33 butir rekomendasi Kongres Bahasa Indonesia 2013 untuk pemerintah dan sejumlah kegiatan para pahlawan dalam memanfaatkan Bahasa Indonesia untuk pembangunan NKRI, berkaitan dengan kesadaran metabahasa. Namun dalam mengisi kemerdekaan telah terjadi pemerkosaan terhadap kesadaran metabahasa itu sendiri, Sandarupa dalam (Kompas, 4/12/2013)

            Puncak deklarasi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Indonesia terjadi pada tanggal 28 Oktober dimana hari itu merupakan hari sumpah pemuda bersamaan dengan puncak peringatan bulan bahasa dan sastra. Penanda deklarasi tersebut ditandai oleh metabahasa ‘Mengdjoendjoeng’ dan metabahasa awal ‘bersoempah’. Dari peristiwa sumpah pemuda itulah yang pembacaannya hanya beberapa menit saja namun mampu mengubah realitas bahasa Indonesia sampai sekarang sebagai bahasa pemersatu bangsa.

            Namun apa yang dikhawatirkan sekarang ini adalah terjadinya pemerkosaan kesadaran metabahasa tersebut. Salah satu bentuknya yang paling umum adalah kesalahan tata bahasa dan ejaan. Sedangkan di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini pemerkosaan kesadaran metabahasa terjadi pada ranah campur aduk dengan bahasa asing khususnya bahasa inggris. Hal inilah yang membuat beberapa pemerhati bahasa khawatir akan hilangnya kemurnian dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

            Berbagai kalangan berusaha mempertahankan keaslian bahasa Indonesia baik dalam penulisan maupun pengucapan. Namun, usaha itu bagaikan melangkah melawan arus sungai yang meluap dengan intensitas globalisasi sebagai gambaranya luapan arusnya. ‘Campur kode keluar’ merupakan bentuk nyata pemerkosaan metabahasa saat ini.

Campur Kode

Campur kode merupakan istilah dalam Sosiolinguistik dimana terdapat penggunaan bahasa Indonesia dicampur dengan bahasa-bahasa lain. Ada dua jenis campur kode yakni campur kode kedalam dan campur kode keluar (Suwito, 1985:76) Campur kode kedalam merupakan campuran bahasa Indonesia dangan bahasa-bahasa lokal dalam negeri yakni bahasa-bahasa daerah, sedangkan campur kode keluar adalah campuran bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa asing.

            Ketika berbicara eksistensi bahasa, kasus ‘campur kode keluar’ yang merupakan ancaman nyata buat kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang murni. Salah satu bahasa yang melakukan interferensi dalam bahasa Indonesia adalah bahasa Inggris. Kesengajaan para penutur untuk mencampurnya merupakan bentuk pemerkosaan kesadaran metabahasa. Banyak orang yang yang telah melakukan pencampuran bahasa dengan bahasa Inggris dengan sengaja. Namun masalah yang diperdebatkan adalah apakah itu adalah sebuah penyimpangan yang tidak wajar ?

Nasionalisme vs Globalisasi

Memang sangat dilematik untuk menjaga keaslian bahasa Indonesia. Rasa nasionalisme merupakan acuan dalam mempertahankan bahasa Indonesia. Namun disisi lain, Indonesia harus ikut dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang merupakan aktor utama era globalisasi. Seluruh elemen warga Negara berada dalam pusaran globalisasi sehingga bisa dikatakan bahwa saat ini masyarakat  berada dalam kampung global.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat beberapa tahun terakhir menandakan intensitas sentuhan globalisasi di wilayah Indonesia. Arus globalisasi tersebut menginterferensi penutur dalam berbahasa Indonesia dikarenakan oleh bahasa teknologi yakni bahasa Inggris. Adanya interferensi tersebut menyebabkan terjadinya campur aduk atau ‘campur kode keluar’ dalam bertutur.

Meningginya tingkat keseringan dalam melakukan campur aduk bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris merupakan ciri-ciri kehilangan identitas kebangsaan. Dilain sisi, bahasa Inggris harus dikuasai demi tetap ikut berkompetisi di era global demi eksistensi dan harga diri bangsa Indonesia di mata dunia. Kondisi ini memperparah dilematik kecintaan terhadap bahasa Indonesia.

Historis Bahasa

Dalam studi-studi linguistik bandingan historis diketahui bahwa bahasa-bahasa dimuka bumi ini memiliki bahasa induk atau nenek moyang bahasa. Dalam penyebaran para penutur bahasa induk tersebut menyebabkan terciptanya bahasa-bahasa baru dikarenakan situasi dan kondisi budaya dan geografi wilayah baru mereka.

Nenek moyang bahasa Indonesia sendiri banyak dikemukakan oleh berbagai ahli ada yang mengatakan dari Gujarat India dan ada yang mengatakan dari Yunan. Namun secara garis umum diketahui bahwa bahasa Indonesia merupakan bentukan dari bahasa-bahasa Austronesia. Di nusantara sendiri bahasa-bahasa Austronesia yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia adalah proto melayu dan deutoro melayu. Dan kini bahasa Indonesia terbentuk dengan berbagai bahasa serapan dari bahasa asing.

Apa yang ingin disimpulkan dari historis bahasa tersebut adalah bahwa interferensi bahasa sebenarnya merupakan hal yang wajar dan tak dapat dihindari. Kejadian tersebut disebabkan oleh pencampuran dan  terciptanya budaya-budaya baru oleh penutur. Bahasa Indonesia sementara ini berada dalam interferensi budaya global dimana perkembangan teknologi dengan dominasi bahasa Inggris. Dimasa lampau dengan akses terbatas bahasa dapat diciptakan turunannya dan menghilangkan keaslian bahasa induk. Bagaimana dengan bahasa Indonesia sekarang yang berada dalam pusaran akses tak terbatas ?

Glokalisasi Bahasa Indonesia

Glokalisasi merupakan teori yang berusaha menyandingkan sesuatu yang global dengan yang lokal, partikular dan universal dalam ranah budaya. Teori ini dikembangkan oleh Sarah Elizabeth Fernandez (2009) yang menekankan harmonisasi budaya lokal dan budaya global dengan harapan budaya global dapat diterimah tanpa menghilangkan budaya lokal, bahkan budaya yang lokal dapat di globalkan atau diuniversalkan. Usaha Glokalisasi budaya ditempuh dengan melihat  dan mempertimbangkan masing-masing potensi yang global dan yang lokal.

Karena bahasa merupakan budaya maka teori ini bisa menjadi solusi dalam mengatasi dilematik bahasa Indonesia. Sudah saatnya bahasa Indonesia dapat dengan bijaksana menerimah bahasa asing khususnya bahasa Inggris dengan alasan menghindari keterbelakangan teknologi dan keilmuan lainnya.

Namun. Dilain sisi bahasa Indonesia harus diinternasionalkan lewat segala potensinya seperti melalui kekayaan budaya dan parawisata. Tak perlu seratus persen bahasa Indonesia diterjemahkan dalam dua akses tersebut. Dengan ketertarikannya maka orang asing berusaha sendiri mengetahui bahasa Indonesia. Bahasa Inggris tetap harus dikuasai sebagai media internasionalisasi bahasa Indonesia.