Penikmat Diskusi
2 tahun lalu · 1180 view · 3 menit baca · Pendidikan kalamkopi.jpg
Foto: kalamkopi.files.wordpress.com

Dilema Mahasiswa Menghadapi Dosen (Sok) Idealis

Penulisan karya ilmiah dalam bentuk penelitian adalah fardhu ‘ain hukumnya bagi setiap mahasiswa tingkat akhir di jenjang program apa pun, sarjana, magister, doktoral, dan bahkan post-doctoral. Hal ini menjadi tantangan tertentu bagi mahasiswa dan mereka semua memiliki pandangan masing-masing terkait tingkat kesulitan penelitiannya.

Namun, berdasarkan pengalaman empiris, saya meyakini bahwa kita yang pernah atau sedang menyelesaikan karya ilmiah sebagai sarat mutlak kelulusan kuliah, menghadapi dinamika yang sama tentang ‘idealisme dosen’ baik yang menjadi dosen pembimbing penelitian maupun dosen penguji hasil penelitian.

Selain---masih adanya---ketidakakraban sebagian mahasiswa Indonesia dengan dunia penelitian, aspek lain yang cukup mengganggu konsentrasi mahasiswa selama menyusun karya ilmiah adalah adanya fenomena ‘dosen idealis’ yang seharusnya membimbing mahasiswa pada jalan yang lurus alih-alih membuat mereka menjadi dilematis.

Dalam penyusunan karya ilmiah mahasiswa dari skripsi, tesis, sampai disertasi, umumnya terdapat dua orang dosen pembimbing satu dan pembimbing dua.

Ada jenis dosen pembimbing satu yang tidak ‘akur’ dengan pembimbing dua. Sehingga sering kali, ketika pembimbing satu (yang umumnya lebih senior dalam jabatan fungsional akademiknya) tidak sepakat dengan hasil bimbingan pembimbing dua yang notabene merupakan rekannya dalam membimbing seorang mahasiswa.

Dosen tersebut akan secara lebih subjektif meminta si mahasiswa mengikuti apa yang dia minta terhadap penelitian yang sedang dia bimbing. Di sisi lain, pembimbing dua bertahan dengan apa yang dia sarankan terkait penelitian mahasiswa tersebut yang juga menurutnya adalah sesuai dengan prosedur penelitian dan harus tetap dikerjakan. Disinilah dilema awal mahasiswa lugu yang mungkin belum berdosa secara akademis.

Jenis yang lain dari ‘dosen idealis’ adalah mereka yang terlalu percaya pada mahasiswa bimbingannya yang dipandang mampu menyelesaikan penelitiannya hanya dengan dua-tiga kali bimbingan saja dengan sedikit manipulasi jumlah tanda tangan pada lembar konsultasi yang tidak sesuai dengan jumlah pertemuan bimbingan yang jujur.

Satu sisi, dosen seperti ini menguntungkan mahasiswa karena bisa mempercepat mereka untuk mengikuti sidang baik proposal maupun sidang hasil penelitian. Namun disisi lain dosen pembimbing yang ‘ramah’ ini tidak akan pernah mengira siapa ‘rekan’ atau ‘lawan’ yang akan menguji hasil penelitian si mahasiswa yang dia bimbing itu.

Maka akan jadi fatal bila adanya perbedaan perspektif yang signifikan antara kedua belah pihak yang akan dilimpahkan pada si mahasiswa ketika sidang. Ditambah dengan penilaian yang tidak akan lagi objektif disebabkan masa kekanak-kanakan yang terlambat atau sekadar dendam yang secara stereotype harus dibalaskan untuk pengalamannya yang juga pernah mengalami kolonialisme akademik ketika menjadi mahasiswa dulu.

Hasilnya, mahasiswa malang yang sedang diuji itulah yang lagi-lagi menanggung konflik internal kedua kubu, pembimbing versus penguji itu. Pada keadaan dilematis inilah, mahasiswa mengalami dampak yang cukup serius yang tercermin ke dalam tindakan atau putusan yang harus mereka ambil dan lakukan.

Jangan pernah skeptis bahwa banyak mahasiswa melakukan penelitian mereka dengan kemampuan maksimal dan idealisme yang tinggi demi hasil penelitian yang memuaskan birahi akademik mereka sebagai peneliti. Namun keadaan dilematis semacam ini tidak jarang melunturkan idealisme mahasiswa menjadi sepenuhnya pragmatis karena alasan rasional ingin cepat selesai kuliah dan ikut seremoni wisuda bersama sahabat-sahabat tercinta mereka.

Contohnya adalah revisi njelimet dan tidak masuk akal yang diminta oleh penguji idealis, akan dijawab dengan hasil revisi yang sangat pragmatis disebabkan mahasiswa merasa telah dikhianati prinsip ideal mereka dalam meneliti.

Ditambah, mereka tidak akan mendapatkan tanda tangan pengesahan dari komite sidang bila tidak mau memenuhi permintaan revisi dari para penguji yang terkadang membuat penelitian mahasiswa tidak menjadi lebih baik. Sebaliknya, menyesatkan penelitian tersebut lebih jauh dari yang semestinya.

Daripada mengambil resiko besar tidak lulus, mahasiswa akan lebih condong mengikuti apa yang diminta oleh lingkungan dan keadaannya secara pragmatis. Adapun sedikit mahasiswa yang prinsipil-idealis yang berani mengkritisi permintaan revisi dari penguji, namun sayang umumnya mereka dihukum oleh waktu revisi yang tak kunjung selesai bahkan setelah ditinggalkan sahabat-sahabatnya dalam euforia wisuda.

Ini adalah dilema klasik yang dihadapi oleh sebagian mahasiswa Indonesia yang bernasib kurang beruntung dipertemukan dengan jenis ‘dosen idealis’ dilihat dari kacamata klasik yang sudah tak layak pakai. Namun bila si mahasiswa masih punya ketegaran yang tidak dimiliki mahasiswa lainnya, dia akan melihat sebuah pembelajaran tentang miniatur sosial Indonesia bahwa menjadi seorang idealis adalah siap menderita dijajah oleh ketidakadilan.

Seandainya pun saya atau mungkin anda memiliki kesempatan pada posisi yang sama seperti dosen idealis diatas dengan menjadi pembimbing dan penguji karya ilmiah mahasiswa, perlu kita yakini bahwa membalaskan dendam tidak akan pernah memberikan kepuasan.

Sebaliknya, memaafkan dibarengi peningkatan kualitas pada peran yang kita lakoni adalah tindakan paling berkelas bila masih percaya bahwa kita adalah yang lebih waras dari mereka yang terlahir dan terbentuk dengan pemikiran yang sudah sangat lawas.

Artikel Terkait