Situasi membawaku mengurai setiap kata, ketika dunia menangis.

Kotaku menangis, hingga alur yang sudah terangkai pun berubah. 

Pandemi terjadi seijin Tuhan

Dia rindu ketika kita berikan banyak waktu untuk bersujud di hadapanNYA. 

Tidak harus di rumah ibadah namun, di rumah pun Tuhan berkenan.


Pandemi

Dunia terasa terlelap suara riuh enggan menyapa

Lalu lalang di jalan pun tiada bernyawa

Semua menjadi aksa sedikit berucap kata

Kemolekan tertutup cadar hanya sinar mata yang berbicara


Ketika pagi mentari menyapa

Setiap sosok menghampirinya

Membiarkan tubuh hangat membara

Sentuhan bagaskara membunuh pemburu raga


Dunia menjerit serasa tersiksa

Hasil peluh tak sama dengan yang lalu

Keramaian berjualan sunyi mendera

Canda tawa di sekolah hanya bayang bayang semu


Mereka bersembunyi dalam terungku

Bersambut keluarga kumpul tak berbatas waktu

Namun sang pencipta tetap merengkuh setiap waktu

Hikmat Tuhan ada selalu


Sehat jiwa dan raga itu perlu

Rindu jiwa mendekat utuh tiada beku

Berikan waktu untuk Tuhan sepanjang waktu

Menabur damai dalam doa dan rindu 


Berawal di masa yang sudah berlalu, 

sosok indah pernah menempati ruang hatiku. 

Sosok lembut yang menebar cinta 

Cinta pertama

Dalam renjana aku terdiam dalam bayangan

Tirai mengurai setiap jejak yang sudah berlalu  dalam genggaman

Mengalun indah membuat biduk hatiku bernyanyi di atas awan

Pertama rasa ini hadir menebar indah dalam asa yang kita renda


Senyummu perhatianmu membuatku melayang dalam pujangga

Ketika aku sedih kau tak beranjak pergi

Ketika aku sakit kau tak henti menyapa dan peduli

Ketika aku bahagia kau tetap merengkuhku tak perduli diri


Senyummu meneduhkan hatiku

Suaramu menenangkanku

Rindu saat itu berbalut dalam diriku

Rindu musim itu, saat aku masih dalam pelukanmu


Kini rindu tak bisa lagi bicara

Terungkup dalam bayanganmu yang membuatku lara

Sayatan luka masih terasa 

Saat ku sadar kau dan aku tak bisa lagi berlabuh dalam asa


Terima kasih buat rasa yang pertama

Kamu lukisan indah yang pernah aku rengkuh dalam asa

Tertuang dalam pena dulu menyala

Kini redup dalam luka yang masih tersisa


Pertama aku rasakan indah berdendang

Pertama juga hatiku terasa perih dan berkeping

Aku lepaskan kamu bukan karna sosok yang lebih penting

Tapi karna dunia yang genting


Rindu ini mungkin tak harus dijawab

Biarlah asa yang akan menjawab

Tentang kepingan hati  yang terjebak

Dalam renjana cinta pertama.


Cinta yang sudah berlalu, tak bisa aku genggam namun, biarlah utuh 

dalam kenangan di setiap musim.

Derai cinta yang berlalu

Diam dalam terungku asaku bersamamu

Meredam rindu yang tak terurai dalam ruang dan waktu

Waktu itu,

Merampah melintasi waktu


Dulu bahagia dalam pelukmu

Terpaksa kulepas karna dunia tak setuju

Walau dalam dera menghujani hatiku

Laraku kehilangan waktu bersamamu


Kini angin bertandang membawamu menempati kembali hatiku

Sayat luka yang sudah pulih terbenam kembali dalam gundah dan sembilu

Tak mau aku terlelap dalam bayangmu

Melangkah aku hirap tinggalkan jejakmu


Dan kutuliskan puisiku hingga ketika indurasmi mulai memudar

Cakrawala mulai berganti

Baskara pun enggan kembali

Puisi ini akan berkelana dalam setiap musim.



Hidup

Hati tenang menyegarkan tubuh 

Tetapi iri hati membusukkan tulang

Orang bebal membuat orang bijak lelah

Mengurai kata hanya dibuang


Menghina orang lemah menghina penciptanya

Hikmat kasih tiada melihat rupa dan kasta

Orang mencibir melihat sesamanya

Lupa akan kekurangan dirinya


Peluh dosa basahi setiap insan

 Hukum Tuhan sudah lama tersimpan

Sejak Tuhan menciptakan

Dalam bathin sudah terpahat dalam nafas kehidupan


Hati nurani berucap berbisik menembus jiwa

Insan berjejak menyalin renda

Berdosa lalu bertobat adalah bijak

Menatap akan keselamatan jiwa kelak


Rindu

Aku terjebak dalam sebuah rasa

Memoriku menjelajahi setiap asa

Terbuai dalam dilema yang tak bersuara

Merampah mengingat sosok yang pernah ada


Ternyata waktu tak mampu menepis yang lalu

Walaupun musim mulai rapuh dan sayu

Puluhan tahun berlalu

Dirimu masih hanyut dalam alam anganku


Kenyataan harus kugapai

Semua kenangan yang kudapati

Tak kan pernah bergulir lagi

Hanya Aksara yang terukir menjadikan abadi


Terluka

Bercermin dalam diri

Tertawa namun bersembunyi

Merasa diri tersakiti

Membeku tak mengubah diri


Berucap tak pasti emosi tak terkendali

Meredam emosi membuang energi

Derai tangis merobek hati

Terbuai celah menyakiti diri


Memaafkan itu langkah pasti

Tak mengungkit lukapun pulih sendiri

Melupakan pahit dihati

Tersenyum tulus menjamah setiap sanubari


Sang Pencipta

Sang pencipta melukis sesuai gambaranNya

Termaktub dalam hatiNya

Untuk menempati mahligai nirwana


Tercipta atma dan daksa

Daksa kirana berdendang untuk memuji karyaNya

Atma mendekat  tak menjauh dariNya

Dama menyentuh setiap basirah mengukir keinginanNya

Untuk taat selalu kepadaNya


Nurani pun bicara bila dunia tak senada

Berasa tak mampu melangkah jatuh dan menyimpang dalam lembah asa

Butuh ampunan dari sang pencipta

Tersungkur mengaku dosa


Mengerang dan merampah dalam dunia yang kejam

Hirap dosa mengandalkan diri tak akan bisa

Mengembara bersama dunia tak kan tenang 

Bagai di atas gurun aku berjalan


Dalam harsa aku terengkuh bersama kasihMu yang tiada semu

Melodi mengalun menyentuh kalbu

Hanya denganMu aku mampu

Melewati dunia yang semu


Penghias langit, mencipta dengan kasih tiada akhir

Membawa diri padaMu sampai akhir

Menata hati terukir indah bergulir

Membiarkan tanganMu mengisi setiap asaku dalam renda harsa dan getir


Karna damai sejahteraMu melewati batas cakrawala

Dunia tak akan memahaminya

Berpegang padamu, terpahat dan bertakhta

KAU menyinariku dengan Indahnya