Alam begitu merdu, harmonis, juga sangat luas, terlalu luas untuk ditangkap telinga manusia umum. Tapi seniman bisa. 

Ya! Musisi menangkap bunyinya, mengecilkan skalanya dengan tetap menjaga keharmonisannya, bahkan memanipulasinya, memperkayanya, hingga menjadi cerminan dirinya, cerminan kekuasaannya, cerminan kesempurnaannya, lalu dipersembahkan pada mereka yang tuli akan alam. 

Pelukis percaya pada matanya, imajinasinya, dan jadilah dia penguasa atas dunia dengan skalanya. Kemudian sama halnya dengan musisi, dunia yang digenggamnya pun jadi cerminan atas dirinya. Apa yang dilihatnya bertransformasi sesuai dengan dirinya, kesempurnaannya, kuasanya.

Seorang penulis yang membuang-buang waktunya, waktu bersama sahabatnya, keluarganya, untuk merangkai kalimat, menerjemahkan suara hati menjadi bahasa manusia, hingga menjadi cerminan dari isi kepalanya.

Mereka didorong oleh rasa untuk mentransformasikan, memperkaya, menyempurnakan sesuatu sesuai dengan kesempurnaannya. Mereka didorong oleh seni. Mereka dalam keadaan mabuk.

Keadaan tersebut membuat seseorang membuang aspek-aspek pokok. Apa yang dilihatnya, apa yang didengarkan, menjadi begitu kaya, sarat dengan energi. Sama halnya suatu prinsip, suatu ide, mengidealisasikan dunianya, membuatnya menyerah pada hal lain, memberi energi pada hal yang lainnya. Mabuk, menonjolkan yang tertutup, memperkaya yang tampak, mengidealkan dunianya.

Pelukis yang melihat dunianya sedemikian rupa, musisi yang menangkap suara alam, idealis yang keras kepala. Mereka mabuk. Melihat dengan apa adanya? Seorang yang sedang mabuk tidak melihat sesuatu dengan apa adanya; apakah itu baik?

Apakah sebuah lukisan akan baik bila tidak diperkaya? Apakah karya sastra akan menarik tanpa rangkaian kosa kata yang estetik? Bagaimana jadinya jika segalanya dilihat dengan apa adanya? Pertanyaan "apakah itu baik?" mungkin cukup dijawab kembali dengan pertanyaan tadi. Tidak, coba kita buang sedikit waktu lagi.

Mengapa buang-buang waktu menulis hal yang tidak penting, tidak praktis bagi kehidupan? Ya, dia sedang mabuk, mabuk dengan ide, dunianya sudah diperkaya oleh idenya, dan akan sempurna dengan menuangkannya pada kertas, nyata maupun maya.

Lihatlah dia, seorang politisi, berkunjung ke sana-kemari, menjual isi pidatonya, visi dan misinya. Lelah, sudah pasti. Dan istirahat yang cukup adalah salah satu aspek pokok manusia, bukan? 

Kenapa tidak istirahat saja, makan dengan cukup, menghidupi hidup seperti yang lainnya? Ribuan manusia mungkin sudah merasa baik dengan dunianya, mereka cukup berjuang agar mapan, tidak perlu diubah lagi, bukan? 

Ya! Dia sedang mabuk. Dia mengesampingkan hal lain, demi mencapai keinginannya. Demi menyempurnakan visi dan misinya, dia butuh kekuasaan. Bagai sang pelukis yang membuang cukup banyak waktu memperkaya potret dunianya, kemudian memajangnya, memamerkannya, hingga karyanya seakan-akan berkata, "Akulah bukti kekuasaannya, akulah tolok ukur dari kesempurnaanya!"

Apa yang dilakukan para remaja? Apakah mereka terus melakukan rutinitas yang sama? Bermain, sekolah, bersenang-senang, beristirahat. Mungkin ada yang sedang sibuk memikirkan cara untuk mendekati siswi baru di sekolahnya. Bukankah asmara juga hal pokok? 

Ya, namun dia sedikit kehilangan konsentrasi pada pelajarannya. Seorang remaja yang seharusnya fokus untuk persiapan ujian kini lebih fokus merangkai kata untuk mengungkapkan perasaannya, begadang semalaman memikirkan pujaan hatinya. Dia sedang mabuk.

Bisa juga kita balik. Di saat teman sebayanya bermain cinta monyet, dia sibuk menghafalkan rumus dan teori, dia mengesampingkan hal-hal yang lain, demi nilai yang baik, demi cit -citanya. 

Oke, mereka bukan seniman, tidak menghasilkan karya seni, lalu apa yang hendak disamakan?

Seni dan kemabukan, yang mendorong, yang memberi energi, yang memberi kehendak yang kuat, yang tidak melihat dunia dengan apa adanya. Segala macam kemabukan, mabuk amarah, kemenangan, keberanian, seksual, cita-cita, suatu kehendak yang kuat, kita hidup dengannya, kita berjaya dengannya. Seorang politisi, pelukis, remaja yang dimabuk cinta. 

Mabuk, memperkaya apa yang dipandangnya, dirasakannya, didengarnya. Seorang yang mabuk tidak lagi melihat dunia dengan apa adanya, sebuah lukisan yang kaya akan goresan, musik yang indah, karya sastra yang estetik, bayangan para idealis tentang dunia idealnya, memaksanya kebal akan rasa sakit, kebal akan segala rintangan. 

Kembali ke pertanyaan sebelumnya: Melihat dunia dengan apa adanya? Jika mabuk membuat seseorang tidak melihat dunia dengan apa adanya, memperkaya, menggairahkan, artistik, maka melihat dunia dengan apa adanya akan memiskinkan, melemahkan, anti-artistik, identik dengan kepasrahaan, fatalis. 

Tentu manusia tak mungkin semaju ini jika hanya menunggu kawanan singa menghabiskan daging seekor gajah, lalu mengambil sumsumnya setelah kawanan hyena menghabiskan sisa daging yang ditinggal para singa. Kehendak untuk berkuasa, memaksa manusia berpikir untuk maju, mulai dari merakit senjata tajam, hingga menulis undang-undang. 

Kembali kutanya, apa jadinya jika melihat dengan apa adanya? Apa jadinya hidup tanpa ambisi? Apa arti hidup tanpa gairah? Apa arti hidup tanpa seni?