Protes atas kondisi memang beraneka macam. Tidak jarang pula dilakukan dengan cara yang tidak lazim. Dinar Candy adalah salah satu artis yang sedang melakukan protes atas perpanjangan PPKM. Beberapa hari yang lalu, melalui akun sosial medianya dia mengungkapkan rasa stresnya atas perpanjangan PPKM.

Ketika PPKM diperpanjang dia melakukan apa yang dia sampaikan di akun sosmednya.  Dia turun ke jalan dengan hanya mengenakan bikini sambil membawa papan yang bertuliskan, "Saya Stres Karena PPKM Diperpanjang."

Dalam konteks Indonesia, hal tersebut termasuk tidak lazim dan kontroversial. Sehingga tidak sedikit yang menghujat dan bahkan infonya dia harus menjadi tersangka.  Protes seperti yang dilakukan oleh Dinar bukan sesuatu hal yang baru. Di luar negeri tercatat beberapa protes perempuan atas kondisi sosial dilakukan begitu vulgar hingga telanjang dada. 

Hal tersebut bisa kita lihat dalam beberapa demontrasi di Inggris, Chile, Tunisia, Perancis, Australia dan beberapa negara lain. Isunya pun beragam, dari isu perubahan iklim, kekerasan sexual, HAM dan isu lain.

Tetapi tulisan ini tidak akan mengulas tentang cara mereka protes apalagi mengaitkannya dengan persoalan hukum. Dimana akhir dari itu semua adalah bersalah atau tidak. Isu atau isi protes tidak kalah penting dari pada cara protes. Antara cara protes dan isi protes jelas sesuatu yang berbeda. Apa yang digugat oleh Dinar menarik itu dilihat dari persepektif yang berbeda.

Ruang, Rasa Malu dan Elit Politik 

Dinar bisa jadi mewakili sebagian masyarakat yang berada dalam posisi tertekan atau stress atas kondisi yang ada. Terlepas urusan bahwa PPKM membawa efek yang baik atau tidak, bagi sebagian orang dengan profesi tertentu akan merasakan dampak secara langsung atas kebijakan tersebut. 

Penghasilan berkurang drastis, PHK terjadi dimana-mana dan hal-hal lain yang memporak porandakan stabilitas ekonomi masyarakat. Bikini dan protes harus dilihat dua hal yang berbeda. Membedakan hal tersebut rasanya relevan agar kita juga melihat maksud dari protes, bukan cara berpakaian dia yang dianggap menyalahi norma yang ada.

Selain itu juga, apa yang dilakukan Dinar membuat kita semua layak meninjau kembali mana ruang publik dan mana ruang privat. Demokratisasi internet banyak mengubah tatanan kehidupan sosial kita. 

Perdebatan tentang ruang privat kita sudah mulai dipertanyakan ketika internet dan budaya siber hadir. Ketika Dinar dituduh mencemari ruang publik lantas bagaimana dengan acara televisi, konten-konten di sosial media atau platform digital lainnya yang menyiarkan perempuan berbiki atau adegan vulgar lainnya?

Pertunjukan vulgar era digital akan sangat mudah untuk diakses dan disaksikan khalayak. Kalau sudah demikian kita perlu melihat secara kritis bagaimana ruang publik dan privat di era digital begitu problematis.

Dalam konteks yang lain, yang tidak kalah penting adalah ulasan tentang Dinar dengan bikininya yang dianggap sebagian orang kehilangan rasa malu. Ditengah kondisi krisis dengan tekanan ekonomi yang sulit begini, tidak sedikit orang yang merasakan betapa berat dan getirnya hidup dalam kondisi pembatasan.

Banyak orang berbuat nekat agar didengar dan bisa bertahan hidup. Tetapi kalau boleh jujur, Dinar sebenarnya tidak seberapa tepat disebut kehilangan rasa malu.

Mereka para elit politik dengan baliho-baliho narsis yang massif dan tersebar di seluruh Indonesia yang layak untuk disorot dan dipertanyakan rasa malunya. Mereka para elit politik yang harusnya sibuk dan fokus berfikir menguatkan solidaritas antar sesama dan mendorong kebijakan pro-rakyat malah berfokus pada nasibnya di pemilu 2024.

Kalau sudah demikian, siapa diantara kita yang sedang kehilangan rasa malu di tengah krisis. Rakyat tidak akan kenyang dengan seruan-seruan kosong di baliho yang tidak akan mengubah apa-apa.

Kenekatan Kolektif 

Dibanyak media Dinar disorot, beberapa orang lupa tentang apa isi protes dan lebih suka membahas bikininya. Beberapa orang lupa bahwa Dinar sedang mengingatkan kita bahwa situasi susah dan krisis sangat mungkin mendorong orang menjadi sangat nekat. 

Tekanan hidup yang berat karena pandemi cendurung banyak membuat orang stress. Stress dan kenekatan merupakan dua hal yang berkaitan.

Kalau kenekatan-kenekatan yang didorong oleh rasa stress banyak muncul, negara perlu hadir untuk mengurangi resiko stresnya. Bukan menangkap orang-orang stress tersebut yang berpotensi membuat mereka lebih stress.

Kenekatan kolektif warga negara yang tidak puas dan didorong oleh kondisi hari ini tentunya berbahaya bagi keberlangsungan negara. Terbukti kondisi chaos di banyak negara disebabkan oleh ketidakmampuan negara mengelola rasa aman dan emosi warga negaranya.

Kita semua tidak menginginkan hidup di negara dengan konsep yang kuat yang bertahan (survival of the fittest). Siapa kuat, dia menang. Siapa yang lemah pasti akan kalah ditaklukkan yang kuat. Negara harus mampu melindungi semuanya. Tidak melihat latar belakang ekonomi, ras, agama dan suku. 

Pandemi harus menjadi momentum merajut kembali solidaritas antar sesama untuk menang melawan virus. Toh virus tidak melihat latarbelakang seseorang. Semua sangat mungkin bisa terjangkit. Semoga pandemi segera berakhir dan tidak ada lagi praktik kenekatan seperti yang dilakukan Dinar Candy.