Tak dapat dimungkiri di abad ke-21 saat ini sangat mudah untuk mengakses berbagai informasi melalui teknologi yang kita punya. Melalui teknologi gadget maupun smartphone, kita bisa mengakses situs apa saja baik informasi, pendidikan, maupun hiburan. Bahkan teknologi ini bisa digunakan oleh siapa saja, termasuk anak-anak usia dini, sekitar 5 tahun ke atas. Hal ini menjadi dilema bagi sebagian masyarakat di Indonesia terhadap dampak yang ditimbulkan bagi perkembangan anak baik pada usia dini maupun usia remaja.

Pada anak usia dini sampai remaja atau sekitar usia 4-18 tahun merupakan fase yang sangat krusial dalam pembentukan mental dan karakter anak. Dampak positif jika anak tersebut sudah mengenal teknologi gadget dan smartphone akan memberikan efek yang positif apabila menggunakannya dengan tepat, tentunya harus melalui pendampingan orang tua. 

Namun apabila dapak negatif yang terjadi, maka selain anak tumbuh menjadi orang yang anti sosial karena sudah terbiasa bermain dengan alat pintarnya, di situ anak akan senantiasa percaya dengan apa saja yang sudah mereka dapatkan melalui gadget maupun smartphone-nya.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa saat ini tengah marak beredar berita bohong (hoax) atau berita bohong yang tersedia di internet. Hal ini membuat resah masyarakat bahkan pemerintah saat ini. Sistem pendidikan yang ada pun belum tersedianya pendidikan teknologi dan informasi yang antihoax. Pengajar atau guru hanya mengajarkan materi-materi dasar tentang internet meskipun menyertai dampak positif dan negatif, namun hanya sekilas saja.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Pew Research Centre atau lembaga sumber fakta nonpartisan yang memberikan informasi terkait isu-isu, peristiwa, dan tren yang terjadi di Amerika dan dunia bahwa hanya 39% warga dewasa Amerika yang mengaku mampu mengenali berita hoax. Survei ini dilakukan terhadap lebih dari 1000 orang dewasa, bahwa sekitar 23% dari responden sudah memberikan berita hoax. Sehingga orang dewasa pun belum bisa membedakan mana berita hoax dan mana berita yang sesuai fakta.

Itu baru orang dewasa, belum lagi anak-anak yang merupakan bagian terpenting bagi perubahan generasi bangsa. Sebuah survei yang dilakuakn oleh Common Sense Media, yaitu sebuah organisasi nonprofit yang fokus membantu orangtua, anak-anak dan para pendidik dalam menggunakan teknologi, menghasilkan riset sekitar 30% anak mengaku pernah membagikan berita secara online sedangkan mereka belum mengetahui kebenaran beritanya. Survei ini dilakukan kepada 853 anak usia 10 tahun hingga 18 tahun.

Common Sense Media juga menyatakan penemuannya bahwa sekitar 39% anak lebih menyukai media sosial sebagai sumber berita, 36% dari keluarga, guru, atau teman dan 24% anak memilih mendapatkan berita dari media tradisional. Bagi kalangan remaja Facebook merupakan media sosial untuk mendapatkan berita sebagai sumber favoritnya. Sedangkan anak-anak usia 10-12 tahun lebih memilih Youtube.

Temuan-temuan ini harus kita renungi baik-baik bukan hanya bagi orangtua, namun para guru yang dianggap memiliki kemampuan akademik mencukupi. Kita pun mengetahui bahwa sistem Five Days School (FDS) atau sekolah lima hari dengan waktu 10 jam perharinya sudah diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia, sehingga anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. 

Hal itu mungkin salah satunya untuk mengurangi anak-anak bermain dengan gadget maupun smartphone nya, namun belum diimbangi dengan waktu luang yang dimiliki anak-anak.

Selain itu, ketika guru memberikan materi yang belum diterima anak-anak atau memberikan PR (Pekerjaan Rumah) kepada mereka, kemungkinan mereka lebih percaya kepada media untuk mendapatkan informasi pendidikan yang lebih. 

Kita tahu bahwasanya ketika mengetik apa saja melalui Google maka akan menghasilkan sejumlah informasi yang kita inginkan, seperti referensi bahan makalah atau sebagainya. Namun, jika anak-anak yang belum mengerti sumber pengetahuan yang dikutipnya maka akan memberikan pemahaman yang lain terhadap pendidikan.

Maka sistem pendidikan berbasis teknologi anti hoax sangat dibutuhkan bagi masyarakat Indonesia khususnya bagi pelajar yang merangkum seluruh materi-materi tentang ciri-ciri berita hoax, bahaya dan pencegahannya. Pada akhirnya semua permasalahan ini menjadi sebuah refleksi bagi kita untuk lebih memajukan sistem pendidikan yang ideal, yaitu memberikan pendidikan teknologi yang sehat bagi anak-anak.

Referensi tambahan bersumber dari http://www.kompasiana.com edisi 30 Oktober 2017 (diakses pada 05/03/18 pukul 15:40 WIB)