Alexander Poniewierski menyebut dunia sekarang dengan istilah “The World of Speed.” Dalam bukunya Speed: No Limits in The Digital Era (2019), Poniewierski mengemukakan alasan ia menulis “I have called this book SPEED because rapid change is effecting everything from economic development to business models and management behavior.” Poniewierski melihat segala sesuatu di sekitarnya “accelerating.” Maka, Anda perlu pegangan, “Fasten your safety belt!”

Era abad ke-21 sering dibubuhi tanda “speed.” “Speed” menunjukkan bahwa orang tengah berlomba-lomba tidak hanya dengan sesama dan waktu, tetapi dengan tuntutan zaman. Tuntutan itu bermacam, di antaranya bagaimana agar seseorang bisa menghemat waktu dan tidak ketinggalan waktu. Banyak orang kemudian berlomba-lomba untuk menerjemah tuntutan ini ke kehidupan nyata.

Di dunia kuliner, muncul McDonalisasi dengan konsep restoran cepat saji. Di dunia otomotif kita menyaksikan peluncuran kereta api cepat demi memangkas track laju waktu perjalanan. Dan, teknologi bahkan meluncurkan berbagai platform-nya dengan visi menyediakan yang lebih cepat. Kata pendiri Facebook, Mark Zukerberg: “Move fast, and break things!”

Kita tidak bisa menolak semua realitas ini. Kita hidup di era kecepatan (the world of speed). Kita ada dalam tuntutan kemendesakan. Ray Kroc (1902-1984), sosok pria jenius di belakang persalinan waralaba restoran McDonald, mampu membaca era kecepatan ini sebagai sebuah peluang bisnis.

Di usia yang relatif muda, ia berambisi memasung keinginan konsumen dengan menawarkan konsep restoran cepat saji (fast food). Pada awalnya, Kroc memulai konsep McDonald ini di Amerika Serikat. Akan tetapi, dalam waktu yang sangat singkat, McDonalisasi berkembang pesat hampir ke seluruh dunia.

Memasuki kultur yang mengutamakan kecepatan, membuat orang begitu sibuk dan terusik. Orang tidak lagi mau berlama-lama untuk menunggu. Orang ingin cepat sampai ke tujuan. Orang ingin cepat menggenggam sesuatu. Inilah karakter yang dibawa serta di era kecepatan. 

Semua orang justru mendesak siapa dan apa saja, agar apa yang diinginkan bisa tercapai. Bahkan, tuntutan era kecepatan ini mendesak para anggota DPR untuk sesegera mungkin meratifikasi produk Undang-undang penuh polemik. Inilah sebagain dari litani yang bisa diabadikan dari proyek era kemendesakan.

Proyek besar yang tengah diluncurkan era kecepatan adalah industri 4.0. Dalam kerangka industri 4.0, kecepatan menjadi jargon utama. Dengan kata lain, era industri 4.0 memandang kecepatan sebagai kunci utama kemajuan. 

Oleh karena itu, untuk memangkas waktu, semua jenis pekerjaan dan usaha dikendalikan secara rapid dan otomatically oleh teknologi. Hasilnya pun cepat dan manusia dengan cepat menikmatinya. Lalu bagaimana tuntutan era kecepatan ini memengaruhi perilaku manusia khususnya di tengah pandemi Covid-19?

Yang terlihat dari pengaruh era kecepatan ini adalah semuanya “kebelet.” Semua ingin agar cepat selesai – terutama pandemi Covid-19. Doanya: “Ya Tuhan, semoga pandemi ini cepat berlalu.” Ingin cepat-cepat. Imbasnya,  orang kemudian semakin terburu-buru. Ada upaya memborong kebutuhan pokok. Ada upaya melakukan “rapid test.” 

Dan, karena tuntutan kecepatan, orang akhirnya terburu-buru keluar rumah dan mulai berkerumun. Inilah sketsa societas di era kecepatan. Tak mau berproses. Bahkan, tenaga medis diabaikan demi tuntutan kecepatan. Publik merasa terlalu lama tinggal dalam tekanan pandemi. Bikin jenuh. Jadilah tagar Indonesia Terserah.

