Semilir angin yang merebak dedaunan pohon, membuat cahaya yang berkerlap kerlip menyelinap masuk melalui jendela. Rindangnya pohon tak mampu mengalahkan cahaya matahari. Namun, nuansa sejuk yang menusuk alam pikiran dan memberi ketenangan. Sampai-sampai tak sadar, jemari ini mulai membubuhkan goresannya pada sehelai kertas putih.

Saya sebenarnya tidak membantah teknologi. Karena berkat teknologi, saya dapat mengenal kertas yang menjadi sahabat di setiap waktu luang yang saya miliki. Saya kembali melirik pohon rindang di ujung sana. Selintas saya teringat, kertas yang ada di hadapan saya dibuat dari pohon itu. Saya pun mulai terdiam dan bertanya. Apakah pohon itu akan habis jika terus ditebang untuk membuat kertas ini?

Seperti tengah memutar rekaman video. Saya melihat bagaimana manusia telah dimanjakan oleh fasilitas yang diberikan oleh alam. Mereka menebang pohon dengan sangar, membabi buta demi kepentingan merek sendiri. Dalam jangka waktu satu tahun, sebut saja sebuah industri berbasis kayu membutuhkan 6.000.000 batang pohon. Sementara, untuk mengembalikan pohon dengan jumlah yang sama dibutuhkan waktu hampir sepuluh tahun.

Kertas yang dahulu hanya digunakan untuk menulis, kini mulai melahirkan produk kertas yang lainnya. Teknologi seolah memberi suntikan pada industri kertas agar menciptakan pembaharuan jenis kertas. Tentu dengan kegunaan yang lebih banyak lagi. Hal ini, justru mematahkan ramalan Federick Wilfrid Lancester-salah seorang pakar informasi Inggris-pada tahun 1978 tentang masyarakat tanpa kertas (paperless society).

Namun, kita tidak boleh asal men-judge ramalan Federick. Federick sendiri mengungkapkan ini jauh sebelum teknologi percetakan diciptakan dan kertas berjaya. Justru, ramalan ini memungkinkan adanya upaya dari manusia untuk melakukan tindakan preventif agar hal ini tidak terjadi. Ramalan ini pula, separuh memiliki kebenaran. Hal ini, terbukti dengan adanya peralihan peran kertas seperti baca, tulis dan berkomunikasi dengan adanya internet.

Kita tidak boleh munafik tentunya, karena internet mampu mempermudah kita dengan segambreng kegiatan. Lagi-lagi teknologi, membius kita untuk mulai menulis dan melupakan kertas karena ketakutan jika pohon habis. Ini justru menjadi buah simalakama.

Awalnya teknologi membantu kertas tetapi akhirnya malah menggantikan peran kertas. Bahkan informasi menjadi sangat mudah didapat dengan satu kali sentuhan. Budaya baca koran pagi pun seolah tergantikan dengan ponsel pintar.

Saya merasa merindukan suasana melihat orang-orang pergi membawa setumpuk buku dan membaca koran di pagi hari. Andai kertas masih berjaya seperti dulu. Saat ini, rasanya malah seperti kertas itu ada namun tidak ada. Berita pun hilir mudik menyebutkan industri kertas berpeluang besar pada pasar internasional. Dengan jumlah produksi berton-ton pertahun. Lalu kertas itu dibawa ke mana jika orang-orang tidak lagi peduli akan kertas sebagai media baca-tulis.

Jawaban yang harus saya sebutkan adalah kertas berton-ton itu digunakan untuk kepentingan kebutuhan lain yang malah memakan banyak kertas. Ketimbang kegunaan kertas sebagai alat baca-tulis, kepentingan lain-seperti tisu dan kemasan-lebih banyak mengkonsumsi kertas.

Jika itu disebut peluang, maka kita sebagai negara kaya SDA akan dengan senang hati mengekspor komoditas bahan mentah dan mengimpor hasil outputnya dari negara lain. Mungkin keadaan ini akan terhenti setelah komoditas yang kita miliki habis, dalam konteks ini adalah kayu hasil hutan. Akhirnya, pemerintah tertampar untuk mencanangkan ekonomi berkelanjutan.

Ekonomi berkelanjutan ini, hadir sebagai jawaban atas kedilemaan dari krisinya komoditas pohon yang semakin berkurang. Ekonomi yang dimaksud adalah ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan bukan ekonomi berbasis sumber daya alam. Ini terbukti, dengan adanya kemajuan ekonomi yang bisa kita lihat di negara Korea Selatan dan Finlandia (itb.ac.id).

Pemerintah hadir dengan regulasi yang secara berangsur melakukan pembangunan, salah satunya dengan adanya AMDAL ( Analisis DAmpak Lingkungan). Hal ini, seharusnya menjadi dorongan untuk industri kertas agar mampu menciptakan bahan yang ramah lingkungan.

Tentunya selain kedua aktor yaitu pemerintah dan industri, masih ada masyarakat yang juga harus turut berkonstribusi. Memang pada dasarnya industri dan pemerintah juga diciptakan oleh individu dalam masyarakat itu sendiri. Peningkatan daya pikir dan peningkatan intelektual dari masyarakat menjadi kunci utama ekonomi berkelanjutan, bebasis ilmu pengetahuan.

Ekonomi berkelanjutan menjadi solusi agar industri kertas mampu menciptakan suatu kondisi dimana kayu tida digunakan lagi untuk produksi kertas. Dengan mulai secara berangsur menciptakan bahan kertas yang baik dan berkualitas, serta lolos dari regulasi pemerintah. Tentunya tanpa ada permainan izin dan manipulasi dari kedua belah pihak.

Solusi ini, menjadi sebuah harapan yang dapat mematahkan dilema antara kertas yang dirindukan dengan ketakrelaan hutan punah. Kita harus mulai bahu membahu membangun sebuah perubahan. Semoga harapan kecil ini dapat menjadi kekuatan untuk kondisi yang lebih baik.