Akhir-akhir ini, kontroversi mengenai kaum LGBTQ muncul kembali berkat sebuah video podcast Deddy Coerbuzier yang mengundang pasangan homoseksual. Ditambah lagi, judul video podcast yang juga tak kalah kontroversial. Sejak saat itu, muncul berbagai narasi mengenai LGBTQ baik yang menolak maupun yang melindungi.

Sebenarnya apa yang terjadi? Di sini penulis ingin melihat fenomena ini dari sudut pandang nilai-nilai yang ingin dibela oleh masing-masing pihak dan kritik penulis terhadapnya.

Nilai Agama: Satu atau Luas?

Satu nilai yang paling menonjol tentu saja dari sudut pandang agama. Ada nilai-nilai agama yang ingin dibela dalam fenomena LGBTQ. Umumnya arah narasinya adalah mempertentangkan LGBTQ dengan kodrat manusia seperti tertulis dalam Kitab Suci sambil mengangkat satu atau dua ayat darinya.

Pertanyaan jujur dan kritis terhadap narasi seperti ini adalah “agama yang mana?” Apakah dari berbagai agama atau hanya dari satu agama saja? Apakah nilai dari satu agama dapat (secara jujur) mewakili nilai dan suara dari agama-agama lain? Jika demikian, bagaimana posisi suatu narasi berbasis keagamaan dalam situasi seperti ini?

Pertanyaan-pertanyaan  seperti ini mungkin belum pernah terpikirkan dan diajukan  namun sebenarnya penting mengingat konteks masyarakat Indonesia yang tidak hanya beragama namun beragama beragam. Dengan demikian, nilai dari satu agama terentu tidak dapat dipaksakan kepada pemeluk agama lain. Bahkan, nilai dari suatu agama tidak dapat dipaksakan untuk dijadikan patokan hidup bersama (seperti menjadi dasar hukum) apabila tidak mewakili nilai-nilai dari agama lain.

Masalah lain muncul karena ternyata dalam satu agama terdapat banyak ahli dan yang mengaku sebagai ahli untuk mengeluarkan suatu tafsir maupun pendapat mengenai hukum atau nilai agama. Di sini sekali lagi kita melihat beragamnya agama dan penghayatan masyarakat terhadap agama dan sebanyak itu pula nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.

Solusi praktis di sini terkesan klise namun dapat membawa dampak besar bagi masyarakat: mau berdialog dan berpikiran terbuka. Kita nampaknya tidak akan pernah bisa mencapai satu pandangan yang sama mengenai agama dan penghayatannya namun bukan berarti jalan untuk berdialog tidak ada. 

Justru kita perlu selalu membuka diri untuk berdialog dengan orang-orang yang memiliki pandangan lain untuk memperluas pandangan kita sendiri. Jangan-jangan pandangan kita sendiri yang terlalu sempit.

Dalam sisi pemikiran sendiri, agaknya pandangan mengenai kata ‘agama’ perlu dipandang secara lebih luas bahkan kembali ke kata yang lebih mendasar dan luas yaitu ‘religiusitas’. Religiusitas di sini bukanlah sikap memeluk suatu agama namun suatu ‘pengikat’ hidup bersama. 

Dan pengikat di sini bukanlah nilai unik dari satu agama yang ‘dipaksakan’ untuk semua namun nilai-nilai universal yang ditemukan dalam masing-masing agama yang dapat disetujui sebagai pedoman hidup bersama seperti nilai-nilai kehidupan, kasih, dan kemanusiaan.

Namun, bukan berarti dialog dan pandangan religiusitas di sini akan menghilangkan nilai unik dari masing-masing agama. Dalam ruang-ruang privat, masing-masing orang dapat dengan bebas memeluk suatu nilai agama apapun. Akan tetapi, ketika seseorang sudah keluar rumah atau memasuki media sosial yang bersifat publik, seseorang perlu membuka diri terhadap dialog.

Kodrat Manusia dan Perkembangan Sains

Narasi lain yang sebenarnya menjadi problematis adalah terkait kodrat manusia. Seseorang yang menganut narasi kegamaan biasanya akan menentang LGBTQ karena memandang LGBTQ tidak sesuai dengan kodrat manusia.

