Politisi
1 tahun lalu · 1354 view · 4 min baca · Politik 48910_21991.jpg
pinterest

Diomedes; Hasrat dan Hikmah

Kisah Perang Troya

Politik hari ini diwarnai fenomena di mana seseorang yang diharapkan menjadi tokoh bangsa yang berdiri di atas seluruh golongan masih saja ikut menggeluti politik praktis—bahkan yang kental bernuansa etnis dan agama. 

Sosok yang sudah sepantasnya naik tingkat berbicara politik kebangsaaan sering kali lupa batasan yang ada, sehingga tidak menyadari kapan waktu yang tepat untuk berhenti berbicara mengenai politik golongan.

Kegagalan untuk berhenti di waktu yang tepat tidak lepas karena hasrat untuk terus berkuasa. Akhirnya, hal ini kerap menimbulkan skeptisisme publik setiap mendengar sosok tersebut berbicara.

Bukan hanya dalam dunia politik, tapi dalam dunia apa pun, kemampuan untuk tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti akan menentukan bagaimana seseorang akan dikenang. Dalam sepak bola, misalnya, kita bisa melihat bagaimana Zinedine Zidane memilih berhenti menjadi pelatih klub besar Real Madrid setelah mampu memecah rekor juara Eropa tiga tahun berturut-turut.

Persoalan ini juga mengingatkan saya dengan kisah Diomedes, salah satu pejuang terbaik Akhaia dalam perang Troya yang diceritakan Homerus dalam buku kesepuluh The Iliad. Ketika itu Diomedes menjadi salah satu mata-mata yang dikirim oleh Raja Agamemnon ke markas Troya.

Bermula dari kegelisahan Agamemnon yang tak bisa tidur usai Akhilles menolak permintaan untuk kembali bertarung dengan Akhaia, sang raja tertinggi itu pun menceritakan kepada adiknya Menelaus bahwa ia ingin mengirim seorang mata-mata untuk menyusup ke markas Troya dan mencari tahu apa yang akan dilakukan oleh Troya. “Aku dan kau butuh taktik untuk menyelamatkan pejuang dan kapal-kapal Akhaia,” ujarnya. 

Ia segera meminta Nestor, lelaki tua yang selalu ia dengarkan petuahnya itu, untuk mengumpulkan pejuang-pejuang pemberani seperti Odisseus, Diomedes, Idomeneus, dan Ajax. Meski ia berbicara di depan para pemberani, Nestor sebenarnya ragu, siapa dari mereka yang memiliki keberanian di malam buta seperti itu mendatangi markas lawan? 

Baca Juga: Kontradiksi Zeus

Tapi tak sedikit pun ada ketakutan dalam diri Diomedes. Sebaliknya, tantangan Nestor itu justru menjadi gairah tersendiri baginya.

Lagi pula, Diomedes memang bukan sosok yang mengenal rasa takut. Ia pernah menancapkan tombak tajamnya ke tangan Dewi Cinta Aphrodite. Bahkan, ia pernah menusuk Dewa Perang Ares tepat di perutnya. Tentu semua ini tak mungkin bisa ia lakukan tanpa bantuan Dewi Athena. 

Kali ini pun ia tahu Dewi Athena tetap bersamanya setelah ia mendengar suara kepakan sayap burung yang bergerak ke arah kanan sebagai pertanda baik dari putri Zeus itu. Dalam kepercayaan Yunani kuno, burung yang terbang ke arah kanan merupakan petunjuk keberhasilan. Jadi apalah arti Troya dan para pejuangnya, Diomedes sudah pernah menjalankan misi yang jauh lebih berat dari itu (baca: Diomedes dan Para Dalang).

Diomedes meminta agar ia ditemani seorang pejuang Akhaia lagi dan ia memilih Odisseus. Ia menyebut Odisseus sebagai seorang taktikus handal yang mampu mengatur pertempuran. Homerus sendiri, dalam menceritakan Odisseus, selalu konsisten menyebutnya dengan the great tactician. Dengan ditemani Odisseus, Diomedes merasa lebih percaya diri. 

