Fenomena menikah di usia muda masih menjadi pembahasan yang hangat di media sosial saat ini. Banyak sekali kalangan mahasiswi semester akhir yang galau ingin menuntaskan kuliah atau lanjut menikah?

Memikirkan tugas-tugas kuliah membuat sebagian besar dari mereka merasa tertekan. Sehingga tak sedikit dari mereka yang berpikiran ingin menikah.

Menikah merupakan hal penting di dalam fase hidup manusia. Banyak yang berprinsip bahwa menikah sekali seumur hidup.

Bayangan kebahagiaan terpancar di kala kata 'sah' telah terucap. Nyatanya, banyak faktor yang menjadi pertimbangan ketika akan menikah.

Apabila ada satu atau dua hal yang tidak berjalan dengan baik, maka bisa merujuk ke kondisi tidak baik juga. Atau dalam arti lain adalah perceraian.

Menikah muda bukan hanya menjadi tren masa kini, melainkan juga harus memiliki tanggung jawab dan kesiapan secara matang. Setiap orang berhak menikah di usia berapapun yang dia mau (dalam standar kesiapan yang pas).

Kembali lagi di kehidupan kampus. Kehidupan kampus bisa menjadi sangat menyenangkan, tetapi juga bisa sangat menegangkan.

Kehidupan kampus adalah waktu yang menyenangkan jika mahasiswi memanfaatkan kelas dan tugas sebaik mungkin. Sebagai seorang mahasiswi harus mampu mengatur waktu dengan bijak untuk menikmati kelas dan melakukan kegiatan sosial sambil menghindari kegagalan akademik.

Namun, kebanyakan dari mereka sering menemukan diri mereka dalam posisi antara ingin mengejar karier atau memulai sebuah keluarga.

Jika mereka memilih untuk melanjutkan kuliah atau menikah, mungkin kebanyakan mereka akan menikmati waktu mereka saat sendiri dengan berbagai cara yang lebih baik dan mencapai kesuksesan akademis yang lebih besar.

Perguruan tinggi adalah waktu yang ideal untuk mengeksplorasi minat dan bakat seseorang. Mahasiswi memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk mengerjakan tugas-tugas.

Bisa juga untuk memulai hobi baru atau bergabung dengan organisasi-organisasi yang membantu mahasiswi untuk bertemu orang lain dengan minat yang sama.

Bahkan yang ingin mendapatkan pekerjaan juga bisa melakukannya tanpa mengambil jurusan di bidang yang sulit. Bisa juga disebut kerja parttime.

Hal ini juga memungkinkan mahasiswi untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan studi mereka dan relevan dengan tujuan pendidikan mereka.

Kegiatan-kegiatan tersebut juga memberi mereka pengalaman yang bisa digunakan ketika akhirnya akan memutuskan untuk menikah.

Banyak juga mahasiswi yang memilih untuk menikah sambil tetap mengejar gelar tambahan.

Hal itu mungkin bisa membuat mereka mengejar kembali ketertinggalannya sebagai seorang mahasiswi, seperti tugas atau ujian, sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.

Namun, banyak juga yang memilih jalur ini setelah menyelesaikan gelar sarjananya.

Melakukan hal itu memberi mereka kebebasan untuk mengejar jalur karir apa pun yang mereka sukai tanpa mengkhawatirkan kredensial pendidikan mereka.

Bahkan, itu memberi mereka lebih banyak waktu untuk fokus pada studi mereka dan mengejar gelar pilihan mereka.

Beberapa mahasiswi ada yang memimpikan kehidupan pernikahan ketika masa-masa kuliah. Namun, pernikahan seringkali mengganggu masa kuliah.

Dengan memilih menikah saat kuliah, akankah kehidupan seorang mahasiswi terjamin bahagia? Siapkah mengurus anak di kala teman-teman yang lain masih bersenda gurau? Bagaimana dengan mental yang dimiliki? Apakah yakin sudah siap?

Berikut adalah beberapa pemikiran yang membantu beberapa orang memutuskan antara kehidupan pernikahan dan kehidupan kuliah.

