Pembaca
2 minggu lalu · 118 view · 4 min baca menit baca · Ekonomi 94534_56318.jpg
Foto: Readers Lane

Dinamika di Atas Kertas

“Bisnis ini kemungkinan tidak akan bertahan lama lagi,” kata ayahku.

Tahun akhir-akhir ini, bisnis keluarga kami mulai melemah. Pendapatan pun jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit lokal satu per satu tidak pernah lagi kembali memakai jasa kami. 

“Mereka lebih memilih memakai nota online,” imbuhnya lagi dengan nada pasrah.

Usaha kami memang sudah lama bergerak di bidang percetakan. Meskipun tidak besar, tapi usaha ini lumayan dikenal oleh masyarakat setempat. Perusahaan-perusahaan swasta maupun BUMN datang dan memercayakan urusan penyediaan segala perangkat administrasi mereka pada kami, seperti nota, delivery order, surat jalan, dan lainnya.

Perusahaan-perusahaan besar seperti mereka tidak mudah berpindah ke lain tangan. Tentu saja bukan hanya masalah harga, kualitas serta kesepakatan di awal pertemuan menjadi taruhannya. Oleh sebab itu, memiliki pelanggan dari perusahaan seperti mereka menjadi jaminan bagi usaha kecil milik kami. Kami sepenuhnya menjaga kepercayaan mereka. 

Kehilangan pelanggan yang hampir tiap bulan melakukan pemesanan skala besar sungguh sangat memengaruhi keuangan usaha ini. Keuntungan dari hasil transaksi biasanya mampu menutupi gaji para karyawan tiap bulannya. Kini kami harus mengelola penghasilan setiap harinya agar mampu membeli bahan baku.

Di tempat kami, kertas menjadi komoditas yang menarik. Apalagi bagi kami yang bergelut di percetakan, keperluan kami terhadap kertas adalah suatu hal yang wajib. Berbagai macam jenis kertas pun kami perlukan. Sehingga kami harus memiliki gudang kecil untuk menyimpannya.

Kelangkaan kertas adalah hal yang biasa kami hadapi. Jangankan mencari yang mana yang murah, mencari toko mana yang masih memiliki barang pun sudah dapat dibilang untung. Karena, itu demi menjaga kepercayaan para pelanggan dan pesanan selesai tepat waktu.

Tentu saja banyak faktor yang menyebabkan pelanggan mulai hilang. Pertama, usaha-usaha sejenis mulai banyak bermunculan. Persaingan harga serta teknik pemasaran menjadi ketat. Tidak pandang bulu, mereka siap menikung pelanggan orang lain. Pelanggan yang tergiur atas apa yang mereka tawarkan tentu saja akan berpindah.


Kedua, kemajuan teknologi di bidang informasi juga menjadi salah satu faktor berkurangnya pelanggan. Keberadaan Internet ini memberikan kemudahan bagi perusahaan dalam mengumpulkan informasi di lapangan. 

Dulu kertas masih digunakan sebagai kelengkapan administrasi. Sekarang mereka lebih senang menggunakan sistem informasi berbasis Internet. Selain hemat biaya, kekeliruan pencatatan yang dilakukan oleh petugas dapat diminimalisasi.

Hal yang demikian juga memengaruhi pada produk lain, seperti undangan dan kartu nama. Orang-orang kini lebih menyukai undangan berbentuk digital. Sedangkan kartu nama sudah digantikan oleh ponsel-ponsel cerdas mereka. 

Dilematis memang kalau kita berbicara tentang kertas dan usaha. Di satu sisi, kita ingin pengurangan jumlah penggunaan kertas untuk melestarikan hutan. Di sisi lain, banyak usaha masyarakat kecil yang menggantungkan penghidupannya pada keberadaan selembar kertas.

