Karyawan Swasta
1 bulan lalu · 14 view · 6 min baca menit baca · Gaya Hidup 31087_68523.jpg
http://www.jadiberita.com

Dilematika Kertas Dan Pengolahan Yang Inovatif Sebagai Solusi

Sejak ditemukan pada tahun 105 Masehi di Cina, kertas memiliki peran yang penting dalam kehidupan manusia. Kertas sudah tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia saat ini. Dalam dunia pendidikan, kertas menjadi bahan baku untuk membuat buku, baik buku tulis maupun buku bacaan. 

Dalam dunia kerja, kertas digunakan untuk membuat laporan keuangan, baik jurnal maupun laporan laba-rugi. Dalam kehidupan sehari-hari, kertas umumnya digunakan untuk membungkus makanan.

Menurut data Kementerian Perindustrian, tahun 2018 produksi kertas mencapai 13 juta ton, yang berarti mengalami peningkatan permintaan dari tahun sebelumnya yang hanya 12 juta ton. Peningkatan permintaan kertas ini menjadi dilema tersendiri. 

Dengan meningkatnya jumlah permintaan terhadap kertas, berarti meningkat pula jumlah pohon yang harus ditebang. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kertas terbuat dari kayu yang umumnya berasal dari pohon papyrus, mulberry, dan pinus.

Banyaknya jumlah pohon yang ditebang akan berdampak pada kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan ini tak jarang dapat menimbulkan bencana alam. Beberapa bencana alam yang kerap terjadi akibat kerusakan lingkungan antara lain: pemanasan global, banjir bandang, tingkat polusi yang terus meningkat, dan berkurangnya jumlah flora dan fauna penghuni asli hutan tersebut. Untuk itulah diperlukan kesadaran seluruh pihak untuk melakukan aksi nyata untuk mengurangi dampak penggunaan kertas terhadap lingkungan.

Sejak beberapa tahun lalu, penggunaan kertas untuk membuat buku bacaan mulai dikurangi, dan di gantikan dengan e-book yang dapat dibaca melalui gawai yang kita miliki. Bukan tanpa resiko, karena setiap kebijakan pasti memiliki resiko, baik positif maupun negatif. 

Menurut penelitian tentang eyestrain yang dilakukan oleh Environtment Health and Safety Iowa State University, membaca menggunakan perangkat elektronika dapat menyebabkan penglihatan buram dalam waktu singkat, pusing, dan sakit mata. Hal ini disebabkan oleh Binocular Insufficiency, dimana mata tidak dapat mengikuti tulisan dengan baik pada perangkat elektronik.

Begitu pula dengan penggunaan plastik atau sterofoam untuk menggantikan fungsi kertas sebagai pembungkus makanan. Plastik atau sterofoam dapat menimbulkan masalah baru yang tidak kalah pelik. Untuk pembuatan plastik sebanyak 500 juta sampai 1 milyar, membutuhkan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon. 

Selain itu, sampah plastik ini pun menimbulkan masalah lagi, karena senyawa biologis plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna, sehingga dapat mencemari tanah, air, dan udara.

Karena itulah, sampai saat ini permintaan kertas tetap tinggi. Walau dapat dikurangi penggunaannya, namun belum dapat digantikan dengan bahan lain yang ada. Walau penggunaan kertas masih tinggi, kerusakan terhadap alam akibat penggunaan kertas dapat diminimalisir asalkan individu yang terlibat dalam industri kertas ini (produsen dan konsumen) memiliki kesadaran yang tinggi untuk bersama menjaga kelestarian alam. 


Tahun 2006 yang lalu, sudah diperkenalkan prinsip eco label yang berfungsi untuk mendorong industri agar ramah lingkungan dan menyadarkan konsumen untuk turut serta menjaga lingkungan dengan cara mengkonsumsi produk eco label.

Eco label adalah sertifikat suatu produk untuk memberikan keterangan kepada konsumen bahwa produk tersebut dalam siklus hidupnya memicu dampak negatif terhadap lingkungan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan tanpa tanda eco label (Sammer dan Wustenhagen, 2006). 

Sayangnya, dalam penelitian yang ada, kesadaran masyarakat untuk membeli kertas bertanda eco label masih sangat rendah. Hal ini karena harga jual kertas bertanda eco label cenderung lebih mahal, tidak banyak retail yang menjual produk ramah lingkungan, produsen cenderung enggan memasang tanda eco label pada produk yang dihasilkan, dan minimnya edukasi terhadap masyarakat mengenai pentingnya penggunaan produk bertanda eco label.

Di sisi lain, produsen harus mencari sumber bahan baku lain mengingat ketersediaan kayu semakin langka dan terbatas. Produsen dapat bekerjasama dengan peneliti-peneliti di perguruan tinggi untuk menciptakan kertas yang ramah lingkungan, karena sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mencari sumber lain pengganti kayu untuk dijadikan bahan baku pembuatan kertas. 

Bahan baku alternatif pengganti kertas yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan kertas antara lain: limbah kulit kacang, bulu ayam, limbah sludge, limbah koran, dan serat abaka. Dengan begitu, dampak kerusakan lingkungan akibat produksi kertas dapat diminimalisir.

