Penikmat Diskusi
1 tahun lalu · 526 view · 4 menit baca · Budaya 60304_62390.jpg
ilustrasi foto: https://www.google.co.id/imgres

Dinamika Majelis Whatsappiyah

Whatsapp Group (selanjutnya ditulis WAG) adalah salah satu layanan populer Whatsapp yang telah banyak digunakan oleh penggiat komunikasi berbasis android beberapa tahun terakhir ini. Selain ongkos komunikasi yang relatif murah, WAG juga menawarkan fitur-fitur yang menarik dan dirasa lengkap bagi penggunanya untuk melakukan aktivitas selain hanya komunikasi yang sifatnya sederhana saja. Sebut saja berbagi file music dan video, foto, bahkan sampai pada file-file dari Microsoft Office (word, power point, excel, dll).

Selanjutnya, dengan fitur yang terbilang lengkap itu, WAG menjadi aplikasi komunikasi yang sangat representatif untuk membuat dan menjalanan sebuah aktivitas yang lebih kompleks. Adalah juga diskusi atau bahkan pengkajian tentang ilmu agama yang dalam hal ini adalah Islam sebagai trend dalam penggunaan WAG yang semakin semarak hari ini.

WAG pengkajian Islam ini akan sangat bermanfaat bila sejak dari niat pembuatannya telah diformulasi dengan sangat jelas terkait tujuan dibuatnya WAG, program kegiatan dalam WAG, peraturan selama mengikuti program WAG, dan tentunya sampai pada pemirsa atau anggota WAG yang memang telah ditentukan sesuai dengan visi-misi WAG itu dibuat.

Sayangnya, hari ini terdapat tidak sedikit WAG yang dibuat dengan tujuan dan visi-misi tertentu, namun kegiatan di dalamnya seringkali berjalan sangat jauh dari tujuan utama dibentuknya WAG tersebut. Sebut saja misalnya WAG Alumni Magister Sains dan Peradaban yang sejak awal, inisiator grup telah membuat rambu-rambu komunikasi untuk menjalankan WAG sesuai dengan tujuan utamanya yaitu menyebarkan informasi dan mendiskusikan temuan-temuan sains yang berimplikasi terhadap peradaban manusia.

Namun ditengah jalan, WAG ini bertransformasi menjadi semacam majelis pengkajian agama yang setiap kirimannya (posting) memercikkan debat kusir yang sangat kontraproduktif. Alih-alih membahas temuan sains kontemporer, para santri whatsappiyah ini kemudian mendadak menjadi sangat subjektif dan mengedepankan emosi dibanding logika. Misalnya saja ketika berdebat tentang air kencing unta yang berkhasiat bagi manusia yang meminumnya. Yang sebetulnya hal itu bisa didiskusikan secara ilmiah tanpa harus sederhana melihat figur tokoh relijius yang melakukannya untuk diterima tanpa filter akademis apapun.

Contoh lain, ketika ada salah seorang anggota WAG yang membagikan temuan sains masa depan tentang dunia Artificial Intelligence (AI) dan manusia kloning, anggota tersebut mendapat jawaban sinis yang memuat sebuah hadist atau ayat yang dia tarik agar tampak menentang sains dan post-modernism, lagi-lagi tanpa sebuah counter opinion yang bersifat akademis. Diskusi yang menjadi perdebatan itu akhirnya memuat lebih banyak ayat dari kitab suci dibanding dengan makalah ilmiah yang berhubungan dengan tema yang sedang dibahas.

Lebih jauh, ekses dari debat tidak memberikan simpulan ilmiah apapun untuk majelis yang semestinya akademik dan saintifik sejak dibentuknya itu, sebaliknya, menciptakan beragam madzhab dan tipologi untuk tiap-tiap anggota WAG seperti akademisi liberal, ilmuwan syiah, peneliti komunis, magister laknatullah, dan sebutan lainnya yang sangat menyedihkan. Menyedihkan karena anggota WAG sedang mengubur ilmu pengetahuan yang seharusnya bisa saling berkorelasi dengan keyakinan yang mereka anut, bukan membangun berbagai hipotesis kebencian dan kecurigaan satu sama lain terhadap keimanan personal anggota WAG tersebut.

Peradaban komunikasi daring ini berjalan semakin destruktif ketika para anggota kemudian merasa sakit hati dan sedikit demi sedikit mempengaruhi relasi sosial mereka dalam dunia nyata. Meskipun mungkin contoh WAG yang saya angkat di atas itu terlihat mustahil untuk kemudian menyimpang dari tujuan utamanya, percayalah, temuan tidak masuk akal yang diilustrasikan di atas itu adalah contoh yang saya adaptasi dari WAG ilmiah yang saya ikuti.

Bahkan pernah seorang anggota grup yang membagikan informasi tentang foto malaikat Jibril yang tertangkap kamera ketika terbang di atas Ka’bah pada malam di bulan puasa. Anda mungkin tidak akan sampai hati untuk membayangkan kegilaan semacam itu terjadi dalam sebuah grup komunikasi para akademisi. Namun sekali lagi, percayalah bahwa itu benar-benar ada dan terjadi disekitar kita.

WAG ilmiah yang kemudian berubah jadi majelis whatsappiyah ini pun seringkali menciptakan majelis ilmu agama yang praktis. Contohnya ketika ada salah satu anggota WAG membagikan informasi kontroversial yang dia copy-paste dari sumber yang tidak jelas referensinya dengan tag-line “VIRALKAN” tanpa adanya footnote atau referensi di akhir tulisan, akan dibalas atau direspon dengan cara simplistis yaitu dengan membagikan counter tulisan lain yang juga hasil copy-paste dan tidak jelas rujukannya.

Saya kemudian menyaksikan gambaran para akademisi yang hanya terverifikasi lewat selembar ijazah saja namun tidak dengan kapasitas keilmuannya yang sesuai dengan ijazah yang dia dapatkan itu. Alumni pertanian, alumni perikanan, alumni teknik mesin, alumni pendidikan olahraga, dan alumni-alumni dari bidang keilmuan lainnya mendadak menjadi ahli teologi dan fikih dalam WAG. Mereka tidak sedang meneliti atau menyebarkan infomasi berdasarkan kapasitas profesionalisme mereka, namun sedang berlomba-lomba membuat fatwa tentang hal yang bukan menjadi keahliannya.

 WAG kemudian menjadi area aktivasi emosi dan kebencian yang sangat optimal bagi para anggotanya. Irasionalitas tumbuh subur dan logika pelan-pelan mati di kubur. Karya ilmiah hasil karya anak bangsa semakin sulit sekali ditemui, namun meme untuk praktik bully antar generasi terus terproduksi sebagai hasil kreativitas manusia penuh benci. Sesungguhnya, WAG telah kehilangan fitrahnya sebagai wadah untuk membangun kohesi sosial yang positif dan konstruktif. Seperti namanya, Whatsapp atau dalam bentuk frasa bahasa Inggrisnya What’s Up? Yang berarti menanyakan kabar, seharusnya menjadi wadah untuk saling bertegur sapa dan menciptakan kondisi sosial yang harmonis dan penuh perhatian antar sesama penggunanya, bukan sebagai tempat peperangan argumen yang berakhir dengan kebencian yang tak berkesudahan.

Artikel Terkait