Kehidupan tanpa perjalanan itu seperti katak yang hidup dalam tempurung (atau) dalam pepatah Cina: katak di dasar sumur).Tetapi perjalanan tanpa memahami “roh’dari tempat-tempat itu juga tidak jauh lebih baik. (hlm 8) 

Agustinus Wibowo, penulis buku perjalanan Garis Batas, Selimut Debu dan Titik Nol  dengan  konsisten memahami roh dari tempat tempat yang disinggahinya. Lalu menuliskannya dengan sangat apik, mengajak pembaca melakukan renungan dan  tak sekadar membaca kata, kalimat dan informasi geografis dan historis tempat tempat unik di dunia.  

Judul Jalan Panjang Untuk Pulang  menurut Agustinus Wibowo dipilih karena menyimpan dua misteri yang mendalam yaitu perjalanan dan pulang. Perjalanan tidak saja menjadi langka saat pandemi melanda yang memasung tiap tiap kita di rumah. Perjalanan kadang bahkan hanya bisa dinikmati oleh orang orang melalui video perjalanan para traveler atau buku-buku perjalanan seperti buku ini.

Jalan panjang perjalanan yang dibentangkan dalam buku setebal 461 halaman ini  sangat berwarna untuk dinikmati bersama. Tempat tempat yang disinggahi itu diantaranya Hefei di Cina ,Mongolia, Afghanistan, Iran,  Australia, Leiden, Papua Nugini, Suriname, Belanda, Uzbekistan, Pakistan, Toraja, Norwich.

Tempat tempat yang seringkali jauh dari kemewahan dan kenyamanan. Kawasan distrik Hefei Ibukota Provinsi Anhui adalah kota asal jaksa legendaris Jaksa Bao. Hefei sedang berbenah  memadukan modernisasi dengan kebanggan masa lalu. Agus menarik musafir kenamaan Cina Xu Xiake dari akhir era Dinasti Ming ke masa milenium.  Berandai andai sang musafir melewati lorong waktu 400 tahun. Melintasi dimensi zaman kembali ke Haungsan yang pernah dikunjunginya pada  tahun 1615 dan 1618.

 Jalan sempit dan berbahaya di tepi tebing yang dilukiskan Xu Xiake dengan  ‘mencari jalan, menghancurkan es untuk membuka jalan’ telah dipermudah dan dipernyaman menjadi perjalanan menaiki undak-undakan.  Sebuah teknik penceritaan ciamik  yang memadukan teks masa lalu, data, pengamatan indrawi dan imajinasi luar biasa.

Dari daratan Mongolia pembaca disuguhi kisah “Para Pemburu Elang” etnis Kazakh di Provinsi Bayan Olgii di ujung barat Mongolia dan “Menapak Jejak Shaman Mongolia”  Bagi orang Kazakh kebanggaan akan elang dan rajawali  bukan hanya muncul secara simbolik dalam hikayat dalam mitologi. Elang adalah bagian dari kehidupan mereka yang nyata. Perburuan elang adalah seni dan tradisi turun temurun yang di dalamnya juga terdapat semangat bertahan hidup keberanian menaklukkan tantangan. Dan lebih daripada itu elang telah menjadi sebuah kebanggan kolektif sebuah identitas.

Garis Batas dan Identitas 

Garis batas sebuah negara  seringkali hanya dibaca di peta dan dipegang teguh oleh para penjaga keamanan perbatasan negara.  Keruwetan batas negara ditunjukkan Agustinus Wibowo  dalam “Tersekat Gunung dan Batas” Kekacauan batas ini menurutnya adalah sebuah desain akbar Stalin agar republic-republik di bawah Uni Soviet tidak akan bisa merdeka. Ketika republik itu benar-benar merdeka maka masalah itu pun meledak. “Kepada Husein si pemilik warung saya menunjukkan peta Varukh dan Lembah Ferghana yang saya bawa. Menyaksikan bahwa Vorukh tampak seperti pulau kecil yang dikelilingi Kirgizstan, dia tercengang. “Mengapa begitu? Kenapa kami bisa berada di dalam Kirgizstan?”  Husein yang berusia empat puluh dua tahun tak pernah sekali pun menyadari bahwa selama ini dia tinggal di dalam sebuah enklaf. (hlm 143)

Perjalanan ke Cina justru menjadi penyadaran bagi Agus betapa Indonesianya dia.  Kesadaran akan identitas diri yang sudah bulat. Tereflesikan dalam paparan “Saya berpikir dan berhitung mental dalam bahasa Indonesia, saya bermimpi dalam bahasa Indonesia. Lidah saya senantiasa merindukan pedas yang khas dari masakan Indonesia. … “Dari segi fisik saya memang Cina secina cinanya. Tetapi saya bisa menunjukkan keIndonesiaan saya lewat pakaian. Saat berkuliah dulu , saya biasa memakai songkok dan sarung ke mana pun saya pergi termasuk saat mengikuti kelas di kampus.

