97277_90060.jpg
https://geeky.kincir.com/science-technology/7-teknologi-yang-bakal-kita-temukan-hingga-2030
Kesehatan · 5 menit baca

Dilema 2030, Yakin Masih "Sehat"?

Ada apa dengan 2030?

Prediksi mencengangkan datang dari McKinsey Global Institute (Perusahaan Konsultan Manajemen Multinasional) yang melaporkan bahwa pada tahun 2030 sebanyak 375 juta pekerja di dunia akan digantikan oleh robot.

 Adapun pekerjaan yang digantikan oleh robot yaitu operator mesin, penyedia makanan cepat saji, pemrosesan data dan back office. Data yang tak kalah mencengangkan yaitu 30% dari total jam kerja di seluruh dunia pada 2030, akan tergantikan oleh otomatisasi-mesin

Lantas bagaimana kehidupan manusia sebagai tenaga kerja pada tahun 2030? Jika manusia tersingkir oleh kecanggihan robot dan mesin di era super modern kelak maka kontribusi apa yang dapat kita berikan untuk menyongsong tujuan pembangunan berkelanjutan?

Ataukah kita tidak bisa berkontribusi sama sekali karena kita merupakan salah satu dari 375 juta pekerja yang diprediksikan tersebut?

Jikapun kita tidak termasuk salah satu dari 375 juta pekerja tersebut masihkah kita merasa aman dengan beban kerja yang nantinya terlalu sedikit karena digantikan mesin?

Pembangunan Berkelanjutan dan Manusia “Sehat”

Kegagalan Indonesia dalam mencapai sejumlah target Tujuan Pembangunan Millenium pada 2015 adalah sebuah pelajaran  untuk mempersiapkan amunisi yang lebih baik menuju pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs (Sustainable Development Goals) pada tahun 2030.

Menurut Pakar Demografi Fakultas Ekonomi UI, Sonny Harry B. Harmadi, Tujuan pembangunan Berkelanjutan, memiliki batas waktu tertentu dan target terukur yang harus dicapai hingga akhir 2030.

 Implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan menjadi komitmen negara terhadap rakyat Indonesia dan komitmen Indonesia kepada masyarakat global (KOMPAS, 14 April 2016).

Salah satu tujuan dari Pembanguan Berkelanjutan pada poin ketiga yaitu target Kesehatan dan Kesejahteraan yang termasuk pada Pilar Pembangunan Sosial. Diantara sub-tujuan yang ditargetkan adalah “mendorong Kesehatan dan Kesejahteraan Mental”.

Kesehatan dan Kesejahteraan Mental pada manusia sebagai tenaga kerja sangat penting. Kondisi manusia yang secara fisik dan mental akan berpengaruh pada produktivitas dan motivasinya untuk bekerja. Kesejahteraan mental secara psikologis dapat disebut dengan kesehatan mental atau mental hygiene.

Menurut WHO, kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan aktif di lingkungannya.

 Bagi manusia yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kondisi disekitarnya maka akan mengalami gangguan kesehatan mental.

  Ketidakmampuan dalam memecahkan sebuah masalah akan menimbulkan stres yang berlebih dan menjadikan kesehatan mental individu tersebut menjadi lebih rentan.  Gangguan kesehatan yang dimaksud meluputi stress dan depresi pada individu.

Dilema Tenaga Kerja di 2030

Pada Abad millenum ini Industri menawarkan kecanggihan teknologi mesin yang dapat menyelesaikan hampir pekerjaan Industri. Dengan kecanggihan teknologi mesin yang semakin berkembang, manusia sebagai tenaga kerja di Industri maupun perkantoran diprediksikan akan mengalami stress kerja yang tinggi.

Secara spesifik stress pada tenaga kerja disebut dengan stress kerja atau work stress. Penelitian yang dilakukan oleh Mangkunegara  menggambarkan bahwa stres kerja adalah perasaan yang menekan atau merasa tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaannya.

Uniknya faktor yang menyebabkan stress kerja bukan hanya karena tuntutan dan beban kerja yang terlalu banyak namun beban kerja yang terlalu sedikit juga dapat menimbulkan stress karena menimbulkan kebosanan.

