Kalian pernah mendengar aliran musik yang disebut metalcore atau metalliccore? Mungkin kurang akrab di telinga ya, tidak seperti aliran metal atau rock yang sering kita dengar. 

Metalcore bisa disebut sebagai genre perpaduan dari beberapa unsur metak ekstrem dan hardcore punk. Biasanya vokalis pada band metalcore lebih bisa disebut berteriak daripada bernyanyi karena sering menggunakan death growl di beberapa bagian lagunya.

Metalcore juga dikenal dengan adanya breakdown, yang merupakan bagian lembut dari sebuah lagu yang kemudian dikeraskan sehingga penontonnya tergerak untuk moshing.

Apa lagu-lagu dari genre ini masih bisa dinikmati? Tentu saja iya. Penggemar dan pengikutnya masih banyak, kok. Mungkin memang ada beberapa orang yang bisa menikmati dan merasa baik-baik saja saat mendengarkan. Tapi ada juga yang tidak. Contohnya saya. Dan di sinilah dilema menjadi musisi metalcore itu muncul.

Saya pernah punya pacar yang ternyata adalah vokalis band metalcore terkenal di Yogyakarta. Tak perlu saya sebut nama bandnya, para penggemarnya mungkin sudah paham ya. Ehe. 

Kami berhubungan jarak jauh, Long Distance Relationship-lah istilahnya. Saya di Surabaya, dia di Yogyakarta. Saat berkomunikasi, tentu dia sering bilang dan pamit bila ada jadwal latihan band atau manggung di suatu tempat. Apakah saya bangga? Ya jelas. Nah saat itu juga dia bilang pernah membuat satu lagu khusus untuk saya. Wah, makin gede kepala saya.

Kami janjian untuk merayakan tahun baru di Yogyakarta waktu itu, dia juga akan manggung di satu dari beberapa stage yang digeber di sepanjang jalan Malioboro. Saya akan jadi penonton paling depan. 

Sebelum naik ke panggung, dia bilang akan menyanyikan lagu kesukaan kami berdua yaitu 'Friday I'm in Love' dari The Cure dan juga lagu yang dia buat untuk saya itu. Waktunya tiba, dan saya shock. Saya tidak bisa mengenali bahkan satu kata pun dari lagu itu karena dia menyanyikannya sambil teriak dan meraung, boro-boro merasa spesial. Ditambah musiknya yang kencang, saya berpikir, 'Lha mana romantisnya, anjay?'

Ini adalah salah satu contoh bahwa ternyata menjadi musisi metalcore itu juga ada dilemanya. Di satu sisi tentu saja mereka membuat lagu akan sesuai dengan genre musik yang mereka usung, tapi ya gitu tidak semua orang bisa mengerti dan memahami isi dan makna dari lagu itu. Lha gimana mau memahami wong liriknya saja nggak kedengeran?! 

Para penggemar dan pendukungnya yang terlihat menikmati alunan musiknya pun mungkin belum tentu juga bisa paham. Oke, mereka bahagia karena merasa bebas, mereka bisa moshing, bergerak sepuasnya tanpa ada batasan. Tapi belum tentu mereka mengerti pesan yang ingin disampaikan dari lagu itu.

Di sisi lain, bila mereka mencoba menciptakan sebuah lagu yang musik dan liriknya mengikuti selera umum, tentu saja identitas metalcore-nya akan pudar. 

Memang benar, lirik lagunya akan lebih gampang didengar, musiknya pun akan lebih nyaman di telinga. Bahkan vokalisnya juga tidak perlu terlalu ngotot death growl. Hal ini juga bisa menjadi daya tarik untuk menambah lebih banyak penggemar dan pengikut setia. Lagu bertema cinta bisa jadi lebih santuy dinikmati. Tapi apakah mereka rela kehilangan identitas dan ciri genre yang mereka cintai? Tidak semudah itu.

Sesemas mantan pacar dan teman-temannya di band pernah membahas ini dan memang jadi diskusi yang mungkin tidak bakalan ada kelarnya. Mereka juga bilang beberapa band lainnya ada yang rela sedikit mengubah gubahan lagunya bahkan lompat genre demi mendapatkan atensi lebih.

Menurut saya, ini yang menjadi titik awal beberapa band metalcore agak susah untuk bertahan di industri musik. Idealisme mereka tentu saja 'memaksa' untuk terus berkarya sesuai minat dan genre yang dicintai, tapi realitas membuka mata bahwa selera pasar belum terlalu membela mereka. 

Akhirnya ini juga menjadikan beberapa band entah dengan sukarela atau tidak terpaksa hijrah ke genre musik lain yang lebih komersial dan memiliki range pasar lebih luas. Tenar dapat, penggemar dapat, uang juga dapat.

Dilema kecil seperti ini saya yakin pasti pernah datang pada mereka, tapi keputusan untuk bertahan di jalur metalcore atau pindah haluan ada di tangan mereka. Kita sudah sepatutnya mendukung dan menghargai. Bukankah itu juga jadi lebih memperkaya dunia musik? 

Dan saat saya tahu bahwa band sesemas mantan itu masih eksis sampai sekarang, saya paham idealisme mereka sangatlah tinggi. Bravo!

*growl