Sulung, sebuah sebutan bagi anak pertama dalam sebuah keluarga. Saat ini beberapa orang mulai membahas mengenai si sulung yang diutarakan melalui tulisan maupun lagu.

Tampaknya menjadi seorang sulung mempunyai daya tariknya sendiri. Namun apa sebenarnya hal yang dirasakan menjadi seorang sulung. Serta apa saja harapan yang diberikan pada sulung.

Beberapa cerita dari pengalaman teman-teman, mereka merasakan beberapa hal yang terjadi pada dirinya sebagai seorang sulung. Tekanan dari keluarga yang paling besar dirasakan kepada kedudukan seorang anak sulung.

Sejak kecil mungkin secara tidak sadar orang tua sudah mulai memberikan tuntutan pada sulung. Seperti yang terjadi ketika seorang anak di usianya mungkin 4-6 tahun, kemudian ia memiliki seorang adik, maka mulai dari sinilah tuntutan pada sulung muncul.

Orang tua akan mulai menggantikan nama panggilan menjadi sebutan ‘kak’. Panggilan ‘kak’ tersebut merupakan sebuah simbol yang bermakna bahwa, anak tersebut saat ini berkedudukan sebagai seorang ‘kakak’ yang memiliki makna bahwa ia telah mempunyai tanggung jawab baru kepada adiknya.

Simbol dan makna kata ‘kak’ tersebut merupakan suatu hal yang dipelajari selama interaksi. Mead mengatakan bahwa simbol dan makna tidak diciptakan secara mental, namun karena dipelajari selama interaksi selama proses sosialisasi. (Ritzer, 2016)

Proses yang dipelajari tersebut dilakukan dalam proses sosialisasi yang diterapkan oleh keluarga. Keluarga mensosialisasikan bahwa sebagai anak sulung harus menjadi contoh, bersikap baik dan hal yang lainnya.

Selain penyebutan dan makna yang terkandung didalamnya, terdapat hal lain yang diharapkan pada si sulung. Sulung diharapkan mampu menjadi panutan bagi adik-adiknya, padahal mungkin di usianya si sulung juga belum bisa menjadi panutan tersebut.

Seperti yang dikatakan oleh paradiba ia mengatakan bahwa “kakak layaknya gerbong utama dalam sebuah kereta, yang lain mengikuti walau sebenarnya aku belum pantas untuk dijadikan panutan”.

Kata-kata seperti yang dijelaskan Paradiba tersebut, mungkin pernah diucapkan oleh beberapa orangtua. Dalam hal ini sulung akan mulai berpikir bahwa ia harus mulai memikirkan segala tingkah lakunya yang secara tidak langsung memberikan tekanan psikologis bagi si sulung.

Tidak hanya sekedar memberi contoh, ketika sulung sudah beranjak dewasa dan telah selesai sekolah misalnya. Akan muncul lagi tuntutan lainnya seperti kapan kerja, kapan menikah, kapan bisa membantu ekonomi keluarga tuntutan lain yang membuat sulung merasa tertekan.

Terkadang mungkin lingkungan sekitar yang paling dekat keluarga, tidak menyadari bahwa kondisi psikologis sulung merasa tertekan akan hal yang diberikan. Sulung juga mungkin saja merasa tidak enak hati jika berkeluh kesah kepada adiknya atau orang tuanya.

Hal lainnya yang harus dihadapi yang mungkin cukup berat adalah, ketika kedua orang tua mengalami perdebatan kecil dalam keluarga. Sulung mau tidak mau berusaha untuk menjadi penengah atau melindungi adik-adiknya agar tidak mengetahui perdebatan tersebut.

Mungkin tidak ada yang salah jika orang tua menaruhkan harapannya pada anak. Namun menurut Elizabeth Hurlock salah satu hal penting yang dapat mendukung kebahagian anak yaitu, orang tua memberikan harapan-harapan yang realistis.

Memberikan harapan yang realistis yang dimaksud adalah, agar anak memperoleh kesempatan yang wajar untuk meraih kesuksesan. Melalui hal itu diyakini bahwa nantinya anak tersebut akan mendorong konsep diri yang baik. (Hurlock, 1980)

Konsep diri yang baik dimaksud agar anak mampu memahami perannya sendiri sebagai seorang kakak misalnya. Sering berjalannya waktu dan proses interaksi maka anak akan dengan sendirinya menyadari perannya dalam lingkungan.

Maka dari itu alangkah lebih baik jika, orang tua tidak memberikan simbol atau memberikan makna khusus pada sulung, untuk mencapai sebuah kesuksesan. Atau memberikan pengharapan yang terlalu besar dan tidak realistis pada sulung.

Dilematisnya menjadi seorang sulung ketika sebenarnya ia membutuhkan orang lain yang tidak memberikan tuntutan apa pun kepadanya. Dilematis ketika harus tetap berjuang sekuat tenaga agar tetap kuat dan tidak terlihat lemah.

Bagi Hana ia mengatakan bahwa menjadi seorang sulung adalah proses di mana individu terbentuk psikis dan juga fisiknya. Psikis dan fisik tersebut secara tidak sadar terbentuk dengan berbagai hal yang dihadapi oleh sulung.

Permasalahan serta kondisi yang dihadapi oleh anak sulung, serta tuntutan dan harapan yang diberikan, bagi Hana adalah bagian dari proses pendewasaan. Proses dimana kita sebagai seorang individu mendapatkan pembelajaran yang membentuk fisik dan psikis yang kuat.

Namun patut diapresiasi bahwa menjadi sulung tidak mudah, menjadi seorang sulung merupakan sebuah anugerah dari Tuhan bagi manusia-manusia yang kuat. Karena Tuhan tidak pernah menjatuhkan amanah pada pundak yang salah.

Kepada seluruh sulung di seluruh dunia, mari kita bersama-sama saling menguatkan. Kepada yang tidak menjadi sulung mari kita sama-sama saling memahami satu sama lain. Karena dalam hidup ini memerlukan kekuatan dari orang lain.