 Menurut penelitian yang dilakukan Wijono kebosanan dalam kerja rutin sehari-hari juga dapat terjadi sebagai hasil dari terlampau sedikitnya tugas yang dilakukan, dapat menyebabkan berkurangnya perhatian dan menimbulkan stres.

Hal ini berkaitan dengan beban kerja yang diprediksikan akan semakin berkurang beban kerja karena digantikan oleh robot dan otomatisasi-mesin.

Selain stress, kondisi psikologis yang memprihatinkan yaitu depresi. Apabila tenaga kerja yang mengalami stress tidak mendapat penanganan yang tepat maka hal tersebut akan meningkat menjadi depresi.  

Kesehatan mental merupakan hal urgen dalam peradaban ketenagakerjaan di Industri. Pada hari kesehatan mental dunia dengan tema Mental Health in Work Place, dr. Andri SpKJ mengatakan bahwa masalah mental karyawan belum menjadi fokus utama yang diperhatikan.

Kondisi tenaga kerja yang stress dan depresi akan menurunkan kualitas hidup dan kualitas kerja seseorang. Industri harus turut memikirkan hal tersebut.

 Riset Kesehatan Dasar mencatat bahwa pada tahun 2007 terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang yang menderita gangguan jiwa ringan hingga sedang.

Sebagaimana diungkapkan Putra Wiramuda, Peneliti bidang Psikologi Klinis UGM “Angka-angka tersebut sebenarnya hanyalah puncak gunung es yang menyimpan potensi bahaya laten yang lebih besar.

Tentunya dengan semakin banyak jumlah orang yang mengalami masalah mental akan menambah kerugian di bidang ekonomi.

 Pricewaterhouse Coopers (PwC) merupakan kantor pusat jaringan layanan profesional mulitinasional memprediksikan pada tahun 2030, kekuatan ekonomi Negara kita akan menduduki peringkat ke-5 dengan pendapatan 5,424 triliun.

 Namun pada tahun yang sama, mirisnya saat kekuatan ekonomi kita berjaya, angka masalah kesehatan mental juga semakin tinggi. Kerugian yang diperkirakan oleh WHO dan WEF gangguan kesehatan mental akan menghabiskan 6 triliun dollas AS.  

Bukankah seharusnya dengan kekuatan ekonomi yang meningkat masyarakat akan semakin sejahtera, namun mengapa sebaliknya, kesehatan mental semakin menjadi masalah dan menambah beban ekonomi.  

Save People, Planet and Profit

Industri sebagai wadah bagi tenaga kerja untuk berkarya harus menerapkan tujuan pembangunan perkelanjutan yang tidak hanya memikirkan profit saja.

 Menurut Griggs tujuan pembangunan berkelanjutan untuk manusia dan kestabilan planet harus terintegrasi dengan target United Nations untuk melawan kemiskinan dan keamanan kesejahteraan manusia.  

Sesuai dengan prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yaitu People, Planet and Profit, Industri harus memikirkan bagaimana individu yang terlibat didalamnya memiliki kesehatan mental yang baik yaitu terhindar dari stress dan depresi.

Bukan hanya memikirkan profit karena manusia bukan robot tenaga kerja, mereka mempunyai perasaan dan masalah yang harus diselesaikan.

Tindak lanjut dari industri dapat melakukan psikoedukasi bagi tenaga kerja. Psikoedukasi berkaitan dengan  bagaimana cara mengatasi stress di tempat kerja dan juga hal ini tidak terlepas dari sistem-sistem yang diperbarui oleh industri.

Sistem kerja  yang tepat dan tidak membuat tenaga kerja stress dan depresi sangat dibutuhkan. Psikoedukasi setidaknya membantu penanganan awal bagaimana cara mengatasi stress di tempat kerja secara individual.

Industri dapat berkerja sama dengan Psikolog Industri dan Organisasi untuk mengadakan pelatihan berbasis psikoedukasi untuk mengurasi stress secara individual.

Jadi bagaimanakah wujud kesehatan mental kita pada 13 tahun mendatang? Akankah kita masih “sehat”? sehat secara mental dan fisik.

Kabar baiknya adalah jika manusia mampu mengaktualisasaikan diri dengan cara  mengoptimalkan potensi dan keterampilan kerja yang mampu bersaing global maka manusia akan mampu mengendalikan stress dan menjadi manusia yang sehat dan tidak tersingkirkan oleh robot robot industri yang semakin canggih.