Kita tahu bersama bahwa kertas adalah teknologi yang sudah ada sejak peradaban di awal-awal masehi. Keberadaan kertas tidak bisa dibilang biasa-biasa saja. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan besar pengaruhnya disebabkan oleh adanya kertas. 

Tulisan-tulisan para ilmuwan pengubah sejarah tersebar luas. Pendidikan berkembang pesat. Ekonomi lahir menjadi wajah baru. Peperangan berkecamuk. Para pemimpin silih berganti. Hingga kini, kita dapat menggunakan perangkat komunikasi pintar tidak lepas dari keberadaan kertas.

Teringat kembali ketika melakukan perjalanan dari kota Banjarmasin menuju desa tempat tinggal. Di tengah perjalanan saat itu, hujan begitu lebat. Berhubung hanya menggunakan kendaraan beroda dua, saya memutuskan untuk berhenti berteduh di depan rumah salah satu penduduk, tepatnya di Kabupaten Kapuas. 

Rumah ini terlihat kosong tidak berpenghuni. Kebetulan di depan rumah ini ada bangku panjang. Saya duduk sembari menunggu hujan reda. Sambil memandang lingkungan sekitar, saya kagum dengan tanaman-tanaman yang tersusun rapi di halaman samping rumah.

Selang beberapa waktu, sebuah kendaraan roda dua langsung masuk ke atas teras rumah. Sepasang suami-istri dengan basah kuyup hadir di depan saya. Dua orang itu kemudian menyapa lalu masuk ke dalam rumah. Ternyata mereka pemilik tempat ini.

“Mau ke mana, mas?” tanya bapak itu setelah selesai mengganti pakaiannya yang basah.

“Mau pulang, pak,” jawabku sambil tersenyum.

“Ini, diminum dulu tehnya biar hangat.” Istri dari bapak itu keluar membawa dua cangkir teh panas di atas nampan.


“Iya, bu, terima kasih,” jawabku sambil menyambut secangkir teh yang uapnya masih mengepul.

“Ini tanaman apa, ya, pak?” Sambil menunjuk barisan tanaman kecil di samping rumah tadi.

“Itu sengon, dek. Bapak jual bibitnya.” 

“Tanaman buat apa itu, pak?” tanyaku lagi penasaran.

“Begini, dek. Pohon ini, apabila sudah besar, kira-kira berumur 5 tahun, maka batang kayunya dapat digunakan sebagai bahan membuat bubur kertas,” terangnya.

Ia pun menjelaskan bahwa di daerah itu nantinya akan dibangun sebuah perusahaan pembuat bubur kertas atau sering disebut pulp. Bubur kertas itu nantinya menjadi bahan baku pembuatan kertas selanjutnya. 

Keberadaan pohon sengon atau bahasa latinnya albizia chinensis tergolong tumbuhan berkayu keras dengan nilai jual murah. Sehingga menjadi daya tarik industri pengolahan kertas untuk menggunakan bahan baku berasal dari kayu sengon. 

Kayu sengon ini juga mampu menjawab akan kekhawatiran permasalahan lingkungan akibat rantai konsumsi industri kertas. Permintaan kertas yang banyak tentu memberikan dampak juga terhadap ketersediaan bahan baku utama kertas, yaitu kayu. 

Adanya sengon dengan jangka perawatan selama lima tahun, pengelolaan serta budi daya yang baik, diharapkan mampu menumbuhkan wadah baru dalam sektor ekonomi masyarakat. Sehingga menumbuhkan lapangan pekerjaan baru yang menarik dan mudah digeluti.

Lain ladang lain belalang, begitulah pepatah mengatakan. Berbeda dampak yang diberikan oleh ketas. Bagi pengusaha percetakan, khawatir akan kebutuhan masyarakat terhadap kertas berkurang. Bagi petani, ada lahan garapan baru untuk meningkatkan produksi hasil tanam.

Apa pun jadinya nanti, kertas tetaplah kertas yang di atasnya sejarah tetap terukir.

Artikel Terkait