“Sudah berulang kali aku beritahu aku nggak mau mencuri,” kataku pada istriku yang terus saja mengomel minta dibelikan kalung. Sudah satu minggu ini aku diomeli oleh istriku yang minta dibelikan kalung emas yang bobotnya tidak lebih dari dua gram. Bukannya aku pelit tapi aku memang tidak punya uang untuk membelikannya.

Sebagai pegawai negeri golongan dua, gajiku hanya cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari. Itu pun dengan asumsi tidak ada yang sakit di antara anggota keluargaku, karena apabila ada yang sakit, dijamin gajiku bakal kurang. Dengan dua anak yang masih kecil-kecil aku pun harus waspada terhadap segala bentuk rayuan barang-barang sekunder yang berusaha memoroti gajiku tiap bulannya.

“Mas, Bu Edi habis dari pasar pagi tadi cerita padaku, dia menunjukkan kalung yang dulu aku minta pada Mas untuk membelikannya, akhirnya ia yang memilikinya. Padahal pak Edi kan sama golongannya dengan mas di PNS, sama-sama golongan dua,” Istriku mengadu sore itu padaku.

Istriku memang belum menyadari betul-betul bahwa rejeki orang itu berbeda-beda walaupun toh sama jenis pekerjaannya. Pekerjaan dan cara bekerja bisa ditiru tapi urusan rejeki nanti dulu.

Apalagi ditambah jabatanku hanyalah seorang arsiparis. Bagi sebagian pegawai negeri sipil, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sering diberikan pada orang-orang buangan di lingkungan kerjanya. Arsiparis hanyalah seorang penanggung jawab urusan kertas-kertas berdebu. Itulah yang disangkakan kebanyakan rekan-rekan kerjaku.

****

Pagi ini aku berada di kantor seperti biasa, seolah tak ada masalah apa-apa di rumah dan memang urusan di rumah, tidak etis kalau dibawa-bawa ke kantor. Teman-teman juga demikian, saling bergurau tentang hal yang jorok sampai hal yang kadang-kadan tidak bisa lagi untuk ditertawakan karena terlalu jorok.

“Nes, rambutmu basah sekali hari ini, berapa kali tadi malam kau bertempur, K.O ya?” Edi dengan senyum terkekeh menggoda Ines teman kantorku yang baru saja menjadi  pengantin. Baru seminggu ia menikah dengan rekan sesama pegawai tetapi dari instansi yang berbeda. Ines yang digoda hanya bisa menjawab dengan tersenyum disertai muka yang memerah.

Selain Ines, di kantorku juga ada lagi yang sering jadi bahan godaan, yaitu Bu Sari yang memang terkenal genit walaupun sudah punya cucu. Tapi memang dasar orangnya agak lumayan juga untuk ukuran wanita paruh baya. Rambutnya saja masih di-rebounding seperti gadis-gadis belasan tahun. Kebetulan juga ia belum genap satu tahun menjanda, jadi rekan-rekanku di kantor makin semangat menggoda.

Bu Sari adalah pegawai buangan di kantorku. Dianggap buangan karena ia dimutasi ke tempat kerjaku yang terkenal kering. Ia terkena kasus penggelapan dana proyek. Untung saja ia tidak sampai dipenjara. Keburu ketahuan rekan sesama kantornya.

Memang, di kantor orang sering lebih banyak berguraunya daripada bekerja, terlebih lagi di kantor pemerintah. Dan itulah efek dari penempatan pegawai yang tidak efisien apalagi untuk dikatakan efektif. Bisa dilihat dari contoh berikut, seorang insinyur harus menempati bagian dokumentasi sebuah institusi pemerintah yang berkaitan dengan dunia perpustakaan, hanya dengan alasan agar menjadi pegawai berpengalaman di segala bidang.

Ada lagi yang lebih lucu di mana seorang sarjana bahasa ditempatkan di bagian keuangan. Tapi itulah dunia lembaga pemerintah, yang hampir sebagian besar pejabatnya mempunyai kredo yang manjur; ala bisa karena biasa. Hebat, kan!

Aku memang sudah sejak semula ditempatkan di kantor kearsipan ini. Sebagaimana latar belakang pendidikanku, Diploma tiga Kearsipan dari sebuah Universitas di Yogyakarta.

Pada mulanya aku membayangkan, ketika pertama kali diterima CPNS aku akan selalu bersinggungan dengan dunia arsip. Dunia  yang membuatku jatuh cinta dengan sejarah dan perkembangan informasi.

Namun, yang terjadi ketika aku mendapat SK penugasan dari kepala di Instansi tempatku akan bekerja, ternyata aku diperbantukan di bagian keuangan, mendampingi seniorku.  Bisa  dibayangkan betapa terasingnya aku dengan pekerjaanku dari semenjak pertama kali masuk kerja.

Memang, akhirnya aktivitas yang berhubungan dengan administrasi keuangan lebih dipentingkan dan lebih banyak menyita waktuku daripada tupoksiku sebagai seorang arsiparis, yaitu mengelola arsip dan informasi.  

Keadaan inilah yang membuatku repot. Sementara itu, istriku menganggap suaminya ini adalah pengelola keuangan, bukan pengelola arsip. Karena itulah ia menganggap aku bisa mendapat penghasilan berlebih.

