Bertolak dari sebuah tulisan tentang manusia timah yang dibuat seorang teman, saya jadi pengen menggambarkan Tuhan dari sudut pandang saya.

Bermula dari orang-orang yang mengaku mengalami 'penglihatan-penglihatan' mahluk luar angkasa dan kejadian lain yang belum bisa diterima keabsahannya, pertanyaan klise muncul, do they exist?

Saya menjawabnya, ada. Mereka ada. Sama seperti keberadaan dinosaurus dan manusia purba, saya mempercayai keberadaan UFO dan alien. Bahkan saya juga percaya, di sebuah tempat, ada mahluk lain yang belum kita ketahui keberadaannya sedang merajut hidup. Mungkin sekelompok lendir berbudaya dan berteknologi tinggi, atau kelompok sinar yang hidup berkoloni.

Lalu apa hubungannya dengan Tuhan? Well, sebelumnya saya minta maaf kalau misalnya pendapat saya berseberangan dengan keyakinan yang pembaca miliki. Tidak ada maksud menghina sama sekali, ini murni cuman sharing pendapat.

Manusia mengenal Tuhan melalui kitab sucinya. Kitab suci, menurut manusia adalah dalil yang mutlak. Hukum absolut yang tidak bisa ditawar lagi kebenarannya. Apa yang ada di dalam kitab suci harus diyakini benar. 

Tapi manusia sering lupa bahwa Tuhan itu nyentrik. Pernah tidak menemukan kisah dalam kitab suci yang rasanya tidak masuk akal? Misalkan saja, konsep dosa adalah ganjarannya neraka dan pahala berganjar surga.

Saya ingat ada kisah dari saudara Muslim tentang perempuan tuna susila yang masuk surga gara-gara memberi minum anjing (binatang yang patut dihindari dalam kepercayaan sebagian umat Islam) yang hampir mati.

Atau dalam kitab suci umat Kristen tentang kisah penjahat berdosa besar yang disalib bersama-sama Tuhan Yesus, yang pada akhirnya diajak ke surga karena mengakuiNya sebagai Tuhan pada detik-detik kematiannya.

Manusia lupa bahwa Tuhan itu bisa semaunya sendiri. Pada ras yang sama: manusia, Tuhan bisa memberikan pemahaman yang berbeda tentang diriNya. Jika ini bisa dilakukanNya, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Tuhan juga membuat ciptaan lain nun jauh di sana, di luar jangkauan manusia. 

Ras lain yang tidak kita ketahui bentuk dan rupanya, yang mungkin diberi pemahaman tentang diriNya 180 derajat berbeda dengan pemahaman manusia. Bisa jadi mereka punya agama, kepercayaan serta kitab yang berbeda.

Tidak salah mengikuti tuntunan kitab suci untuk memahami ketuhanan Tuhan karena kita diciptakan sebagai ras homo sapiens. Tapi berpikir global tentang Tuhan, keluar dari kitab suci kadang perlu dilakukan agar sisi kemanusiaan kita terasah. Saya malah curiga jika ada manusia yang tidak pernah berpikir seperti ini, mungkin nilai kemanusiaannya - yang katanya berakala budi- sudah luntur. 

Jika diteruskan analisa saya, yang terjadi jika manusia tidak keluar dari kubikel bernama 'kitab suci' akan menjurus pada lahirnya kelompok manusia yang suka dengan tindakan barbar, membela kepercayaannya dengan membabi buta jika ada kelompok lain yang tidak seruang dengan kubikel kitab sucinya. 

Peryataan terakhir tulisan saya, sepertinya kemauan Tuhan sendiri membatasi manusia untuk mengenalNya. Maka dari itu, Dia menurunkan kitab suci untuk membatasi keingintahuan manusia tentang Tuhan. Why? Mungkin Tuhan trauma dengan tragedi buah kuldi di taman eden. Who knows?