Pertanyaan yang kerap kali ditanya oleh sebagian teman-teman feminis saya dilingkungan kampus; Bagaimana bisa menjadi laki-laki yang pro perempuan sedangkan akar persoalan ketidakadilan terhadap perempuan berasal dari laki-laki? 

Pertanyaan yang agak sulit untuk dijawab, bahkan berindikasi ketidakpercayaan kepada laki-laki.

Harus kita akui bahwa laki-laki mempunyai privilege dalam hierarki jenis kelamin. Menjadi laki-laki pro perempuan berarti berani untuk melucuti privilege yang dimiliki, lalu membagi privilege tersebut dengan kelompok perempuan. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi laki-laki, sebab selama ini laki-laki memonopoli berbagai privilege dan kekuasaan yang ada dalam sistem sosial.

Di satu sisi,  Ada laki-laki yang memiliki kesadaran bahwa sistem sosial di masyarakat menciptakan ketidakadilan bagi perempuan. Bisa jadi, kesadaran tersebut berasal dari pengalaman kedekatan dengan ibu, nenek, bahkan menjadi anak laki-laki dari ibu yang dipoligami. 

Keluarga berperan penting dalam upaya membangun kesadaran laki-laki yang pro terhadap perempuan. Pengalaman pembinaan dari keluarga bisa menjadi dorongan bagi laki-laki untuk berpihak pada kondisi kelompok perempuan yang sering kali mengalami ketidakadilan.

Tidak semua laki-laki menindas perempuan, ada juga yang menaruh perhatian terhadap keadaan yang dihadapi perempuan. Namun, saking kuatnya budaya patriarki, mayoritas laki-laki pro perempuan lebih memilih untuk diam. 

Memilih untuk diam sama halnya dengan melanggengkan praktik ketidakadilan terhadap perempuan. Laki-laki harus bergerak mengubah keadaan, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Akan tetapi ada dinamika untuk itu, ada semacam 'jalan panjang' yang tidak mudah dilalui, dimulai dari kesadaran hingga tantangan.

1. Kesadaran 

Secara akademik, studi Cassey dan Smith (2010) memberikan ilustrasi menarik bagaimana proses kesadaran keadilan itu tumbuh di kalangan laki-laki. Cassey dan Smith mewawancarai dua puluh tujuh laki-laki aktivis dari berbagai belahan dunia. Proses kesadaran disebut oleh mereka dengan Men's Pathways to Anti Violence Involvement atau rute laki-laki menuju gerakan anti-kekerasan.

Ada beberapa tahapan proses kesadaran laki-laki pro perempuan. Pertama, tahap sensitisasi atau pengalaman yang membangun kesadaran. Pengalaman yang berupa menyaksikan kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga dan mendengar kasus-kasus pemerkosaan terhadap perempuan.

Dari serangkaian pengalaman itu, membuat laki-laki menjadi prihatin dan lebih peka dengan persoalan yang dialami perempuan. 

Kedua, tahap kesempatan, yaitu situasi yang memberi ruang bagi laki-laki untuk terlibat dalam aktivitas antikekerasan terhadap perempuan. Saya ambil contoh yang bertalian dengan aktivitas mahasiswa, yaitu dengan menjadi satgas kekerasan seksual di lingkungan kampus, sesuai dengan amanat permendikbud no. 30 Tahun 2021. 

Tahap ketiga ialah pergeseran makna, yaitu ketika laki-laki memaknai kasus kekerasan yang mereka lihat dan sadar bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk mencegahnya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

2. Prinsip

Sama halnya dengan menjalani kehidupan, manusia selalu mempunyai prinsip yang selalu konsisten dipatuhinya. Menjadi laki-laki pro perempuan juga demikian, harus berani berprinsip. 

Ada beberapa prinsip utama yang harus menjadi pedoman bagi semua laki-laki. Pertama, berkomitmen terhadap kesetaraan dan keadilan. Laki-laki pro perempuan harus mempunyai keyakinan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki status dan kedudukan yang sama. Kedua, Antidiskriminasi, serta Ketiga, antikekerasan terhadap perempuan. 

3. Argumentasi

Laki-laki pro perempuan harus menyadari bahwa patriarki melahirkan konsep maskulinitas yang merugikan laki-laki itu sendiri. Sebab, patriarki mengonstruksi maskulinitas yang hegemonik dan menindas, yang bercirikan kekuatan, kekuasaan, dominasi, kontrol dan kekerasan. 

Dalam proses sosial pun, laki-laki ditekankan untuk menjadi dominan, superior, berkuasa dan memiliki kontrol atas banyak hal. Padahal, laki-laki memiliki pengalaman dan praktik-praktik hidup yang berbeda sehingga maskulinitas yang dimiliki pun beragam. Namun, patriarki menutup kenyataan tersebut, hingga laki-laki harus hidup dengan standar maskulinitas yang perfeksionis. 

Laki-laki pro perempuan harus merekonstruksi kembali konsep dan struktur maskulinitas untuk kemudian menjadi lebih humanis dan berorientasi pada keadilan semua gender. 

4. Tantangan

Seperti yang telah disebutkan pada bagian pertama, berhenti memonopoli privilege dan membagikannya kepada perempuan merupakan tantangan bagi laki-laki pro perempuan. 

Tantangan lainnya berasal dari internal laki-laki itu sendiri, karena laki-laki yang pro perempuan akan berhadapan dengan kelompok laki-laki lain yang ingin mempertahankan privilege dan kekuatan memonopoli tatanan sosial yang menguntungkan laki-laki. 

Sering kali yang berpihak pada perempuan dihadiahi hujatan dan cemoohan laki-laki lemah atau pelabelan negatif lainnya. 

Memperjuangkan keadilan adalah sikap keberimanan yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, Laki-laki harus terlibat dalam penghapusan ketidakadilan pada perempuan. 

Kasus  ketidakadilan terhadap perempuan di Indonesia sudah banyak mengambil tempat di media. Sudah sepatutnya laki-laki pro perempuan tidak boleh diam atas persoalan tersebut. Sebab, diam atas kejahatan yang sudah lama terjadi sama saja dengan melanggengkan kejahatan tersebut.


Referensi: Hasyim Nur. 2020. Good Boys Doing Feminism: Maskulinitas dan Masa Depan Laki-laki Baru. D.I.Yogyakarta. Buku Mojok Group.