Setelah menonton Indonesia Lawyers Club, atau biasa disingkat dengan ILC ini, hal yang sangat menarik dilihat bagi kaum Adam, penulis sendiri tertarik, yaitu cahaya yang mengkilap ditampilkan oleh Tsamara Amany. Mungkin tak dipungkiri lagi kalau dia cantik, salah seorang narasumber yang termuda yang pernah hadir di acara kondang itu.

Seandainya dia jomblo dan membaca tulisan ini, mungkin penulis bisa nge-date sama dia. Namun, kali ini kita tak membahas antara satu cinta sepasang kekasih, melainkan cinta kita kepada negeri ini, yaitu semangat nasionalisme kita.

Semangat nasionalisme adalah hal yang wajib bagi setiap warga negara. Itu tergambarkan pada saat kita menonton sepak bola bersama. Pada saat pertandingan sedang berlangsung, kita merasakan betapa tegangnya kita seakan-akan kita takut kalah dengan negeri lain. Inilah bukti bahwa ada suatu semangat sosial, semangat pemersatu kita.

Tetapi itu sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh para mahasiswa. Ketika mereka berdemo, disangka merusak jalanan, dan menganggu masyarakat. Padahal mereka melakukan hal itu karena negeri yang mereka cintai.

Lucunya juga, mereka tak lepas dengan kritik yang pada kenyataannya mereka cuma melakukan demo tak setiap hari. Namun, sudahlah itu sudah menjadi masa lalu penulis yang sekarang sudah tak mahasiswa lagi (tapi masih tetap jomblo). Jika kita mengkaji nasionalisme, kita akan mendapati bahwa nasionalisme tak akan lengkap tanpa adanya pengorbanan. Dan juga, tak kalah pentingnya adalah sentimen yang dihasilkan dari sebuah konflik.

Sentimen ini yang terdiri dari semangat kolektif yang dimiliki oleh setiap anggota dalam sebuah komunitas akan membawa sebuah pengorbanan. Mungkin kita sebagai penonton merasakan sentimen hal serupa, seperti saat kita menonton pertandingan bola. Sedangkan apa yang dirasakan pemain atau mungkin mahasiswa itu sangat berbeda. Mereka merasakan yang namanya pengorbanan.

Jadi, nasionalisme akan selalu membutuhkan pengorbanan. Di universitas-universitas, biasanya kita temukan sebuah idealisme sentimen serupa tercipta di antara para mahasiswa, apalagi yang dianut dalam organisasi. Kita membutuhkan sentimen ini, agar kita rela berkorban. Konflik diciptakan bukan hanya menjadi masalah tapi pemersatu. Tak seharusnya masyarakat pandai mengkritik, tapi mereka juga harus melihat bahwa mahasiswa juga adalah bagian masyarakat.

Mari kita membahas sentimen ini terlebih dahulu. Sentimen sifatnya sangat bersejarah dibandingkan pengorbanan sebagaimana disebutkan di atas. Misalnya, apa yang terjadi pada waktu Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang. Konflik-konflik menimbulkan ketegangan dan pada akhirnya sentimen ini membutuhkan pengorbanan.

Yang menariknya lagi, sentimen yang orang dulu tidaklah bersifat pribadi atau personal, atau bisa dikatakan bukan hanya seorang saja merasakan tapi melainkan sebuah komunitas. Dari sentimen komunitas ini menghasilkan yang biasa disebut sebagai kesadaran kolektif.

Dulu Indonesia tidak ada, dulu negeri ini bukan namanya Indonesia. Tapi dengan adanya sentimen komunitas, maka langkah selanjutnya adalah pengorbanan. Dan pengorbanan ini dikenang dan disatukan sehingga bernama Indonesia.

Kaitkan dengan konteks sekarang. Para mahasiswa rela berpanas-panasan, merasakan manisan dan pahitannya abu asap tangis yang disebarkan oleh salah satu aparatus negara agar harga bahan minyak menurun. Mereka rela dengan melakukan ini atas nama nasionalisme.

Namun, berbeda dengan paham sekarang. Pengorbanan kadang tak murni lagi sebuah nasionalisme. Inilah teori yang dibawakan oleh seorang professor yang berfokus pada kajian internasional, Benedict Anderson. Beliau melihat bahwa ada sebuah penyimpangan yang terjadi pada konsep pengorbanan itu. Itu tidak lain adalah politik.

Dengan adanya pengorbanan yang dimotivasi oleh sentimen sosial, pasti setiap orang mau melakukan hal demikian karena itu sebuah perasaan kolektif. Jika aparatus negara berkonflik dengan mahasiswa, itu tidak lain merupakan kepentingan-kepentingan politik yang memotivasinya. Dan itu adalah hal yang sangat tak wajar, apalagi jika menimbulkan korban jiwa. Ini merupakan hal yang sangat dilematis dirasakan oleh setiap orang yang mempunyai semangat nasionalisme yang tinggi di dalam dadanya (namun kasihan yang tak memiliki seorang kekasih).

Tsamara mungkin tak sadar akan hal ini (maaf). Kalau ia sadar, maka beruntunglah dia. Karena amat disayangkan jika banyak jiwa muda-mudi dikorbankan hanya untuk kepentingan politik. Namun, penulis yakin kalau Tsamara berbeda (berharap tulisan ini juga dibaca olehnya).

Yang kedua yang dikritik oleh Benedict Anderson adalah semangat kolektif yang biasanya mengaburkan ketidaksadaraan ekonomi. Ketidaksadaraan ekonomi mungkin masih kabur bagi kaum awam. Namun, berbeda ketika orang yang bergelut dengan dunia politik. Mereka sadar akan semangat kolektif seperti ini. Sehingga dengan mudahnya bagi mereka memainkan struktur yang dimiliki negara.

Ideologi-ideologi nasionalisme disebarkan, sedangkan mereka mungkin pada saat itu sedang bersantai. Dan tidak hanya itu, keuntungan struktur juga sangat menggiurkan. Bayangkan jika kita seorang kepala dalam sebuah instansi atau perusahaan, kita mungkin menyalahgunakan jabatan itu sehingga kinerja dari struktur itu hanya bersifat simbolik belaka bagi kita. Simbolisme sudah menjadi darah daging dan mengalir di dalam tubuh kita.

Bayangkan apa yang terjadi ketika kita menyadari bahwa akan selalu ada ketidakseteraan ekonomi yang diramu oleh pengorbanan, dan ditambah lagi kita memiliki jabatan tertinggi di dalam suatu negara, maka dimensi kita akan negara bukan lagi sebagai kenaifan yang diciptakan oleh nasionalisme, melainkan sebuah hutan yang tak ada lagi jiwa kemanusiaan.

Apa yang terjadi di ILC misalnya, dengan judul yang sangat memukau, bisa dikatakan bahwa mereka yang ada di dalam melakukan sebuah tindakan dialektis. Mereka berdiskusi. Di antara mereka ada yang bersifat realistik, dan ada juga yang idealis. Namun menariknya adalah jika hasil diskusi itu tidak mempengaruhi kita melainkan hanya permainan logika semata.

Sebagai penutup, marilah kita melakukan introspeksi diri, dan bertanya apa yang telah kita lakukan untuk negeri ini? Apakah kita masih menyandang status single agar kita tak mudah termakan oleh politik? Ataukah itu hanya ekspresi geografis belaka? (Mohon maaf mbak Tsamara dengan gambar pada tulisan ini)