Bukan seperti Albert Einstein yang perlu banyak percobaan biar jadi ilmuwan andal, bukan juga layaknya Jerome Polin yang perlu banyak latihan soal biar jago Matematika, melainkan Mr. X yang cukup sekali percobaan dan nggak perlu banyak latihan, spontan banting mental mahasiswa baru pada ospek bertabir kedisiplinan.

Mr. X? Siapa sih figur pembanting mental? Kok, bertabir kedisiplinan?

Beberapa waktu lalu, dunia pendidikan Indonesia kembali digemparkan dengan perpeloncoan. Bukan fisik, melainkan psikis. Awalnya, saya tidak cukup paham bagaimana kronologinya, seolah-olah saya tidak ingin tahu akan hal itu. 

Namun, ketika saya tengah memenuhi salah satu penugasan ospek, yaitu pasang twibbon kebanggaan universitas di media sosial (Instagram), di situ saya memasang foto dengan mengenakan almamater terselampir setengah bahu. Lalu, beberapa teman mengomentari dengan cuitan guyonan yang membuat saya penasaran dan tergugah dengan komentar sindirannya.

“Almet dipake yang benar, mana ikat pinggangnya? Nggak dibaca tata tertibnya?”

Hal ini membuat saya bingung, bagaimana saya harus membalasnya, saya berpikir mengapa pribadi kurang empati akan hal ini, lalu saya bergegas untuk melihat trending topik jagad twitter ‘ikat pinggang’. Semakin dipahami malah semakin miris, ospek daring pertama manifestasi kesan buta akhlak. Memang benar hanya bertatap maya, tetapi perlakuannya bukan hanya terekam jejak digital, melainkan juga jejak psikis generasi bangsa.

Wahai kalian, segenap fraksi pemuda, mahasiswa, bau kencur atau bau karat, mustahil jika tidak mengenal apa itu ospek, sekalipun bukan mahasiswa, masyarakat luas pun pasti mengenal pucuk pangkal sejarahnya, terlebih lagi para orang tua kolot zaman old yang hingga kini masih overprotective jika benih nyaring bisingnya model ospek senioritas masih tumbuh menjadi buah trending penggerus mental buah hatinya. 

Katanya untuk menguatkan mental sebagai bekal perkuliahan, tetapi cara yang dipertontonkan seperti tiada memanusiakan manusia. Seolah-olah senior adalah raja dan mahasiswa baru adalah dayang-dayangnya, menuruti semua perintah penugasan dan jika tidak terpenuhi, hadiahnya adalah suara angin bertabrakan (keras, mengagetkan, saling bersahut-sahutan), sepertinya merasa lega jika responnya ialah tunduk dan tangis.

“Sebenarnya, apa sih esensi ospek untuk mahasiswa baru?”

“Yaa, untuk mengenalkan lingkungan barulah. Atau mungkin, mengenalkan tremor baru?”

Ospek yang sekarang lebih akrab dikenal PKKMB merupakan suatu perantara untuk menyiapkan mahasiswa baru melewati proses transisi menjadi mahasiswa yang dewasa dan mandiri, serta mempercepat proses adaptasi mahasiswa dengan lingkungan yang baru, dan memberikan bekal untuk keberhasilannya menempuh pendidikan di perguruan tinggi sehingga kelak akan mejadi alumni perguruan tinggi yang memiliki kedalaman ilmu keluhuran akhlak, cinta tanah air, dan berdaya saing global. 

PKKMB harus direncanakan secara matang agar dapat dijadikan momentum bagi mahasiswa baru untuk mendapat informasi yang tepat mengenai sistem pendidikan di perguruan tinggi baik bidang akademik maupun nonakademik.

Kegiatan PKKMB merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang menjadi tanggung jawab pemimpin perguruan tinggi. Tidak dibenarkan bila ada perguruan tinggi menyerahkan kegiatan sepenuhnya kepada peserta didik senior, tanpa ada proses pembimbingan dan pembinaan yang memadai. 

Demikian juga perguruan tinggi, tidak diperbolehkan mengembangkan model pengenalan kampus sesuai dengan interpretasi masing-masing sehingga terjadi penyimpangan, antara lain berbentuk aktivitas perpeloncoan oleh senior, kekerasan fisik, dan psikis yang dapat berakhir dengan adanya korban jiwa yang tentu saja dapat menimbulkan kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan bagi mahasiswa baru, orang tua, dan masyarakat pada umumnya. 

Perlu ditegaskan kembali bahwa penanggung jawab penyelenggaraan PKKMB adalah pemimpin perguruan tinggi, penyelanggaraan dilakukan oleh pemimpin perguruan tinggi, sementara unsur lain memberikan, mendukung, dan membantu penyelenggaraan kegiatan PKKMB tersebut.

Itulah panduan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lalu, bagaimana yang telah kita saksikan atau mungkin kita rasakan?  Sudahkah sesuai panduan?

Sebenarnya, kegiatan ospek sangat beragam, setiap kampus pun mempunyai peraturan sendiri-sendiri. Namun, peraturan yang dibuat tentu tidak boleh menyeleweng terhadap panduan resminya. Bagi perguruan tinggi yang tidak menaati peraturan, akan mendapat sanksi akademik dari perguruan tinggi masing-masing.

Meskipun kekerasan yang disuguhkan tidak membekas sakit di badan, raut muka dan gaya bahasa akan terukir dalam pikiran dan perasaan. Mental mahasiswa baru sebagai agen penggerak perubahan akan menciut dan kepercayadirian akan berkabut. 

Bukan melahirkan pendidikan karakter yang terurus, melainkan semakin tergerus. Tujuan awalnya memang bagus, tetapi jangan menampilan teguran yang ketus.

Langkah yang digunakan sebagai manifestasi tujuan PKKMB harus tepat. Kekerasaan psikis seperti ini justru akan menimbulkan dendam yang berkepanjangan apabila korban suatu saat berada di posisi senior. 

Selain itu, seseorang akan cenderung merasa bahwa dirinya berada di posisi yang begitu bersalah, hingga mengakibatkan dirinya lebih pendiam dari biasanya, susah untuk bergaul, dan beradaptasi, serta akan merasa takut untuk mencoba hal baru karena ia tidak berani jika ide yang dimilikinya akan mengucilkan dirinya sendiri sehingga menjadi pribadi yang kurang berkembang.

Jadi, stop perpeloncoan guys, sudah nggak zaman senior-senioran.