Sebelum menginjak di bangku kuliah tentunya kita pernah menjalani masa-masa SMA.

Tipe siswa di SMA ada 2, ada yang semasa SMA aktif dalam organisasi sekolah antara lain OSIS, Pramuka, dan PMR. 

Ada juga yang menjadi siswa nolep, yaitu sebutan untuk siswa yang tidak mengukuti organisasi atau extracurricular apapun.

Dulu aku termasuk aktif diorganisasi, baik di sekolah dan di luar sekolah. Banyak hal yang Aku dapatkan dari berorganisasi. 

Dari banyak hal itu, hal yang paling berkesan adalah punya banyak pengalaman dan bertemu banyak orang baru yang bahkan sebelumnya belum pernah kutemui yang kemudian menjadi teman dan akrab.

Disamping banyaknya benefits yang aku dapatkan dalam berorganisasi ada hal-hal yang perlu aku korbankan juga.

Salah satunya adalah waktu, baik waktu untuk istirahat, bermain, hobby, dan juga waktu bersama keluarga.

Ibuku sempat mengeluhkan mengenai waktuku untuk keluarga "Nak, bisa dikurangin nggak kegiatanmu?" 

Kata-kata itu yang dulu sering terdengar dari ibuku.

Dimana weekend yang seharusnya libur dan menjadi waktu bersama keluarga, terkadang menjadi waktu untuk menghadiri suatu acara organisasi. 

Masalah waktu inilah yang membuat mahasiswa baru sepertiku bingung, memilih mengikuti organisasi dan menjadi mahasiswa kura-kura atau menjadi mahasiswa kupu-kupu.

Kalian pernah mendengar istilah kupu-kupu? Atau istilah Kura-kura? 

Nah, Hal yang akan Aku kaitkan kali ini bukan hewan ya, melainkan istilah. Istilah ini pasti tidak asing lagi di telinga mahasiswa. 

Yaps, kupu-kupu adalah singkatan dari kuliah pulang kuliah pulang sedangkan kura-kura adalah singkatan dari kuliah rapat kuliah rapat.

Relasi? Pengalaman? Gabut di kosan? Ingin punya banyak temen? 

Biasanya yang dulunya siswa aktif saat SMA ketika lanjut ke bangku perkuliahan memilih menjadi mahasiswa kura-kura berdasarkan alasan itu.

Hal itu juga related dengan kata-kata kakak tingkat untuk membujuk mahasiswa baru join organisasinya.

Mahasiswa kura-kura pastinya harus memiliki pembagian waktu yang baik antara kesibukan dalam perkuliahan dan kesibukan kegiatan organisasi agar keduanya berjalan dengan baik.

Berdasarkan observasiku melihat kakak-kakak tingkat, menjadi mahasiswa kura-kura tidaklah mudah, karena pasti ada-ada saja acara di hari sabtu dan minggu.

Harus menyiapkan acara, menyelesaikan tugas-tugas dari dosen, dan tak lupa juga tugas utama mahasiswa untuk kuliah. 

Belum lagi jika ada bentrokan antara jadwal kuliah dan organisasi. Untuk mencegah terjadi bentrok yang sering, tak jarang rapat organisasi dilaksanakan pada malam hari atau weekend

Akibatnya, mahasiswa menjadi tidak mempunyai waktu untuk istirahat.

Namun, kita dapat memperoleh pengalaman luar biasa dan belajar problem solving, kemampuan dalam memecahkan sebuah masalah dan mencari solusi dengan baik.

Di organisasi, mahasiswa akan belajar berdiskusi bisa saling mengungkapkan pendapat dan bisa menghargai pendapat satu sama lainnya.

Tidak hanya itu, mahasiswa kura-kura juga cenderung punya banyak relasi teman. Tidak heran, mahasiswa yang mengikuti organisasi pasti memiliki banyak teman dari berbagai jurusan.

Namun, Aktif berorganisasi memang bisa memperluas pergaulan, tetapi tidak menutup kemungkinan malah bisa bikin kita kurang pergaulan.

 Karena sibuk dengan jadwal rapat, kita jadi enggak punya waktu buat kumpul bareng teman sekelas atau seangkatan.

Itulah hal yang aku amati dari kakak-kakak tingkat yang menjadi mahasiswa kura-kura. 

Banyak positifnya namun juga tidak sedikit weaknessnya.

Jika dulunya menjadi siswa yang aktif di SMA, tidak menutup kemungkinan untuk berpaling menjadi mahasiswa kupu-kupu.

Memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu supaya lebih fokus ke kuliah dan pendidikan supaya cepat lulus bisa saja kupilih. 

Mahasiswa bisa lebih fokus kuliah saja seperti mengerjakan tugas-tugas kuliah dan mengikuti jadwal kuliah dengan baik dan teratur.

Banyak waktu yang bisa aku habiskan diluar kampus, untuk explore diri sendiri untuk kegiatan di luar kampus dan hobby

Namun, ada banyak stigma negatif tentang mahasiswa kupu-kupu misalnya ‘‘Jadi mahasiswa kok cuma berangkat pulang doang, manfaatin dong dengan ikut organisasi biar bisa berkembang.’’

Nah, stigma ini bisa kita bantah dengan melakukan kegiatan produktif, misalkan dengan mengikuti pelatihan soft skills dan hard skills yang kita punya. 

Pandanganku tentang mahasiswa kupu-kupu produktif terkadang dipatahkan dengan pandangan teman-temanku yang menjadi mahasiswa kupu-kupu.

Mager? introvert? Takut kecapean? Gaminat sama organisasi kampus? Anak laju? Atau pengen cepet-cepet pulang?

Mungkin itu alasan-alasan yang pernah terdengar olehku mengapa mereka menjadi mahasiswa kupu-kupu. 

Menjadi mahasiswa kupu-kupu tidak selalu buruk pastinya, mereka yang memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu mempunyai alasan yang tersendiri. 

 Namun, banyak hal yang perlu ditekankan, jangan sampai kalau kita menjadi mahasiswa kupu-kupu, kehidupan kita hanya seputar kampus dan rumah saja, namun untuk explore diri di luar kampus.

Banyak hal yang perlu dipertimbangkan, mengingat masa SMA sangat berbeda dengan masa kuliah. 

Seberapa siap kamu menjadi mahasiswa kupu-kupu atau seberapa siap kamu sebagai mahasiswa kura-kura.

Pilihan kita sekarang menentukan kita dimasa depan. Kamu yang paling tahu tentang dirimu.