Gemah Ripah Loh Jinawe, begitulah orang sering menyebut negara kita yang kaya raya ini. Dari Sabang hingga Merauke kekayaan alam Indonesia tidaklah terhingga. Namun seringkali kekayaan alam negeri ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya.

Banyak rakyat Indonesia yang menjadi pembantu di negaranya sendiri dan jangan pernah bertanya: “siapakah majikannya?” Karena jawabannya akan selalu sama, yang manjadi majikannya tentu saja warga negara asing.

Fakta yang kadang terasa miris melihat buruh rendahan adalah kaum pribumi sedangkan pabrik-pabrik yang berdiri kokoh tersebut dibangun di tanah milik Indonesia.

Para investor asing dengan harta dan kekuasaannya seakan membeli setiap sentimeter bagian negara kita. Membangun satu persatu ladang uang mereka dan mempekerjakan pribumi menjadi buruh kasar dengan upah rendah sudah menjadi fenomena umum di negara ini.

Contoh konkrit dari fenomena jadi pengungsi di negara sendiri bisa kita saksikan di suatu daerah di Jawa Timur yang mendapat julukan sebagai Ngoro Industrial Park (NIP).

Ngoro Industrial Park (NIP) merupakan kompleks industri yang terdiri dari berbagai pabrik produksi berbagai macam komoditi. Di Ngoro Industrial Park (NIP) kita dapat melihat bahwa sebagian besar pabrik yang berdiri di sana adalah pabrik-pabrik besar dengan produk dan merk papan atas, namun sebagian dari mereka adalah pabrik milik asing.

Lantas kita bertanya bagaimana dengan kaum pribumi? Jawaban yang sudah pasti bisa kita tebak bahwa kaum pribumilah yang menjadi buruh kasar karena mereka tidak memiliki modal baik modal materi ataupun skill yang memadai. 

Buruh pabrik di NIP yang sebagian besar adalah pemuda produktif dengan tingkat pendidikan rendah (lulusan SMP/SMA) dipekerjakan dengan sistem kontrak. Rata-rata mereka yang bekerja di pabrik NIP harus melewati siklus training selama tiga bulan pertama kerja dan jika dinilai cukup cakap mereka akan dikontrak selama tiga tahun.

Masa kerja yang singkat dinilai dapat memacu semangat kerja para buruh dengan imbalan bagi mereka yang memiliki rekam jejak kerja yang baik akan diperpanjang kontrak kerjanya atau bahkan diangkat sebagai buruh tetap. Upah yang mereka dapatkan sesuai dengan UMR Kabupaten, yaitu di atas 3 juta rupiah tiap bulannya.

Para pemuda produktif, aset bangsa kita tidak punya pilihan lain selain jadi buruh. Kenapa? karena mereka tidak punya bekal yang cukup untuk bersaing dengan dunia luar apalagi bekal modal. Alangkah lebih amannya jika mereka bekerja sebagai buruh kontrak di negaranya sendiri, seperti itu pikirnya.

Mungkin saat melihat fakta ini, sebagian dari kita menjadi tertarik untuk mengikuti jejak para lulusan SMA tersebut untuk melamar kerja di pabrik-pabrik yang berdiri di NIP, dengan alasan gaji yang cukup tinggi meskipun mereka harus hidup dengan bayang-bayang pemberhentian kontrak kerja.

Tentu saja nasib para buruh pabrik di NIP jauh lebih beruntung karena gaji mereka yang terhitung cukup tinggi. Namun di daerah yang sama, buruh yang bekerja di pabrik yang berdiri di wilayah kota memiliki nasib yang berbeda.

Di wilayah kota, upah dari buruh adalah separuh dari UMR wilayah kabupaten, dalam hal ini yang kita maksud adalah NIP. Buruh dengan kualifikasi lulusan SMP/SMA di wilayah kota hanya diberikan gaji pokok 1,6-1,7 juta tiap bulan.

Seluruh pekerja pabrik rata-rata memiliki kebutuhan hidup yang sama namun gaji yang mereka dapat tidaklah sama. Selain itu, ancaman pemberhentian kontrak juga selalu membayangi mereka. Apalagi tiap tahunnya jumlah angkatan kerja terus bertambah sehingga persaingan dalam mendapatkan pekerjaan sebagai buruh juga semakin ketat.

