Tulisan ini merupakan lanjutan dari status yang pernah saya tulis di akun facebook saya mengenai dilema pendidikan di Indonesia. Saya hanya akan melanjutkan dan menganalisis lebih jauh mengenai problem pendidikan di Indonesia.

Dulu saya pernah mengalami masa-sama saat sekolah khususnya ketika masa SD hingga SMA, di mana kepintaran siswa hanya diukur dari tingginya nilai mata pelajaran eksakta (Fisika, Kimia, Biologi dan Matematika).

Dulu sih nerima-nerima aja, karena memang, jujur saya bukan orang yang pintar di mata pelajaran eksakta. Namun setalah dipikir-pikir, kok sepertinya begitu sempit ya kalau kepintaran seorang anak hanya diukur dari nilai-nailai eksaktanya.

Jadi, bagi anak-anak yang pintar dalam mata pelajaran sejarah, sosiologi, geografi, seni rupa dan ilmu sosial lainnya, tidak akan dianggap pintar bila nilai mata pelajaran eksaktanya hanya 6.

Dari sini saya mencoba menganalogikannya dengan sebuah gambar yang pernah saya dapatkan melalui pesan WA dari teman. Dalam gambar tersebut terlihat seorang guru yang akan melaksanakan ujian kepada siswanya dengan berbagai macam jenis dan keahlian para siswa.

Siswa-siswa tersebut terdiri dari seekor monyet, pinguin, gajah, ikan, singa laut dan anjing. Ujiannya adalah memanjat pohon. Bila kita cermati kembali, apa yang dilakukan guru tersebut tidaklah tepat. Bagaimana mungkin ujian yang diberikan kepada enam siswa tersebut adalah memanjat, sementara keenamnya berasal dari jenis berbeda dan tentunya dengan keahlian yang berbeda pula.

Jelas saja monyet yang memang lahir dan ditakdirkan untuk memanjat akan dengan sangat mudah untuk lulus dalam ujian tersebut. Tetapi, apakah hal tersebut sama kondisinya bagi binatang yang lain? Pasti tidak.

Mungkinkah seekor gajah atau singa laut dipaksa untuk memanjat pohon juga? Pastinya mereka akan sangat kesulitan, bahkan tidak bisa melakukan itu. Karena memang mereka tidak memiliki skill dalam memanjat.

Lantas, apakah kita harus menyalahkan gajah yang tidak bisa memanjat pohon? Atau menggoblok-goblokkan mereka yang tidak bisa memanjat?

Bila melihat pendidikan di Indonesia, maka jawabannya: iya. Saya bilang iya, karena memang ini yang pernah saya rasakan dulu. Meski sedikit curhat tapi saya ingin mengatakan bahwa STOP untuk memaksa anak sesuai dengan keinginan orang tua, biarkan anak berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Seketika itu juga saya jadi teringat dengan film India yang sempat hits yakni 3 Idiots. Dalam film tersebut, selain nuansa persahabatannya yang sangat hangat, juga pesan yang bisa diambil adalah supaya orang tua tidak memaksakan kehendaknya atas anak mereka.

Anak yang lahir sebagai titipan Tuhan memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda-beda, dan tugas orang tua seharusnya mendorong sang anak untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang mereka miliki.

Saat ini, bila kita mencoba untuk membandingkan pendidikan di Indonesia dengan negara-negara berkembang, baik di Asia sendiri maupun di Eropa, mungkin akan sangat terasa berbeda sekali. Di negara-negara berkembang, para orangtua tidak lagi menuntut anaknya untuk menjadi seperti yang mereka inginkan. Artinya, anak-anak dibebaskan untuk memilih pendidikannya sesuai dengan kebutuhan dan potensi mereka.

Belajar dari Finlandia, negara kecil di belahan Eropa, yang pernah mendapatkan predikat sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia, mengalahkan Amerika, Inggris, Jepang dan negara-negara maju lainnya.

Pendidikan yang diterapkan di Finlandia sangat jauh berbeda dengan di Indonesia, dari mulai sistem pendidikannya, sistem pengajarannya dan sistem evaluasinya. Bahkan untuk menentukan kelulusan siswa, Finlandia tidak pernah menerapkan sistem Ujian Nasional seperti Indonesia (yang diberlakukan untuk tingkatan pendidikan SD, SMP, SMA). Di negara tersebut, selama masa sekolah, siswa hanya sekali melaksanakan Ujian Nasional, yakni ketika mereka berumur 16 tahun.

Di Finlandia, siswa SMP dan SMA belajar layaknya anak Kuliah, mereka hanya akan datang pada jadwal pelajaran yang mereka pilih. Artinya, para guru tidak akan memaksakan siswanya untuk mengambil seluruh mata pelajaran yang ada. Siswa dibebaskan untuk memilih mata pelajaran sesuai dengan keinginan mereka.

Selain itu, di Finlandia juga tidak pernah mengenal sistem full day school dalam proses belajar di sekolah. Para siswa kebanyakan hanya berada di sekolah selama 4-5 jam per hari. Ini berbanding terbalik dengan di Indonesia, anak-anak dipaksa untuk full day dalam belajar sehingga nyaris tidak ada waktu untuk bermain dan istirahat.

Pendeknya jam belajar di Finlandia, justru mendorong para siswa untuk lebih produktif. Biasanya pada awal semester, guru-guru justru menyuruh mereka untuk menentukan target atau aktivitas pembelajaran sendiri. Jadi ketika masuk kelas, mereka tidak sekedar tahu dan siap tapi juga tidak sabar untuk memulai proyeknya sendiri (Hipwee.com).

Mampukah Indonesia menerapkan sistem pendidikan seperti layaknya di Finlandia? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.