Saya hanya ingin mengulas sedikit mengenai pemikiran Bernstein dalam bukunya Class Dynamics of Agrarian Change: Agrarian Change & Peasant Studies (Initiatives on Critical Agrarian Studies. Fernwood Publishing, 2010) yang tanpa sengaja saya comot saja sewaktu berkunjung ke perpustakaan kampus.

Buku ini cukup menarik, meski ada beberapa pembahasan yang membutuhkan proses pencermatan yang lebih karena terdapat beberapa kalimat yang kurang dapat dipahami. Maklum, saya masih taraf belajar dan memperbaiki selera bacaan.

Kurang lebihnya menurut saya, dalam buku tersebut mengulas burning issues seputar problem kesejahteraan hidup warga dunia dengan kalimat yang sedikit ngenes. Bernstein mengulas ironi penderitaan warga dunia yang kelaparan akibat kekurangan pangan, meski sebenarnya produksi pertanian pangan dunia masih dapat mencukupi kebutuhan masyarakatnya. 

Bernstein menyatakan sendiri adanya beberapa faktor yang menyebabkan berbagai kasus kekurangan kebutuhan pangan tersebut diantaranya adalah pertumbuhan kapitalisme yang sangat krusial dan ekonomi dunia yang serba tidak adil.

Perlu digarisbawahi, dari 870 juta warga dunia tersebut mayoritas adalah warga negara atau masyarakat yang berada di negara-negara dunia ketiga atau negara selatan. Sedangkan kita tahu mayoritas angkatan kerja pertanian berada di kawasan negara-negara selatan tersebut.

Seperti yang diulas dalam buku tersebut, saat ini menurut FAO sekitar 870 juta warga di seluruh dunia mengalami kekurangan pangan alias kelaparan. Berstein menganggap hal demikian sangat ironis, karena sesungguhnya produksi pertanian masih bisa mencukupi kebutuhan pangan populusi di dunia. Namun mengapa masih ada beberapa kalangan yang mengalami kelaparan dan cenderung semakin meningkat saja presentase problemnya ?

Sistem stratifikasi atau kelas sosial juga dapat dilihat dari kehidupan daerah pedesaan. Sistem stratifikasi ini juga dilibatkan dalam pembagian akses berupa lahan/tanah, pembagian kerja, dan sistem pembagian hasil kerja yang setiap masing-masing pihaknya berbeda.

Sehingga menurut Bernstein hal tersebut memicu kesenjangan bagi para petani. Para petani masih harus  menanggung biaya atau menyuplai kebutuhan untuk para kaum kelas sosial yang mendominasi mereka (disebut Fund of Rent, baik dalam bentuk uang atau tenaga).

Bernstein juga menjelaskan bahwa kaum kelas sosial yang mendominasi kaum petani selalu melakukan okupasi dan akumulasi terhadap para kaum petani dalam bentuk pajak, sewa, maupun upeti untuk mencukupi kebutuhan kelas dominan semata.

Sedangkan di sisi lain mereka sama sekali tidak melakukan suatu reward berupa investasi dalam bentuk lain kepada para petani yang sudah berbaik hati menyerahkan segenap hasil kerja mereka. Dalam hal ini telah terjadi tindakan eksploitasi dan akumulasi yang menyengsarakan bagi pihak petani.

Melalui pendekatan ala Marx, Bernstein (juga) menjelaskan bagaimana sebuah ketimpangan relasi gender turut andil dalam mempengaruhi terbentuknya kemiskinan yang ada. Seperti di India,  masih banyak dijumpai ketidakadilan yang dirasakan oleh para kaum perempuan karena tidak menikmati panen dan harus diserahkan seluruhnya kepada pihak suami.

Akhirnya, tanpa ketinggalan, Bernstein meloloskan pandangan dan pesannya bahwa peninggalan kolonial maupun aktivitas negara juga merupakan bagian dari pembangunan agraria dan pasar internasional, serta erat kaitannya dengan hubungan kekuasaan dan ketidakadilan di dunia ketiga. Inilah yang kemudian menjadi penyebab yang paling krusial dan signifikan dalam proses pemiskinan dan kesengsaraan hidup pada masyarakat dunia ketiga hingga saat ini.

 

Judul Buku      : Class Dynamics of Agrarian Change : Agrarian Change & Peasant Studies
Penulis            : Henry Bernstein
Penerbit          : Fernwood Publishing
Tahun Terbit    : 2010
Tebal buku      : xi +139 hlm