Dimsum Terakhir merupakan novel yang mengisahkan tentang kehidupan empat perempuan etnis Tionghoa yang memiliki ragam karakter seperti menolak sisi feminin dengan latar era Orde Militeristik (sebutan kami untuk masa yang biasa disebut Orde Baru, 1966-1998). Dimsum Terakhir juga menyampaikan masalah terkait kehidupan etnis Tionghoa seperti diskriminasi dari masyarakat (pejabat dan rakyat).

Dimsum Terakhir menurut saya adalah salah satu karya yang memotret utuh ragam persoalan kehidupan keluarga. Potret masalah dibuat oleh Clara Ng dalam bentuk spektrum yang rinci dari aspek fisik sampai sikap sebagai cara penulis melakukan gugatan terhadap keadaan yang harus diperbaiki dalam kehidupan masyarakat.

Artikel ini berupaya untuk memperoleh gambaran kehidupan perempuan etnis Tionghoa pada Orde Militeristik dalam Dimsum Terakhir karya Clara Ng. Ruang lingkup dalam penelitian ini mencakup bentuk, faktor penyebab, serta tanggapan tokoh perempuan dalam menghadapi diskriminasi yang disampaikan oleh Clara Ng dalam novel Dimsum Terakhir. Sehingga, dibutuhkan data berupa ucapan dan tindakan tokoh dalam novel yang dituturkan oleh penulis.

Diskriminasi terhadap perempuan etnis Tionghoa dalam novel Dimsum Terakhir diklasifikasi menjadi dua ranah: domestik dan publik. Bentuk diskriminasi dalam ranah domestik yaitu sikap diskriminasi senioritas, sedangkan ranah publik yaitu ejekan dan hinaan karena beretnis Tionghoa, larangan libur imlek bagi keturunan Tionghoa, penolakan pertanggungjawaban kehamilan, pengharusan panggilan nama Cina untuk keturunan Tionghoa, dan kekejaman fisik. 

Secara umum diperoleh hasil bahwa bentuk diskriminasi paling dominan yaitu bentuk diskriminasi publik berupa ejekan dan hinaan karena beretnis Tionghoa.

Diskriminasi ranah domestik dapat dilihat pada sikap senioritas Siska kepada Indah. Sebagai sulung, ia meminta Indah untuk lebih memperhatikan Nung Atasana (ayah) yang sedang sakit karena Indah berada satu wilayah yang sama dengan ayah mereka. Ia punya harapan yang lebih besar kepada Indah, agar Indah dapat bertanggung jawab terhadap kesehatan ayah mereka terlihat dalam kutipan berikut:

“Kedua, kan kamu yang tinggal di Jakarta. Satu kota denganPapa, naik bajaj juga sampai. Apa salahnya kalau kamu yangmemantau kesehatan Papa?” (Ng, 2013, hlm. 32).

Kutipan tersebut menampakkan bahwa sikap Siska sangat tidak adil kepada Indah. Dirinya memang berada satu kota dengan ayah, tapi bukan berarti dia yang harus selalu mengurus ayah. Hal ini karena Indah merasa bukanlah satu-satunya putridari ayahnya. Putri ayahnya ada empat, sehingga semua saudaranya juga memiliki tanggung jawab yang sama seperti dirinya.

“Kamu bekerja di Jakarta. Memangnya kenapa sih kalau kamu saja yang mengurus Papa? Papa toh tidak perlu kita berempat untuk mengingatkannya kapan dia makan obat atau kapan harus tidur.” (Ng, 2013, hlm. 108).

Kutipan tersebut memperjelas diskriminasi seorang kakak terhadap adiknya yang bersikeras bahwa penyakit ayah tidak parah. Karena itu, kakak menginginkan bahwa seharusnya adik yang lebih berkewajiban menjaga dan merawat ayah mereka.

Diskriminasi dialami oleh keempat tokoh untuk ranah publik, antara lain ejekan dan hinaan karena beretnis Tionghoa, kekejaman fisik , serta berbagai aturan dan larangan yang membatasi ruang gerak mereka sebagai salah satu warga Indonesia. Ejekan dan hinaan diterima Siska karena dia memang tidak dapat berbahasa Cina. 

Meskipun dia sukses di negara tetangga, tetapi dirinya menyadari bahwa kekurangannya sebagai etnis Tionghoa yang justru tidak bisa sama sekali berbahasa Cina. Hal itu terlihat dalam kutipan berikut:

Siska tahu, di belakangnya pasti klien-klien Hongkong itubergosip ria tentang dirinya. Tampang Cina tapi tidak mampuberbahasa Cina, sudah pasti orang Indonesia. Itu sindiran baku yangtersebar dari mulut ke mulut di antara orang-orang Asia. (Ng, 2013, hlm. 55).

Kutipan di atas menunjukkan bahwa memang sebenarnya memang hal tersebut wajar terjadi. Etnis Tionghoa di Indonesia kelahiran 1970-an adalah generasi yang sebagian besar telah tidak menguasai bahasa Cina lagi. Generasi ini umumnya jarang menjadi pedagang atau pemilik toko seperti orangtua. Kebanyakan dari mereka juga telah lepas dari ikatan tradisi dan adat istiadat leluhur. Kecinaan mereka lebih hanya karena hubungan darah dengan generasi pendahulu mereka.