Masalahnya adalah seberapa jauh kita mengenal kodrat manusia?

Jika kita boleh jujur, pengetahuan kita akan manusia kita, diri kita sendiri, masih sangat terbatas. Masih banyak hal yang sains belum temukan terkait manusia. Apalagi ratusan tahun yang lalu ketika kitab-kitab agama pertama kali ditulis.

Apa artinya ini? Karena pemahaman kita akan manusia itu sendiri terbatas maka begitu pula pemahaman kita akan apa yang menjadi kodrat manusia. Misalnya, ratusan tahun yang lalu kita belum memiliki pengetahuan mengenai psikologi dan dengan demikian kita tidak paham akan dimensi psikis manusia. 

Kini, kita memiliki ilmu psikologi dan dengan itu kita dapat mengetahui bagaimana psikis seseorang bekerja. Dengan demikian, pemahaman kita akan apa itu kodrat (dan apa yang bukan) semakin berkembang lewat perkembangan sains.

Di sini, sains ternyata menemukan bahwa memang ada kasus LGBT yang ternyata memang disebabkan faktor-faktor biologis sejak dalam kandungan misalnya karena pengaruh hormon, kromosom, sel, atau perkembangan otak seseorang. Hasilnya, seseorang sejak dalam kandungan bisa saja sudah memiliki kecenderungan untuk menjadi LGBT. Apakah ini bisa disembuhkan? Agaknya sulit atau bahkan tidak mungkin khususnya apabila ini terjadi dalam kromosom seseorang.

Bagaimana dengan psikisnya? Asosiasi Psikologi Amerika misalnya, telah mencabut stigma penyakit mental dari orientasi seksual lesbian, homoseksualitas, dan biseksual. Malah ‘mengobati’ orientasi seksual seseorang yang memang sejak lahir sudah memiliki orientasi sebagai lesbian, homoseksual, dan biseksual dapat memberikan dampak buruk bagi psikis seseorang.

Dengan penemuan ini, alih-alih memandang LGBT sebagai penyakit yang harus disembuh, mengapa kita tidak melihat LGBT sebagai kenyataan bahwa LGBT memang ada? Akan tetapi, sekali lagi, pandangan LGBT sebagai kenyataan yang just exist pun bagi sebagian orang masih dirasa dilematis. Perlu sebuah nilai-nilai tertentu yang menjadi tolok ukur.

Di sini, agama perlu dengan rendah hati mengakui bahwa ia masih perlu berefleksi lagi secara mendalam mengenai manusia berdasarkan penemuan-penemuan yang ada. Bukankah agama adalah untuk orang-orang yang berpikir?

Nilai Kemanusiaan: Bebas atau Bablas?

Di kubu yang lain, mereka yang melindungi atau bahkan mendukung praktik LGBT biasanya memakai nilai-nilai kemanusiaan yang didasarkan pada pemikiran dasar bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang bebas. Namun, pandangan seperti ini juga memiliki masalahnya sendiri.

Masalah paling mendasar adalah apa sebenarnya makna dari kebebasan? Sebagian orang mungkin berpikir bahwa bebas artinya bebas melakukan apapun. Akan tetapi mari kita bayangkan, bila saya bebas melakukan apapun, apakah Anda suka bila saya dengan kebebasan saya memilih untuk mengganggu Anda? Saya adalah manusia yang bebas kan?

Orang sering kali lupa bahwa kebebasan juga memiliki dimensi sosialnya. Dari contoh sederhana tadi, kebebasan kita sejatinya dibatasi oleh kebebasan orang lain. Di sinilah rasa saling menghargai dan menghormati batasan-batasan antara yang pribadi dan hidup bersama diperlukan. 

Secara sederhana, kita memang bebas namun kita memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab atas pilihan-pilihan bebas kita terutama dalam hidup bersama; bila Anda memilih untuk berbuat jahat maka Anda harus siap menerima hukuman.