Di seberang sana, ternyata Hector sedang melakukan hal yang sama seperti Agamemnon. Pangeran Troya itu menjanjikan hadiah bagi pejuang Troya yang berani menyusup ke markas Akhaia.

Salah seorang dari mereka, Dolon, mengaku siap untuk menjalankan misi tersebut. Namun, di tengah jalan, Dolon justru bertemu dengan Diomedes dan Odisseus. Keduanya curiga Dolon dikirim untuk misi yang sama dengan apa yang mereka lakukan. 

Mereka mengejar Dolon yang ketakutan itu sampai tertangkap. Dan memang benar Dolon ternyata tak seberani itu. Untuk menyelamatkan nyawanya, ia berjanji akan menceritakan segalanya kepada Diomedes dan Odisseus. Mereka kemudian mengambil kesempatan tersebut untuk mengorek informasi mengenai Troya.

Dolon mengungkapkan bahwa baru saja datang sekutu perang Troya dari Trakia yang membawa kuda-kuda terbaik. Dolon lalu meminta agar ia dibebaskan sesuai perjanjian awal. Diomedes melanggar dan membunuhnya. Segera mereka menuju ke kemah tempat orang-orang Traki itu beristirahat. 


Malam itu, Diomedes membunuh tiga belas orang pasukan Trakia. Setelah membunuh orang ketiga belas, Diomedes belum puas dan masih ingin terus membunuh. Namun Dewi Athena mengingatkannya.

“Berpikirlah hanya untuk pulang, putra Tydeus yang hebat! Segera kembali ke kapal, jika tidak, kau akan susah payah berlari untuk menyelamatkan nyawamu,” kata Athena kepada Diomedes.

Betul saja, tak lama setelah itu, Dewa Apollo hendak membangunkan pasukan Troya lainnya. Namun terlanjur terlambat, Diomedes dan Odisseus berhasil melarikan diri. 

Sementara Nestor dan pasukan Akhaia sedang bersedih karena menganggap keduanya telah mati, Diomedes dan Odisseus justru kembali dengan gagah membawa kuda-kuda Traki yang indah itu.

“Sekarang kuda-kuda yang kamu tanyakan ini, Pak Tua, mereka adalah pendatang baru, baru tiba dari Trakia. Kau tau siapa tuan mereka? Diomedes sang pemberani yang membunuhnya, dua belas dari pasukannya juga, semua memiliki pangkat,” ujar Odisseus kepada Nestor sambal membanggakan Diomedes

Bayangkan jika Diomedes mengikuti hasratnya untuk terus membunuh pasukan sekutu Troya dari Trakia, bisa jadi Dewa Apollo akan membangunkan pasukan Troya yang lainnya dan mereka akan terkepung dalam markas Troya.

Namun karena Diomedes—dengan bantuan Athena—memutuskan untuk berhenti dan kembali, ia justru dikenang sebagai seseorang yang hebat karena bisa membunuh orang-orang berpangkat dan membawa pulang kuda-kuda Trakia. Padahal kepulangannya saja adalah sebuah prestasi.

Saya tak sedang menyamakan perang dan pembunuhan dengan politik—meski politik di tangan orang-orang berwatak otoritarian atau fasis bisa dijadikan alat untuk melakukan demkian. 


Akan tetapi, kisah ini mengungkap sebuah hikmah bahwa memang manusia harus menyadari batasan-batasan yang ia miliki. Ketika ia sudah mencapai posisi puncak, mungkin itu waktu yang tepat bagi seseorang menyadari keterbatasannya dan memutuskan kapan waktu untuk berhenti. 

Namun, ketika seseorang yang sudah begitu terpandang memaksakan diri dan melampaui batas-batas yang ada hanya untuk memuaskan hasrat berkuasa semata, akibatnya ia kehilangan kemewahan menjadi tokoh terpandang yang mungkin sudah ia bangun dengan susah payah.

Oleh sebab itu, tokoh bangsa harus mampu menjaga kata-kata mereka. Karena ini bukan sekadar soal kata-kata. Tapi ini soal bagaimana seseorang akan dikenang. 

Artikel Terkait