Kertas biasanya terbuat dari kayu dengan kadar selulosa sebesar 39 persen. Untuk itu, butuh bahan lain selain kayu yang memiliki kandungan selulosa. Salah satu referensi yang dapat digunakan adalah penelitian tentang pemanfaatan kulit kacang dan bulu ayam sebagai alternatif pembuatan kertas yang dilakukan oleh Aminah Asngad dkk dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. 

Diketahui, kulit kacang memiliki kandungan selulosa sebesar 63 persen. Sedangkan bulu ayam memiliki struktur a helik dan di dalamnya terdapat sembilan asam amino sistein (C) dari total 98 residu asam amino dan 6 residu sistein ini akan membentuk kekuatan mekanik pada bulu.

Untuk proses pembuatannya, kulit kacang dan bulu ayam di buat menjadi bubur kertas atau pulp menggunakan bahan kimia dengan proses sulfat. Keunggulan proses sulfat yakni cocok untuk semua jenis bahan serat, kekuatan lembaran pulp juga relatif lebih tinggi, delignifikasi berlangsung cepat dengan degradasi selulosa relatif kecil, dan daur ulang kimia relatif lebih mudah. 

Pada proses ini, kulit kacang dan bulu ayam ditambahkan larutan NaOH atau CaO yang berfungsi unuk melarutkan lignin saat proses pembuburan (pulping) sehingga mempercepat proses pemisahan dan pemutusan serat. Hasil kertas yang didapat tergantung komposisi perbandingan antara kulit kacang, bulu ayam, NaOH, dan CaO.

Selain kulit kacang dan bulu ayam, sumber bahan baku alternatif lainnya adalah merang dan pelepah pisang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prabawati dkk (2008), terlihat bahwa merang dan pelepah pisang dapat digunakan sebagai bahan alternatif pembuatan kertas yang ramah lingkungan. 

Kertas yang dihasilkan pun tidak kalah dari kertas yang menggunakan bahan dasar kayu. Justru kertas berbahan merang dan pelepah pisang memiliki kelebihan dibanding kertas berbahan kayu. Kelebihannya antara lain: corak yang unik dan warnanya yang terlihat khas.

Selain bahan alternatif yang telah disebutkan diatas, ada pula limbah sludge, kertas koran bekas, dan serat abaka yang dapat dijadikan bahan baku alternatif pembuatan kertas. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Han Roliadi dan Rena Siagian, limbah sludge, kertas koran bekas, dan serat abaka dapat dijadikan bahan baku alternatif pembuatan kertas. 

Untuk proses pembuatannya, ketiga bahan ini dibersihkan dari kotoran dan tinta. Selanjutnya ketiga bahan ini dibuat pulp, sedangkan untuk pembuatan pulp pada kulit batang abaka diolah melalui proses semi kimia soda panas. Setelah ketiga bahan ini menjadi pulp, tinggal dicampurkan dengan perbandingan sesuai yang diinginkan, lalu campuran ketiga bahan pulp tadi dapat dicetak.

Selain perbaikan di hulu industri kertas, kita juga harus perbaiki proses di hilir industri ini. Karena permintaan jumlah kertas yang banyak, tentu akan menghasilkan sampah kertas yang banyak pula. Untuk itu perlu upaya kreatif dan inovatif untuk mengolah sampah-sampah kertas ini menjadi bernilai ekonomis.

Adalah Nezatullah Ramadhan, seorang pria kelahiran 28 tahun silam yang sukses mengolah sampah kertas menjadi kerajinan bernilai ekonomis tinggi. Ia bersama dua rekannya mendirikan nara kreatif, yaitu kewirausahaan sosial yang tidak hanya berfokus pada pengolahan sampah kertas, melainkan juga masalah sosial. 

Ia mengaku, awal pendirian nara kreatif diawali keprihatinannya pada jumlah sampah yang mencapai 65,8 juta ton pertahun, dengan sampah organik sebanyak 60 persen, sampah kertas 9%, sampah plastik 14%, dan sampah sisa material 14 persen.

Dari sampah kertas ini, nara kreatif sukses membuat kerajinan yang cantik diantaranya, stationery dan tanda pengenal, wallpaper kertas daur ulang, kartu nama, kartu ucapan, dan kartu undangan, berbagai macam aksesoris, paper bag, tas, souvenir, dan lain-lain. Ia mengaku, seluruh profit yang ada digunakan untuk  menutupi biaya operasionalnya. 

Hingga saat ini, nara kreatif memiliki 30 anak asuh, 104 siswa yang telah lulus dari sekolah kejar paket, 5 orang berhenti menjadi tuna wisma, 10 orang mendapatkan bantuan modal usaha, 6 orang mendapatkan beasiswa perguruan tinggi, 253 siswa kejar paket, dan 3 orang telah mendapat pekerjaan lain di sebuah perusahaan. Dengan upaya yang kreatif dan inovatif, bukan hanya masalah sampah yang dapat teratasi, melainkan juga masalah sosial lainnya seperti putus sekolah dan pengangguran.


Artikel Terkait