98668_40991.jpg
www.ngadem.com
Gaya Hidup · 3 menit baca

Dilema Menjadi Pembaca Akut

Meskipun orangtua saya bukanlah seorang pembaca buku tulen, tetapi sedari saya kecil mereka telah terbiasa berlangganan majalah, setidaknya majalah Hidayah adalah salah satunya. Saya pun diberi majalah Bobo. Tak lupa, setelah berbelanja bulanan di mall Borobudur Bekasi, kami hampir selalu mampir ke bagian toko bukunya. Di sana saya suka membeli komik-komik Jepang, mulai dari Doraemon, Yugi Oh, Detektif Kindaichi, Detektif Conan, dan lain sebagainya.

Hingga saya tak menyadari bahwa secara rutin (mingguan/bulanan) sepulang dari sekolah saya berinisiatif senantiasa pergi ke mall tersebut untuk sekadar membaca atau membeli buku. Sembari membeli buku, dulu saya pun gemar membeli lagu-lagu populer yang masih menggunakan kaset pita. Bisa dibilang, pengalaman-pengalaman masa kecil dan remaja inilah yang menjadi batu peletak dasar kecintaan saya pada dunia literasi yang puncaknya terjadi saat saya berada di bangku kuliah.

Ketika kuliah, minat baca saya semakin menggila. Tiada hari tanpa membaca. Bahkan saya suka mematok jumlah halaman minimalnya, kalau bisa 100 halaman per hari, di hari libur harus bisa lebih dari itu. Bukan hanya soal jumlah, tetapi kualitas bukunya pun saya tingkatkan.

Jika saat di bangku sekolah saya hanya mengonsumsi buku-buku ringan, di masa perkuliahan saya mulai mengonsumsi buku-buku wacana keagamaan (Islam) dan ilmu sosial yang serius dan “berat”, buku-buku yang mungkin akan sulit dipahami oleh orang awam, bahkan buku-buku yang dianggap tabu atau kontroversial. Supaya berimbang, saya juga mencoba untuk membaca buku dari beragam perspektif, mulai dari yang radikal-ekstrem, “kiri”, konservatif, moderat, hingga liberal.

Untuk memperluas cakrawala, saya pun suka berdiskusi dengan kolega, baik yang sepemikiran maupun yang bertolak pandangan, bergabung dengan banyak komunitas, dan menjalin ikatan intens lintas SARA. Jika di waktu itu teman-teman saya banyak menghabiskan waktunya untuk mengobrol, bermain game, atau kumpul-kumpul manjah, saya lebih memilih untuk membaca.

Di tahun-tahun terakhir perkuliahan, ranah bacaan saya perluas dengan intens membaca buku-buku berbahasa Inggris. Tanpa terasa, dalam kurun waktu hanya beberapa tahun, buku yang ada di perpustakaan pribadi saya semakin banyak, meski belum sampai berada di angka seribu. Selepas lulus kuliah pun, sampai detik ini saya masih membudayakan baca buku.

Betapapun demikian, berpagi-pagi perlu ditekankan bahwa grand design pemikiran saya berasal atau seirama dengan Prof. Quraish Shihab. Hampir semua bukunya sudah saya baca, dan setidaknya dalam banyak hal saya setuju dengan pendapat-pendapatnya. Bagi saya beliau adalah seorang ulama-cendekiawan otoritatif yang cukup bisa merepresentasikan keberagamaan yang moderat.

Memang sangat nikmat menjadi seorang pembaca. Selain dapat mengikis kebodohan, kepicikan, kesesatan berpikir, anti bodi dari berita hoaks, dan ketergesa-gesaan, membaca pun bisa menghasilkan kebijaksaan yang nantinya akan beriringan dengan kecenderungan menyukai dunia kontemplasi, memikirkan banyak hal yang fundamental menggunakan hati dan pikiran.

Tetapi ternyata semua pengalaman itu harus dibayar dengan pahit karena implikasi logisnya saya, dan begitu pula dengan para pembaca yang lainnya, akan diberi banyak label negatif, mulai dari aneh, menyimpang, sesat sekaligus menyesatkan, dan kalau bisa harus dijauhi. Ini karena pemikiran kami berbeda dengan pemikiran manusia pada umumnya.

Jika ciri khas saya ialah independen, terbuka—dalam artian selalu membuka tangan untuk segala kemungkinan kebenaran yang ada di pihak mana pun, dan anti fanatisme, orang-orang awam lebih suka dengan segala hal yang simpel, praktis, dan harus hitam-putih. 

Memang tepat sekali pernyataan bahwa apa yang kita lakukan yang orang lain tak melakukannya, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang orang lain tidak dapatkan. Nah, saya mendapatkan sesuatu itu, yang tidak didapatkan orang, tapi bagaikan pedang bermata dua, buku pun ternyata bisa menusuk diri saya—yang dianggap aneh oleh orang awam.

Selogis apa pun yang akan saya jelaskan kepada mereka, tetap saja tidak bisa diterima, karena pemahaman saya berbeda dengan pandangan umum yang dampaknya akan merusak atau mengguncang struktur yang telah dibangun yang mereka anggap telah memiliki kebenaran yang final. Karena posisi saya yang lebih dekat pada masyarakat kasta mengenah ke bawah, maka sampai saat itulah saya akan selalu mendapatkan penolakan-penolakan.

Harus Bagaimana?

Sangat tidak mudah untuk menerima takdir ini, meskipun saya suka menetralisirnya dengan merujuk pengalaman-pengalaman pahit yang dialami oleh orang-orang sejenis saya, bahkan lebih dari itu, mereka dibuang, dikriminalkan, sebagian ada yang sampai dieksekusi. Para nabi pun banyak mengalami menolakan-penolakan, termasuk Nabi Muhammad. Kemudian saya bertanya, apa yang sebaiknya saya lakukan.

Hanya ada satu opsi, salah satunya yang sebenarnya juga pernah ditawarkan oleh kolega saya ialah dengan menjadi bunglon, ya bunglon, supaya bisa tetap bertahan hidup dari kerasnya resistensi. “Jangan terlalu idealis teuing kalau mau hidup, apalagi kamu kan perlu makan.”

Saya pikir-pikir, betul juga, tetapi apakah dengan mengambil jalan ini berarti saya tergolong orang yang munafik? Tolong beri saran untuk saya!