Berangkat dari pengalaman saya saat ini yang menyandang status sebagai mahasiswa jurusan Matematika di Universitas Sulawesi Barat. Sebuah ironi dan terkadang menjadi kegelisahan yang terus menggelitik kenapa mesti terjebak dalam jurusan tersebut, dan sampai sekarang saya belum mampu bersahabat dengannya secara baik.

Mungkin juga dari kita pernah merasakan hal yang sama, salah jurusan masuk kampus. Pengennya jurusan itu, tapi malah lulus di jurusan lain yang justru sangat tidak mendukung passion kita. Kalaupun ada, begitulah nasib yang sedang saya alami sekarang ini.  Saya sebenarnya tidak tahu, apakah ini yang terbaik telah dititipkan Tuhan kepada saya atau bagaimana. Tapi, sampai saat ini saya belum bisa merasakan bagaimana nikmatnya berada di jurusan Matematika.

Awalnya saya berfikir bahwa berada di jurusan Matematika tidaklah terlalu rumit, seperti pada saat di tingkatan sekolah SMA/sederajat, palingan hanya menghitung angka-angka dengan deretan rumus yang sudah disediakan. Meskipun itu sungguh sulit dan tidak sedikit orang yang menyukainya, tapi masih ada rasa yang tersimpan dalam diri saya untuk bisa menyukainya waktu itu. 

Tetapi keadaan berkata lain justru minat tersebut berubah 180 derajat pada saat berada di bangku kuliah. Dan saat ini pada catatan saya, Matematika masuk kategori pelajaran yang saya tidak suka.  

Ada dilema yang saya rasakan di jurusan Matematika, dilema tersebut lahir karena tidak mampu menemukan kolaborasi dengan passion saya. Entah, kenapa sangat membingungkan pelajaran yang saya dapatkan yang tidak lagi banyak menghitung, tetapi lebih banyak membuktikan. Membuktikan rumus-rumus yang sudah ada dari para ahli, teorema dan itu pasti akan menguras banyak fikiran karena harus dapat memahami simbol-simbol.  

Selain itu, kolaborasi antara Matematika dengan dunia organisasi juga sangat berbeda, termasuk organisasi gerakan. Di organisasi akan lebih banyak berbicara dunia sosial dan pergerakan, sementara di kampus justru harus lebih fokus dalam mengerjakan soal-soal yang berbentuk angka dan simbol yang sulitnya sungguh tidak mampu dibayangkan.  

Mungkin hal itu yang menjadi alasan kenapa di kampus yang saya tempati di Unsulbar, jurusan Matematika yang paling sedikit mahasiswanya untuk berorganisasi. Begitupun dengan jumlah mahasiswa yang mendaftar setiap tahunnya, hanya jurusan Matematika yang paling sedikit dari semua jurusan yang ada. Sehingga itu berefek pula pada minat untuk berorganisasi seperti organisasi gerakan dan sosial.  

Entah, karena anak Matematika memang tidak manerima motivasi untuk ikut organisasi gerakan, atau karena tidak ada ruang dan waktu untuk ikut berorganisasi. Mengingat keadaan yang saya rasakan dimana hampir setiap harinya selalu dan pasti dipertemukan dengan tugas-tugas kampus yang tidak lepas dari angka-angka dan simbol-simbol yang harus dibuktikan.

Jelas kondisi tersebut dapat memakan banyak waktu seharian full hanya untuk bergelut dengan tugas-tugas kampus. Saya tidak tahu pasti, apakah management waktu saya yang kurang baik sehingga ketika mengerjakan satu mata kuliah justru dapat memakan waktu satu hari. Bayangkan itu hanya satu matakuliah dan satu hari juga untuk mengerjakannya.

Lalu, bagaimana kalau ada tiga matakuliah yang bersamaan diberikan dalam satu hari, ditambah pula dengan deadline yang tidak panjang.  Woaw,  pasti mempusingkan, dan terkadang juga harus ambil jurus-jurus jitu agar tugas tersebut dapat selesai,  bagaimana pun caranya.

Saya biasa iri dan cemburu dengan teman-teman yang lain, termasuk teman-teman organisasi. Mereka dengan santainya bercanda, berdiskusi dan seakan tidak ada tugas kampus yang menghampirinya. Karena memang kondisinya yang berbeda, jurusan Matematika dengan jurusan ilmu sosial, tentu tidak akan sama dengan tugas yang akan diberikan.

Jurusan dengan ilmu sosial dapat dengan mudah mengerjakan tugasnya hanya dengan sekilas bertanya kepada bapak google, dengan itu juga bapak google sekilas akan menjawabnya.  Sedangkan jurusan Matematika tidak, dari sekian banyak situs yang dibuka, tidak akan ada jawaban yang diberikan oleh bapak google mengenai pertanyaan yang dilontarkan. Palingan yang bisa diberikan hanyalah bentuk soal yang mungkin agak mirip, namun sulit untuk dikerjakan jika memang tidak tahu alur dan konsepnya.  

Itulah mengapa, mengambil jurusan Matematika tidak cukup kalau hanya menjadi tempat yang tidak di duga-duga memang sebelumnya. Kalau memang tidak minat sama jurusan Matematika, lebih baik jangan pernah mencoba-coba. Karena kondisi seperti ini, bukan hanya saya yang merasakannya. 

Bahkan teman-teman seangkatan dari jurusan Matematika banyak yang pindah jurusan, ada juga berhenti kuliah karena tidak mampu menerima terpaan saat mengambil jurusan Matematika.