Etnis Tionghoa generasi tersebut lebih cenderung melihat diri sebagai “warga negara yang profesional” daripada “keturunan Tionghoa”. Kami belum dapat melakukan kajian lebih lanjut terhadap kecenderungan ini, apakah hanya berlaku untuk etnis Tionghoa di Indonesia, etnis Tionghoa di seluruh dunia, atau setiap etnis di Indonesia. Karena itu, kami menyarankan dilakukan kajian utuh terhadap fenomena tersebut.

Faktor penyebab diskriminasi tokoh perempuan etnisTionghoa di sini dibedakan dalam dua ranah, ialah domestik dan publik. Faktor penyebab diskriminasi di ranah domestik adalah urutan anak. Sedangkan di ranah publik yaitu faktor etnis, agama, dan politik.

Tuturan yang disampaikan menampakkan bahwa faktor penyebab diskriminasi di ranah domestik yang yaitu jenis kelamin dan urutan anak. Sebagai sosok anak perempuan, mereka diminta untuk taat dan patuh selayaknya anak perempuan. Kepatuhan tersebut berwujud dalam bentuk harus mau memakai rok, bersikap sopan, tidak mudah meluapkan emosi, dan sebagainya.

Bentuk diskriminasi karena faktor posisi atau urutan anak dialami oleh Indah yang diharuskan Siska agar lebih memperhatikan ayahnya dengan alasan berada satukota dengan ayah mereka. Indah sebagai adik Siska merasa terdiskriminasi dengan sikap tersebut. Ia merasa tanggung jawab merawat ayah harus mereka pikul bersama-sama.

Pada ranah publik, terdapat fakor etnis, agama, dan politik. Faktor etnis menjadi faktor mendasar adanya diskriminasi. Etnis Tionghoa sebagai kaum minoritas di Indonesia seringkali dijadikan kambing hitam kesalahan. Faktor agama juga dijadikan alasan bagi sebagian orang untuk bersikap diskriminiatif. Salah satunya terlihat pada sikap Antonius yang menolak bertanggungjawab atas kehamilan Indah dengan dalih profesinya sebagai pastor.

Selain itu terdapat pula faktor politik berkaitan dengan hukum-hukum tertulis yang menyatakan etnis Tionghoa di Indonesia harus memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI), serta beberapa aturan yang mengikat tentang perayaan imlek pada masa Orde Militeristik. Faktor politik tersebut yang paling banyak mendominasi adanya diskriminasi tokoh perempuan etnis Tionghoa dalam Dimsum Terakhir.

Seorang anak berjenis kelamin perempuan kerap dituntut untuk bertindak dengan perilaku yang dibangun oleh masyarakat patriarkal dalam bentuk sikap lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Hal itulah yang tersirat dari pernyataan Anas saat menghadapi anaknya yang sedang bertengkar, seperti dalam kutipan berikut:

“MAMA! MAMA!” teriak Novera panik. “ROSI DANSISKA BERANTEM!” Telinga Anas meruncing seketika. Diadatang tergopoh-gopoh dari depan. “STOP! BERHENTI! ROSI!SISKA! ANAK PEREMPUAN NGGAK BOLEH BERANTEM!STOP!”

Buk! Krak! Rosi menjambak rambut Siska yang panjang.Brak!

“Aw!” BUK-BUK-BUK! “BIARIN!” Siska balas menendangperut Rosi. BUK! Bret! “SAYA BUKAN ANAK—“ Kaus Rosirobek di bagian lengan. “— PEREMPUAN!” (Ng, 2013, hlm. 47).

Kutipan tersebut menunjukkan konstruksi perempuan dalam masyarakat patriarkal diharuskan untuk menurut dan tidak membantah perintah orangtua.

“Bego apanya? Memangnya bego kalau aku ingin menyenangkan papaku?”

“Ini benar-benar budaya patriarki! Cewek yangterpaksa harus menyenangkan hati lelaki.” (Ng, 2013, hlm. 193).

Kutipan tersebut menujukkan sikap Rosi terhadap permintaan ayahnya yang meminta semua anaknya segera menikah. Terlihat bahwa Rosi merasa memang sudah seharusnya ia menuruti perintah ayahnya untuk segera menikah. Namun, ia juga menahan kesal karena masyarakat patriarkal menuntutnya agar menyenangkan hati lelaki, meskipun ia sadar dalam hal ini adalah ayahnya sendiri. Pada dasarnya budaya patriarkal memang dianut oleh warga etnis Tionghoa. Posisi dan kedudukan perempuan dalam keluarga juga sering tidakdianggap.

Dapat dikatakan bahwa Clara Ng berusaha menyampaikan perasaan tertindas dari perempuan etnis Tionghoa dalam novel Dimsum Terakhir. Penyampaian tersebut menjadi bentuk medan perjuangan ClaraNg dalam menyuarakan tindak diskriminasi masyarakat terhadap etnis Tionghoa di Indonesia, khususnya perempuan.

Sebagai individuyang berdiri sendiri, seseorang tidak dapat memilih personalitas diri, seperti hari lahir, orangtua yang melahirkan, dan etnis tertentu. Karena itu, tidak seharusnya seseorang didiskriminasi karen aturan yang ditetapkan hanya menguntungkan kelompok tertentu dan/atau merugikan kelompok selainnya.

Ucapan Terima Kasih

Adib Rifqi Setiawan a.k.a. Alobatnic mengucapkan terima kasih kepada Clara Regina Juana a.k.a. Clara Ng, Nong Darol Mahmada, serta Grace Natalie Louisa yang memberikan dorongan psikis dalam proses penulisan.

Referensi

Ng, Clara. (2013, 18 Juli). Dimsum terakhir. Gramedia Pustaka Utama.