Corona Virus Disease 2019 merupakan jenis virus yang mudah menular. Awalnya, virus ini hanya mengintari daerah Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Dunia bahkan tidak pernah membayangkan bahwa penyebarannya akan sampai ke seluruh dunia. Penyebarannya begitu cepat (rapid).

Kecepatannya melahirkan beberapa istilah yang dengan cepat pula bermetamorfosis, antara lain wabah, epidemi, dan pandemi. Karena telah menyebar ke seluruh pelosok dunia, virus korona diberi label pandemi. Semuanya ini lahir dari kemendesakan yang dituntut pada era kecepatan.

Semenjak virus korona ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), semua orang cepat-cepat membuat kebijakan dan mengatur strategi penanggulangan. Negara Cina sendiri kemudian membangun Rumah Sakit untuk penanganan pasien virus korona dalam waktu 10 hari. Sangat cepat.

Di Vietnam, pemerintah dengan cepat memberlakukan kebijakan lockdown, karantina wilayah, dan social distancing. Orang kemudian berlomba-lomba memborong masker, hand sanitizer, mengekspor dan mengimpor alat-alat kesehatan, serta menimbun kebutuhan pokok. Semuanya ini merupakan langkah antisipatif dari gelombang era kecepatan.

Di Indonesia, pemerintah dengan cepat membentuk Gugus Tugas Percepatan Penangangan Corona Virus Disease 2019. Gugus tugas ini diyakini mampu mengerem laju penyebaran virus korona di Indonesia. Pembentukan gugus tugas ini, sesuai namanya “Gugus Tugas Percepatan” juga merupakan reaksi dari tuntutan yang dihidupi di era serba cepat.

Saat ini, kita menyaksikan bahwa pandemi dan kecepatan ada dalam satu barisan yang sama. Keduanya berpacu memangkas waktu. Tahun 2020 sudah berada di pertengahan, akan tetapi tidak ada pencapaian yang terlihat. Bisnis gulung tikar. Buruh di-PHK. Wabah ketakutan merajalela. 

Tahun ini benar-benar tahun khusus untuk kecepatan dan kemendesakan. Kita tidak menikmati apa-apa. Kata orang “Sebaiknya tahun 2020 diinstal ulang!” Terlalu banyak virus.

Era kecepatan atau kemendesakan memang membuka ruang agar setiap orang cepat bergerak dan bereaksi. Dalam konteks pandemi Covid-19, semua negara mempercayakan upaya penanggulangan ini kepada para dokter, team medis, dan petugas kesehatan. 

Mereka adalah ujung tombak dan garda terdepan dari proses penanggulangan penyebaran virus korona. Di Indonesia, para petugas kesehatan diberi ruang dan waktu untuk berproses selama pandemi.

Akan tetapi, di tengah perjuangan mereka, selalu ada kemendesakan dan tuntutan akan kecepatan. Banyak orang ingin agar pandemi ini cepat hilang tanpa mempedulikan perjuangan mereka selama pandemi mengintai. Di media sosial, ada yang menuntut agar team medis, dokter, dan pelayan kesehatan bergerak cepat mengatasi pandemi Covid-19.

Teriakan ini, hemat saya merupakan watak bawaan dalam diri masyarakat yang sudah terinstal sebelum pandemi. Masyarakat sudah terbiasa dengan kereta cepat, fast food, serta portal lain yang disuguhkan teknologi dalam waktu cepat. Oleh karena itu, mereka mendesak agar garda terdepan bertindak cepat.

Tuntutan kemendesakan di era kecepatan ini mendorong pemerintah dan pelayan kesehatan mencari cara agar memanage ketidaksabaran masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah berupaya mengadakan alat tes cepat atau rapid test untuk mendeteksi secara dini pasien yang terpapar virus korona. 

Sekali lagi, pengadaan alat rapid test adalah bagian dari kultur era kecepatan. Orang tidak mau berlama-lama menunggu dan hidup dalam bayang-bayang pandemi. Orang ingin segera pulih.