Hal ini diperparah dengan sistem recruitment pekerja baru yang kini berasaskan “kekeluargaan”. Bagi mereka yang bukan anggota keluarga dari senior di pabrik tersebut, maka kesempatan untuk diterima sebagai pekerja lebih kecil walaupun dengan kualifikasi yang sama. 

Alangkah lucunya negeri ini bila melihat tuan rumah yang harus menjadi pembantu di rumahnya sendiri, tuan tanah yang berakhir menjadi buruh. Setinggi apapun gaji seorang buruh tetaplah status mereka hanyalah sebatas pembantu, tetap saja majikan akan jauh lebih kaya dan sejahtera dibandingkan buruh.

Kita tidak perlu menyalahkan investor karena mengambil lahan kita. Di era ini, saat semua aspek kehidupan sudah menjadi liberal, seharusnya kita mengubah pola pikir bahwa jangan pernah puas menjadi bawahan dan berusahalah untuk selalu jadi majikan.

Adanya investor asing memang membawa dampak baik, seperti tersedianya lapangan kerja, namun itu juga sekaligus membawa dampak menurunnya daya saing kita dan kita akan selalu menjadi bangsa yang terbelakang jika tidak mampu bersaing dengan mereka.

 Ini adalah potret kelam dari negara yang kaya raya yang akhirnya hanya dapat menjadi pembantu di negaranya sendiri.

Terkadang peristiwa-peristiwa seperti ini kita abaikan begitu saja karena kita tidak ingin ikut campur urusan Negara. Adalah urusan individu masing-masing dalam menentukan jalan hidup mereka, biarlah pemerintah yang menyelesaikannya karena semua itu adalah tanggung jawab pemerintah.

Kalimat-kalimat seperti itu sering kita dengar muncul dari batin kita meskipun tidak sempat terucap. Namun, alangkah apatisnya kita sebagai warga negara jika terus bersikap masa bodoh seperti itu.

Kita perlu menganggap diri kita lebih mengerti dan lebih tahu sehingga kita bisa memberikan pemahaman pada mereka kaum buruh untuk berpikir kembali sebelum memutuskan menjadi buruh.

Dengan memberikan pemahaman pada calon buruh maka kita bisa memotivasi mereka untuk berwirausaha, menciptakan lapangan kerja bukan hanya untuk mereka sendiri namun untuk calon-calon buruh lain.

Mengubah persepsi dengan bekerja keras untuk memperkaya diri sendiri harus dimiliki tiap-tiap individu bangsa ini. Dengan menciptakan banyak lapangan kerja yang dikelola oleh kaum pribumi dan mempekerjakan kaum pribumi sendiri maka kesejahteraan bangsa akan meningkat.

Bukankah saat memasuki era MEA seperti ini persaingan dalam mendapatkan pekerjaan, meskipun hanya untuk jabatan buruh, akan lebih sulit? Apalagi bayangan persaingan dengan tenaga kerja asing dari wilayah ASEAN yang memiliki spesifikasi dan keahlian yang lebih baik dibandingkan kita, akan menjadi bumerang bagi kita.

Jika tidak memiliki pemikiran yang kreatif, tentu kita tidak akan bisa menjadi majikan di negara kita sendiri. Bisa jadi, kita tidak hanya menjadi pengungsi namun juga akan terusir dari negara kita sendiri.

Sikap seperti bangsa Cina harus kita miliki untuk dapat menjadi tuan rumah di mana pun kita berada. Kepribadian bangsa Cina yang kompeten di bidang perdagangan telah terkenal di seluruh penjuru dunia. Bahkan banyak negara maju yang menolak bangsa Cina masuk ke negaranya karena mereka takut tersaingi oleh para pendatang dari Negara tersebut.

Strategi dan keuletan dari bangsa Cina dalam berwirausaha bisa kita jadikan pedoman. Dengan begitu maka tidak menutup kemungkinan pabrik-pabrik asing yang sekarang berdiri di tanah milik bangsa kita dengan atas nama asing, bisa kita rebut.

Kuncinya hanyalah dengan cara menanamkan pada masing-masing individu bangsa ini bahwa sekecil apa pun pekerjaan itu, kita haruslah yang menjadi bosnya. Sekecil apa pun laba itu, haruslah masuk pada kantong kita, bukan ke kantong para investor asing.