Pelengkap dari pencarian jati diri Agus terlihat pada “Kampung Halaman di Seberang Laut”  Akar. Sekali lagi tentang akar, bagi para perantau yang telah melintasi perjalanan panjang dan hidup dalam identitas yang berdimensi-dimensi , selalu tercipta kerinduan dan fantasi  akan kampung halaman. Perantau Tionghoa di Indonesia bernostalgia tentang negeri leluhur., sementara perantau Indonesia di Tiongkok juga menciptakan fantasi walaupun memori mereka tersekap tentang Nusantara pada era 1960an. Saya telah melewati fase fase itu . Impian tentang kampung halaman di seberang lautan kini tak lagi mendera dan menyiksa batin saya. Perjalanan ke negeri leluhur justru membuat saya belajar menjadikan semua tempat sebagai rumah , semua identitas sebagai ‘akar.”

Bagian terakhir dari buku ini  mengambil judul “Pulang” Diawali dengan “Matinya Agama Tua” Agus memaparkan agama tua yang dikenal sebagai aluk to dolo.Pada mulanya semua orang Toraja adalah pemeluk aluk. Kini jumlah pemeluk aluk tidak lebih dari satu persen dari penduduk Toraja. Aluk melalui berbagai ritual kematiannya adalah cara Toraja memaknai kehidupan dan kematian. Di Toraja kematian justru mempersatukan kehidupan Kematian nenek tua mendatangkan ratusan sanak saudara dari seluruh penjuru Indonesia.

Pulang secara spiritual adalah perjuangan Agustinus Wibowo mengatasi kebosanan,  kesepian dan rasa kehilangan kedua orang tuanya.Pilihan untuk menghadapi kesulitan hidupnya adalah dengan mengikuti kelas meditasi. Tantangan menerapkan BERDIAM DIRI MULIA , mengenali diri . Meditasi membawa Agus pada pemahaman tentang akar dari semua penderitaan. Nafsu keinginan adalah akarnya. Semua dilakukan didasari nafsu keinginan akan perhatian dan pengakuan. Dan jawaban dari persoalan itu adalah jadilah seimbang . Keseimbangan batin yang sempurna. 

Buku Jalan Panjang Untuk Pulang Sekumpulan Tulisan Persinggahan ini semakin menegaskan Agustinus Wibowo sebagai penulis perjalanan yang andal. Meskipun tetap dilengkapi dengan foto-foto hasil jepretan perjalanan yang menarik tetapi terasa kurang greget jika  buku sebelumnya Garis Batas yang fotonya  tampil berwarna dan lebih segar.

Buku ini pun tak sekadar catatan perjalanan secara fisik dengan gaya khas Agus tetapi juga menghadirkan sisi spiritual yang kuat. Menikmati perjalanan panjang untuk pulang Agustinus Wibowo pembaca terpuaskan dengan detail lokasi, tradisi, dan ‘roh' tempat tempat yang jauh itu. Pergi untuk ‘pulang’ adalah napas tunggal kisah-kisah perjalanan Agus yang menawan.

Laris manisnya buku ini yang ditandai dengan langsung habisnnya cetakan pertama (bahkan sebelum diluncurkan) dalam angan-angan  saya dibaca oleh pembaca-pembaca muda yang tertarik untuk melihat dunia yang jauh. Insprirasi  bagi generasi penerus dan lahirnya para petualang berintegritas yang menebar semangat persaudaraan dan perdamaian. Semoga.


Judul Buku          : Jalan Panjang Untuk Pulang  Sekumpulan Tulisan Persinggahan

Penulis                 : Agustinus Wibowo

Cetakan              : 2020

Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal                    : 461 halaman

ISBN                      : 978-602-06-4757-9