Tindakan memilih ini sebenarnya memiliki makna yang mendalam akan kebebasan. Ketika seseorang memilih secara sadar, ia mengekspresikan dirinya. Dan dalam segi pribadi, seseorang bebas memilih untuk melakukan apapun selama tidak merugikan orang lain. 

Dalam pemaknaan tubuh, seseorang dapat memilih apapun bagi tubuhnya: makanan, minuman, olahraga selama dampaknya menjadi miliknya sendiri.

Begitu pula dalam menghadapi LGBT dalam narasi kemanusiaan. Di satu seseorang manusia termasuk LGBT memiliki kebebasan terhadap tubuhnya namun di sisi lain juga memiliki tanggung jawab secara sosial. Artinya, seorang LGBT berhak memiliki orientasi seksual apapun namun akan menjadi pelanggaran apabila ia memaksakan hak mereka tersebut kepada orang lain seperti memaksa orang lain menjadi LGBT.

Solusi: Buka Dialog Kehidupan

Sekali lagi solusi praktis pertama yang penulis tawarkan adalah membuka diri untuk berdialog. Namun sekarang, tidak hanya soal kita dan sesama kita yang memandang dan menghakimi LGBT dari jauh. Siapa yang paling mengerti LGBT sehingga paling tepat untuk diajak berdialog mengenai LGBT? Itu adalah kaum LGBT itu sendiri.

Kita terlalu sibuk menghakimi apakah LGBT itu boleh atau tidak namun kita sering kali lupa bahwa mereka adalah manusia yang memiliki cerita dan kisah penderitaannya. Kita sering kali hanya melihat mereka sebagai masalah namun tidak melihat sisi-sisi manusiawi mereka. Oleh karena itu, yang penulis tawarkan adalah berdialoglah dengan LGBT terlebih dahulu.

Dialog inilah yang kemudian akan menjernihkan berbagai sudut pandang kita. Bagaimana mereka menjadi LGBT, suka duka mereka, apa yang sebenarnya mereka inginkan, bagaimana mereka memandang masyarakat dan Tuhan, ini semua akan terjawab lewat dialog.

Apa tidak takut tertular? Bila kita paham sungguh-sungguh mengenai LGBT, LGBT tidaklah ‘menular’; apabila kita memang terlahir dengan orientasi heteroseksual maka kita akan tetap hetero dan jijik melihat hubungan homoseksual. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam berdialog dengan LGBT.

Bagaimana dengan penuli sendiri? Penulis bisa bicara seperti ini justru karena penulis memiliki teman-teman yang ternyata LGBT. Dari situlah penulis tahu bagaimana suka duka mereka dan bagaimana frustrasi mereka ketika mereka tidak dapat mengekspresikan diri mereka secara bebas; sesungguhnya mereka juga menderita. Apakah kalian pernah berpikir bahwa mereka adalah orang yang menderita?

Berdialoglah dengan mereka dan jernihkan pandangan terhadap mereka. Baru dari situ kita sungguh-sungguh dapat memosisikan diri secara tepat bagi mereka.

Lagipula, bila LGBT memang sebuah penyakit, bukankah kalau kita memiliki teman yang sakit kita akan mendorongnya untuk berobat dan bukannya malah menjelek-jelekkan dia dan mendoakan dia agar cepat mati? Silakan direnungkan kembali.

Namun di manakah posisi penulis? Penulis menghargai setiap individu LGBT sebagai seorang pribadi, sebagai seorang manusia. Penulis menghargai orientasi mereka dan tidak akan menjelekkan mereka karena toh menjadi LGBT yang asli sejak lahir sudah merupakan penderitaan bagi mereka dan sebatas fakta bahwa seseorang menjadi LGBT tidak akan mengubah apapun bagi hidup. 

Akan tetapi, bila mereka memaksa saya untuk menjadi LGBT atau memperlakukan saya secara tidak menyenangkan karena orientasi mereka, saya akan tetap melaporkan mereka, bukan karena semata-mata mereka LGBT tetapi karena perbuatan mereka yang melanggar hukum dalam hidup bersama.