Pertama, beberapa orang yang menikah bertanya-tanya apakah mereka dapat menamatkan pendidikan mereka begitu anak-anak mereka lahir ke dunia.

Meskipun kedua orang tua biasanya bekerja, namun tidak selalu demikian.

Misalnya, sebagian besar mahasiswa bekerja sebagai tutor atau karyawan paruh waktu sambil menjalani program studi mereka.

Namun, jika kedua orang tua memiliki pekerjaan penuh waktu, ini hanya menyisakan sedikit waktu untuk belajar dan kehidupan keluarga.

Banyak orang yang sudah menikah juga harus mengatasi stres yang disebabkan oleh pasangannya.

Akibatnya, mereka sulit mendapatkan pendidikan sambil menghidupi keluarga.

Kedua, beberapa mahasiswi yang berencana menikah mungkin merasa tidak mampu berhenti belajar karena tanggung jawab keluarga.

Sebagian besar keluarga hidup dari gaji ke gaji -yang berarti jarang ada cukup uang untuk membayar tambahan rumah tangga yang mahal, seperti kebutuhan anak lainnya atau cicilan mobil.

Akibatnya, banyak orang dewasa muda harus mencari pekerjaan sebelum mereka mampu menikah dan memulai sebuah keluarga.

Meski begitu, beberapa keluarga mungkin mampu membayar perawatan dan biaya lain yang terkait dengan masalah pada pasangannya.

Jelas, beberapa keluarga jauh lebih baik daripada yang lain dalam hal mendukung orang yang mereka cintai ketika di masa-masa krisis.

Pada akhirnya, setiap mahasiswi harus membuat pilihannya sendiri dalam hidup berdasarkan nilai dan keyakinannya sendiri.

Beberapa mahasiswi yang sudah menikah tetap bersekolah sehingga mereka dapat mendapatkan gelar mereka sambil menghidupi keluarga mereka.

Sedangkan, mahasiswi lain memutuskan bahwa yang terbaik bagi mereka - juga keluarga mereka - jika mereka menunda pendidikan untuk sementara waktu untuk menghidupi diri sendiri dan orang yang mereka cintai.

Bagaimanapun mereka memilih, setiap orang pantas dihormati saat membuat keputusan sulit ini.

Ketiga, mungkin ada 7 aspek pertimbangan yang menjadi tolak ukur untuk menilai apakah mampu nikah di tengah kuliah atau tidak.

1. Jenjang kuliah saat ini yang sedang dijalani. Biasanya kuliah S1 jam kelasnya lebih padat ketimbang S2.

2. Kadar kemampuan otak. Mampu berprestasi atau bersaing dengan teman kuliah yang lain. Atau setidaknya bisa mengerjakan tugas-tugas sendiri tanpa membebankan diri kepada teman.

3. Kemampuan finansial dan pendapatan. Karena pasti akan banyak kebutuhan dan keinginan yang harus dipenuhi apalagi hidup bersama pasangan atau bahkan ditambah anak.

4. Pasangan yang supportif. Ketika pasangan saling mencintai, di situlah kita merasa didukung ketika melakukan kegiatan apapun.

5. Previlege yang dimiliki.

6. Waktu luang di luar jam kuliah. Karena untuk melakukan tugas atau sekedar melakukan quality time.

7. Mengerti pengetahuan tentang kontrasepsi beserta presentase efektivitasnya. 

Jika dilihat dari 7 aspek di atas, mungkin kebanyakan akan memilih menuntaskan kuliah dulu baru akan menikah.

Hal itu benar jika akan diambil, sebab tidak semua orang mampu bertarung dengan pilihan antara beban tanggung jawab keluarga atau tanggung jawab studi.

Dengan menikah artinya mereka sudah siap untuk memikul beban dan menghadapi masalah yang bermacam-macam jenisnya. Siap untuk menyatukan dua kepala menjadi satu, dan menjalani hidup tanpa egoisme pribadi karena ada satu orang lagi (belum anak) yang harus dipikirkan. Dan itu bukan hal yang mudah.

Walau dalam agama Islam dikatakan menikah adalah ibadah, tapi juga gak akan berkah kalau ujung-ujungnya pisah. Jadi menikahlah ketika siap.