Akhir-akhir ini, sungguh kita dikejutkan oleh berbagai bentuk berita, dan penyerapan informasi. Semua berita bebas menentukan topik. Dan sub judul berita apa yang mereka pakai. Tergantung pada kepentingan dan keperluan media masing-masing.

Entah itu baik atau buruk. Yang penting media tetap menyerap dan menyalurkan informasi. Itu saja! Namun karena atas dasar kebijakan dan kebutuhan publik. Maka sumber informasi harus tersampaikan kepada khayalak, atau pendengar.

"Memang fungsi media itukan hak dan kepentingan publik. Bukan soal pribadi".

Tetapi karena sumber informasi itu adalah "bahan mentah". Jadi tidak semudahnya kita langsung mengkonsumsi begitu saja. Tanpa kroscek terlebih dahulu. Apa maksud atau tujuan dari berita itu sendiri. Butuh data yang valid. Darimana sumbernya, apa maksud, dan isi yang disampaikan. Kepada siapa yang menerima, dan untuk apa berita itu diinfokan. Semua itu butuh 5 W+1H.

Benar atau tidak? Dalam hukum agama wanita itu diangkat derajatnya. Dan ditinggikan kemuliaannya.  Dan bahkan dipelihara pula bak seluruh tubuhnya. Belum tentu benar!

Tetapi jangan kita umbar-umbar lagi. Buka aibnya, telanjang mulutnya, dan hancurkan kewibawaannya. Hingga derajat dan kadar kemuliaan dan kesucian wanita itu "hancur", tidak ada artinya apa-apanya lagi.

"Bukankah segala yang baik-baik itu hak kita. Dan segala yang buruk-buruk itu milik kita".

Apa yang kita ucapkan itu sudah menjadi makanan, dan bahan konsumsi kita setiap hari. Dan sangat mungkin dimakan oleh orang lain. Sebab bahasa yang kita ucapkan itu akan menjadi "pembicaraan orang banyak". Sementara komunikasi yang kita dapat akan menjadi "hasil pikiran kita". Namun apa yang kita beri menjadi "penasehat yang baik bagi kita".

Sebagai makhluk sosial. Tentunya hubungan pada sesama. Tidak bisa kita asingkan, dan memutuskan hubungan. Wanita tidak bisa hidup tanpa manusia lain, mereka saling memberi dan saling menerima pula.

Lebih idealnya saya katakan. "wanita itu identik, lebih dekat dihati, dan lebih jauh dari pikiran. Namun dekat dengan perasaan". Segala pikiran, perkara hati, dan soal perasaan wanita itu. Tidak ada satupun yang tahu. Melainkan tersembunyi dalam privasinya. Orang tua saja, yang dianggap sedarah dan sedekat dengan hatinya. Belum tentu tahu apa yang dia rasa, dan sembunyikan. Kalau bukan, dirinya.

Siapa yang tahu jodoh "ditentukan bertemu"? Cinta "ditakdirkan berpisah"? Dan "kematian tanpa sadar" langsung merenggut? Tidak ada yang tahu satupun!

Bagi wanita, belum pasti disematkan mengetahui segalanya. Karena kadar kemampuan keperempuanan terbatas pada perasaan. Bukan pikiran. Jadi wajar-wajar saja! Wanita bebas memilih, dan menentukan pilihan hidupnya. Karena kemerdekaan wanita itu terletak pada kehendak, cinta dan keputusan hatinya.

Tidak ada yang dipermasalahkan, kalau wanita itu dua, dan tiga perasaan. Agamapun membolehkan istri lebih dari satu, (poligami).

Kenapa? Karena Tuhan sudah memastikan bahwa hati adalah tempat kemerdekaan keputusan, kebebasan dan keyakinan. Dalam unsur hati, perempuan difungsikan untuk "memilih dan menerima, bukan mengikat".

Di berikan ruang hidup bebas, dan pilihan merdeka. Kalau dikurung perasaanya. Maka pikiran harus bebas pula. Tetapi kalau digunjing kemuliaannya. Maka segala moral dan beban etisnya harus dipelihara.

Namun bagaimana dengan wanita, yang menaruh perasaan, yang bukan pada hak dan kebebasannya? Sebut saja "pelakor".

Apa boleh perempuan pelakor seperti itu menyimpan perasaan yang berbeda dari lelaki lain, (suami orang)?

Boleh! Saya pikir tidak ada yang salah dan dipermasalahkan. Itu sesuatu yang absah-absah saja, lumrah. Sebab loyalitas hati keperempuanan itu soal pilihan, bukan ketergantungan. Bebas saja dia meniti dan menaruh perasaan pada siapapun.

Asalkan mereka suka sama suka dan cinta sama cinta. Hukum dan agama kita tidak pernah pernah mengajar "memenjarakan perasaan, dan cinta". Namun, jika itu melebihi batas, hukum, pemikiran dan ketentuan langit. Maka diupayakan untuk mempertimbangkan, dan meluruskan kembali.

Tetapi bagaimana dengan orang yang pertama. Apa mungkin hukum, agama melarang dan mengutuk keras soal demikian?

Hadirnya orang ketiga dari yang pertama itu. Tentunya jelas ditolak keras bagi wanita pertama. Sebab mereka menilai kerukunan, dan keharmonisan keluarga akan berujung pada kehancuran. Tak ada satupun wanita yang rela menduakan perasaan dan cinta.

Kalapun ada, butuh percecokan, dan perkelahian sengit diantaranya. Dualisme perasaan bagi wanita, intinya adalah musuh kebahagiaan rumah tangga. Mereka menolak, dan mengutuk keras orang ketiga.

Begitulah rumus, cara keperempuanan menghendaki atas segala kebebasan, dan kemakmuran hatinya. Perempuan yang dianggap merampas haknya adalah penghianat. Dan dia tetap penghianat, penghianat, (pelakor).

Tetapi wanita lupa, dan buta mata hatinya melihat bahwa dominasi kaum laki-laki atas hak keperempuanan itu dikuasai. Dan sedikit digeser. Mereka hanya berpatri pada sesama jenis. Bukan lawan jenis.

"Sekarang perempuan sudah tahu bahwa wanita perebut lelaki orang dianggap pelakor. Namun bagaimana dengan lelaki perebut suami orang, dianggap apa"?

Kalau perempuan itu sebagai "pelakor". Maka saya sebut juga lelaki itu sebagai  "predatornya".