai dikenalkan sejak tahun 2011 lalu di acara Hannover Trade Fair oleh sekelompok perwakilan ahli berbagai bidang asal Jerman. Kemudian di Indonesia mulai muncul istilah Indonesia 4.0, di dunia pendidikan juga muncul istilah Pendidikan 4.0.

Hari ini kita hidup di tengah zaman yang sangat cepat berubah atau lebih dikenal dengan sebutan era disrupsi. Kita dihadapkan pada kejutan-kejutan yang sebelumnya tidak pernah kita prediksi atau sedikitpun pernah kita pikirkan. Oleh karena itu menurut Prof Arif Satria, tugas kita ialah membuat ketidakpastian menjadi kepastian. 

Kapasitas dan kapabilitas ialah kunci untuk mentransformasikan ketidakpastian menjadi kepastian. Ketidakpastian akan berlangsung lama di kala sesuatu itu baru dan kita tidak mempunyai pengetahuan dan kemampuan menghadapinya.

Selain itu kita dihadapkan dengan era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang mestinya harus diubah menjadi VUCA (vision, understanding, clarity, agility). Melihat kondisi yang demikian, tentu ini menjadi tantangan dan peluang tersendiri bagi bangsa Indonesia. 

Oleh sebab itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian pada tanggal 4 April 2018 lalu me-launching Making Indonesia 4.0 sebagai respon atas kondisi zaman yang sangat cepat berubah ini.

Ada 10 prioritas nasional dalam inisiatif Making Indonesia 4.0, dua di antaranya bersinggungan langsung dengan dunia pendidikan. Pertama, peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia). SDM adalah hal yang penting untuk mencapai kesuksesan pelaksanaan Making Indonesia 4.0.

Indonesia berencana untuk merombak kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada STEAM (Science, Technology, Engineering, the Arts, dan Mathematics), menyelaraskan kurikulum pendidikan nasional dengan kebutuhan industri di masa mendatang. 

Indonesia akan bekerja sama dengan pelaku industri dan pemerintah asing untuk meningkatkan kualitas sekolah kejuruan, sekaligus memperbaiki program mobilitas tenaga kerja global untuk memanfaatkan ketersediaan SDM dalam mempercepat transfer kemampuan.

Kedua, pembangunan ekosistem inovasi. Ekosistem inovasi adalah hal yang penting untuk memastikan keberhasilan Making Indonesia 4.0. Pemerintah Indonesia akan mengembangkan cetak biru pusat inovasi nasional, mempersiapkan percontohan pusat inovasi dan mengoptimalkan regulasi terkait, termasuk di antaranya yaitu perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan insentif fiskal untuk mempercepat kolaborasi lintas sektor diantara pelaku usaha swasta/BUMN dengan universitas.

Setelah muncul Revolusi Industri 4.0, disusul Making Indonesia 4.0 dan dipadukan dengan Pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 adalah program untuk mendukung terwujudnya pendidikan cerdas melalui peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan, perluasan akses dan relevansi memanfaatkan teknologi dalam mewujudkan pendidikan Kelas Dunia untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki setidaknya 4 keterampilan abad 21 yaitu kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis dan kreatif, mengacu pada standar kompetensi global dalam mempersiapkan generasi muda memasuki realitas kerja global dan kehidupan abad 21.

Untuk mendukung Pendidikan 4.0 dibutuhkan komponen teknologi seperti koneksi internet, konten, perangkat produksi, dan platform teknologi. Baik yang mengajar maupun diajar dituntut untuk terbiasa dengan komponen teknologi tersebut. Mau tidak mau, suka tidak suka, zaman sudah berubah, dunia pendidikan juga berubah. Oleh sebab itu kurikulum pendidikan memerlukan penyesuaian-penyesuaian untuk merespon Making Indonesia 4.0 dan Revolusi Industri 4.0.

Corona melumpuhkan aktivitas manusia di berbagai sektor, namun di sisi lain Corona memaksa Indonesia untuk menerapkan Pendidikan 4.0. Di tengah pandemi dan era disrupsi ini, dunia pendidikan seketika mampu mengubah ketidakpastian menjadi kepastian.

Proses belajar-mengajar yang tadinya hanya dilakukan secara tatap muka, kini dilakukan secara daring. Bahkan banyak sekali kelas-kelas daring yang diadakan secara gratis oleh kalangan akademisi dan ahli di bidangnya. Selain itu, banyak layanan pendidikan yang bisa kita akses secara gratis pula. Barangkali ini yang dimaksud dengan merdeka dalam belajar.

Tanpa Corona boleh jadi proses pendidikan kita akan tetap menggunakan cara-cara lama yang mewajibkan murid hadir di ruang kelas dan membosankan. Padahal belajar tidak melulu di ruang kelas. Anak-anak zaman sekarang justru lebih senang jika diberikan kebebasan untuk belajar di luar untuk mengembangkan dirinya. 

Tanpa Corona layanan pendidikan mungkin tidak gratis, kelas-kelas daring dengan pemateri hebat-hebat dan gratis sulit kita jumpai. Corona hadir sekaligus membawa berkah bagi umat manusia.