Bagian keuangan tempat mengelola keuangan tentu bisa melakukan banyak rekayasa yang berkaitan dengan rupiah. Sialan. Aku menyesali keadaanku sekarang yang semakin mendekatkanku pada dunia curi mencuri. Apes.

Sebenarnya, urusan merekayasa nominal yang dalam istilah kerennya adalah mark up, hampir bisa dikatakan sudah lazim atau biasa. Teman-temanku sering beralasan begini: tidak mungkin kalau kita hanya mengandalkan gaji untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Jadinya, ya begitulah, sejak Indonesia merdeka sampai sekarang ini, mental pegawai ya begitu itu: harus pintar ngobyek dan patuh sama atasan.

“Begitu kita mendapat Nomor Induk Pegawai, kita ini sudah masuk ke dalam lingkaran setan, Bud.” Kata Deni, seniorku, ketika aku mencoba berkeluh kesah tentang perilaku pegawai negeri itu. Aku pun tidak menyalahkan atau membantah komentarnya.

“Kalau kamu tidak mau mencuri, ya jangan jadi pegawai negeri, ngaji saja di rumah,” lanjutnya waktu itu.

Semenjak ngobrol dengan Deni itulah di benakku sering timbul pertanyaan: apakah semua pegawai yang korup dan suka mencuri uang anggaran kegiatan itu karena memang watak bawaan atau karena ada faktor lain, karena keluarga misalnya? Bisa saja karena gajinya memang tidak mencukupi untuk menopang hidupnya.

Sebenarnya, gaji tersebut tidak kurang tapi habis hanya untuk membayar angsuran di bank sehingga yang dibawa pulang biasanya tinggal sepertiganya. Dan biasanya uang utang itu pun hanya untuk biaya konsumsi yang tidak penting.

Kenyataannya, banyak juga pegawai yang gajinya besar tapi masih saja mencuri alias korupsi. Untuk soal ini, aku termasuk orang yang menyangsikan bahwa korupsi di lingkungan pegawai negeri bisa dihentikan dengan jalan menaikkan penghasilan mereka. Faktanya, korupsi justru disebabkan oleh nafsu konsumtif yang menggebu-gebu.

Seperti halnya istriku yang sebulan ini terus merengek minta perhiasan, padahal ia sudah memakai perhiasan. Ini adalah wujud konsumtif buta yang pada akhirnya menggoda suami untuk mencuri-curi uang tambahan.

Sedari pertama kali jadi pegawai, aku sudah menyadari bahwa gajiku hanya cukup untuk hidup sederhana. Dan sudah pula kusadari resiko kekurangan gajiku.

“Sudahlah, Dik, gajiku tidak cukup untuk kebutuhan sekunder itu, jangan memancing saya untuk mencuri uang kantor.” Begitulah alasanku yang ke sekian kali kuungkapkan ketika ia terus menagih untuk dibelikan kalung.

“Masak kerja di Bagian Keuangan Mas nggak dapat uang sampingan?” rengeknya bersungut-sungut.

“Sumber pendapatan kita hanya satu, lagian aku hanyalah seorang arsiparis bukan staf keuangan seperti yang kamu sangka. Gajiku cuma itu,  tidak ada yang lain. Kamu kan masih memakai cincin mas kawin kita, itu kan masih pantas, tho.” Bujukku.

Bila kupikir-pikir apakah benar bahwa pejabat yang suka mencuri itu memang berwatak pencuri ataukah mereka mencuri karena sebab-sebab lain yang tak kuketahui, istri yang terlewat konsumtif misalnya.

Atau mungkin mereka salah pergaulan. Misalnya ia berteman dengan pengusaha kaya yang gaya hidupnya pasti perlu biaya tinggi. Karena itu ia harus mengimbangi gaya hidup teman-temannya tersebut. Makanya, kalau hanya sekedar mengandalkan gaji pegawai, pasti ketinggalan dengan temannya yang pengusaha itu.

“Orang hidup itu perlu perhitungan matang. Baik dalam segi materi maupun non materi. Kita harus cermat mengelola hidup. Kalau tidak, ya kita pasti kalang kabut.” Begitu petuah Pak Imam ketika aku mendatangi rumahnya untuk meminjam uang.

Pak Imam dikenal sebagai pengusaha di desaku. Ia juga terkenal dermawan dalam memberikan pinjaman. Walaupun ia hanya lulusan SD tapi kegigihannya bekerja sedari kecil, menjadikannya sebagai pengusaha di bidang perikanan. Banyak pabrik di kota yang membutuhkan pasokan ikan darinya. Di sela-sela kesibukannya sebagai guru, ia masih mengurusi beberapa pengepul ikan yang menyetor ikan kepadanya.

“Maaf, Pak, anu….. gajiku habis, sedang bulan baru dua puluh hari berjalan,” jawabku ketika Pak Imam bertanya tentang alasanku mau menghutang lagi padanya. Walaupun dengan banyak petuah yang membuatku merasa semakin mejadi orang bodoh saja, Pak Imam pasti memberiku pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari.

Dengan perasaan campur aduk, antara sedih dan lega, aku pulang ke rumah. Bayangan anakku yang tengah sakit, melintas terus di benakku. Langkahku semakin kupercepat. Tak lupa aku mampir ke apotik untuk membeli sirup penurun panas. Uang hasil pinjaman masih tersisa separuh, cukup untuk sepuluh hari ke depan.