Saya adalah manusia berambut gondrong. Cari-cari tahu soal gondrong, ternyata ada buku Aria Wiratma Yudhistira berjudul “Dilarang Gondrong! Praktik kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an”. Menarik sekali buku itu. Bayangkan, gondrong saja dilarang. Kenapa?

Dalam buku tersebut dituliskan bahwa pada dekade pertama Orde Baru, orang yang berambut gondrong merasa terancam keberadaannya. Ya, mereka dianggap tidak mencerminkan kepribadian bangsa. Pemerintah pun tak main-main dengan adanya larangan gondrong ini. Sampai-sampai militer membuat kebijakan khusus dengan melakukan razia di jalan-jalan kota untuk ‘memberantas’ manusia berambut gondrong. Dalam razia itu, tentara tak pakai pistol, melainkan gunting.

Dalam bukunya, Aria menuliskan bahwa adanya pelarangan berambut gondrong ini adalah sebuah gerbang menuju sistem pemerintahan yang mencekik kebebasan berkreasi dan bergaya hidup. Apalagi pemuda berambut gondrong menjadi momok menakutkan bagi pemerintah saat itu, karena terlihat dari beberapa aksi pemuda yang melawan korupsi, melawan militer, melawan fusi politik dan juga menentang proyek Taman Mini Indonesia Indah yang diusulkan Tien Soeharto.

Satu hal yang mungkin yang menjadi dasar kekhawatiran Pemerintah Orde Baru pada saat itu, yakni bergejolaknya pergerakan kaum hippies di berbagai negara maju ataupun beberapa negara berkembang. Budaya hippie ini lahir karena pemberontakan politik, sosial, dan spiritual kaum muda.

Pada umumnya, golongan muda yang ikut terjun dalam budaya hippie ini adalah mereka yang menentang pemikiran konservatif orangtua dan juga kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang seenak perutnya memicu perang di sejumlah negara (terutama perang di Vietnam). Satu ciri yang melekat dari penampilan kaum hippies ini, yaitu rambut yang dibiarkan panjang (gondrong) bagi para pria.

Seiring budaya hippie yang semakin meluas ke seluruh penjuru dunia, Pemerintah Orde Baru pun secara cermat telah memprediksikan budaya tersebut juga akan merasuk ke jiwa pemuda-pemudi Indonesia. Maka sesegera mungkin ‘Dilarang gondrong’ diberlakukan.

Maklum saja, pada saat itu pemerintah memandang pemuda adalah sosok yang mengkhawatirkan. Khawatir kalau gerakan pemuda akan merusak pakem sistem yang pada saat itu mulai dibangun secara bertahap. Tak ketinggalan juga, musisi-musisi atau seniman yang berpenampilan layaknya kaum hippie juga dibisukan dengan cara dilarang tampil di TVRI, kampus-kampus hingga area publik.

Inilah tonggak sejarah Pemerintah Orde Baru yang menciptakan paradigma bagi sebagian masyarakat Indonesia. Masyarakat terjebak untuk menghakimi pemuda yang terlihat liar dari segi penampilan. Gondrong menjadi stigma sosial di tengah masyarakat. Mereka yang gondrong dicap preman atau pemuda liar tanpa masa depan yang jelas. Secara tidak langsung, keadaan seperti inipun membunuh pemikiran-pemikiran para pemuda (yang biasanya memang acuh dalam berpenampilan).

Seiring tahun berganti, hingga orde baru tamat, gondrongpun masih ‘dihujat’. Namun, hal ini dipersepsikan masyarakat dalam dua sisi saja, yakni gondrong adalah preman dan gondrong adalah seniman.

Lalu dimana para pemuda gondrong yang aktif melakukan perlawanan atas kebijakan-kebijakan pemerintah ataupun keadaan sosial masyarakat yang kian tipis digilas peradaban modern? Masih. Saya yakin masih ada. Mereka tersuruk di sisi minoritas.

Setelah 45 tahun berlalu, bagaimana? Apakah tentara masih memakai gunting untuk ‘men-cepak-kan’ rambut para pemuda? Atau masih dengan keras melarang pemuda melakukan pergerakan perlawanan?

Saya kira sama saja. Sekarang peradaban sudah maju. Saking majunya, pemikiran dibuat mundur. Ini berbahaya. Sekarang banyak muncul pergerakan berbagai pihak untuk mematikan pemikiran pemuda. Hasilnya, pemuda hanya sibuk membully, berselfie ria, bergelak tawa, huru-hara, hura-hura dan kian terlarut dalam euforia belaka.

Istilahnya, rambut pemuda negeri ini telah diarahkan hanya untuk mengikuti trend dari selebriti dunia maupun dalam negeri. Walaupun ada yang gondrong atau mohawk sekalian, itu hanya sebatas style. Biar dibilang keren. Lalu kemana sikap kritis itu dicampakan, wahai pemuda?

Secara perlahan, sistem serta gejolak permasalahan yang terjadi di negeri ini telah menciptakan apatis yang menjadi-jadi di tubuh sebagian generasi muda. Kepedulian untuk berbangsa dan bernegara luput dari pikiran. Mungkin sebagian mereka (para pemuda) telah merasakan bebas dari ‘penjara suara’ setelah masa orde baru tamat. Tetapi, bagaimana bunyi ‘suara’ mereka setelah ‘kebebasan’ itu?

Banyak contoh. Lihat itu banjir, lihat itu kekeringan atau ingatlah kebakaran hutan tempo lalu. Semuanya nyaris hanya melahirkan suara-suara hujat, debat kusir dan olok-olok tanpa solusi. Istilahnya, kalau sudah timbul masalah, generasi muda mulai untuk ‘heboh’ dan mulai mencari kambing hitam. Sebelum terjadi masalah bagaimana? Hanya diam membatu. Setelah kejadian, antisipasi pun tiada.

Mungkin memang pada masa orde baru para pemuda ‘hanya’ dilarang untuk berambut gondrong. Namun ini jelas seperti menjadi langkah awal untuk ‘memotong’ pemikiran generasi muda. Istilahnya, Dulu ‘dilarang berambut gondrong’, dan sekarang ‘dilarang berpikiran gondrong’. Begitu?

Oh ya, buat Anda yang baru lulus SMA dan berminat untuk gondrong, saya cuma pesan, jangan hanya rambut yang dipanjangkan, tapi pola pikir seharusnya juga.

Betewe, tak terasa sudah hampir delapan tahun lamanya saya hidup dengan rambut panjang. Lalu kapan dipotong pendek? Jangan tanya begitu. Bagi saya, memanjangkan rambut bukan untuk gaya-gayaan, biar dicap seniman, rocker atau apalah namanya itu. 

Bagi saya, berambut panjang adalah sebuah prinsip, jati diri, sakral, lambang kebebasan, bentuk protes dan perlawanan terhadap sejumlah sistem yang kian memplontoskan jalan pikiran manusia.

Saya teringat John Lennon pernah berkata, "Dan panjangkan rambutmu. Biarkan itu menjadi bagian dari kedamaian.."  HAIR PEACE!