Mahasiswa
1 tahun lalu · 175 view · 57 sec baca menit baca · Puisi 26511_73470.jpg
daily.jstor.id

Dininya Rinduku, Asa

Sekelibat Kicauan Dada

Keningku tampak cemberut dibalut kelabut
Selalu meronta hampir di setiap derap
Lalu gengster neuron membuncah segalanya
Agar tak selalu merindu datangnya menit-menitmu

Aku sedikit heran dengan permainan Tuhan
Yang selalu berfirman untuk tak pernah membelenggui diri
Di kala fakta pahit sering kali menyelimuti belati emas
Aku menginginkan jawaban tanganmu, Tuhan

Kegerahan dan kemewahan nyiur tiba di  pelupuk cita
Lantangnya sajak putus asa datang dari mana saja
Apakah itu suatu tanda
Rayuan tembangsih bergelagak saut membayu

Kutahu, hirauan ini tersulut dini
Bak kemarau yang sukar tiba di Januari
Walau kalap ini tak saksama dijemput
Kala batin tersentak bahwa ini benar sahutan setan

Lagi, kutahu takkan jadi pohon bila tak ada akar
Yang selalu mengikhtisari diri agar selalu berpapas dengan santun
Kuharap umurku setia menjunjungku selalu
Ingin kukejar impian nakalku itu

Tak ada yang kurindukan selain kehadiranmu
Nihil yang nyata membantuku selain sajak harapanku ini
Kejujuran pantas menemaniku di saat-saat kronis tentang rindu
Ya, selalu tentangmu wahai mega eksploraku

Sajup hembusan optimisme hadirmu tertempel berkat
Sabana ambisius panjang melintang dihias nuansa harapan
Yang belum ialah notula biru akan menit-menit kedatanganmu
Dan luasnya kicauan munajat terdengar jelas di rongga dadaku

Kini kemisterianmu sering membuatku jemu
Sebab ku tahu kau tak serupa dengan kiambang lebat di sungai
Tapi entah mengapa luapan cintaku semakin besar padamu
Hembusan rinduku takkan padam sampai aku benar-benar menyapamu, Asaku

Langkat, 19 November 2017

Artikel Terkait