Mahasiswa
2 bulan lalu · 150 view · 5 min baca menit baca · Hiburan 11785_20619.jpg
kincir.com

Dilan 1991 dan Cinta yang Membebaskan

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih sejam menonton film Dilan 1991, ada dua kesan yang timbul dalam benak saya. Yang pertama, film ini keren, bukan saja karena tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya kece-kece, tetapi karena kisah romantis yang tercipta oleh kelihaian Dilan yang super pandai menggaet hati Milea. 

Kedua, film ini kacau, karena, menurut saya, film ini menunjukkan superioritas laki-laki terhadap perempuan dengan cara paling halus yang dikelabui dengan romantisme yang menghibur tetapi sebenarnya suram.

Kegagahan, heroisme, karakter tokoh Dilan yang sangat maskulin dipertentangkan dengan karakter Milea yang anggun, lemah-lembut dan terkesan mudah tunduk kepada laki-laki. Kesenjangan identitas dan relasi kuasa dua tokoh ini luput dari perhatian penonton, karena memang semuanya tengelam dalam kisah cinta romantis serta chemistry yang menarik ditampilkan Dilan dan Milea. 

Kisah Dilan 1991 adalah sekual dari Dilan 1990. Seperti film pertamanya, Dilan 1991 diterima dan dicintai masyarakat.

Film ini bergenre cinta-cintaan. Laki-laki tertarik kepada perempuan lalu mengungkapkan perasaannya. Cinta dalam film Dilan 1991 dikonsepkan sebagai perjuangan. 

Dilan, yang memang seperti dikisahkan dalam film seorang panglima tempur plus ketua geng motor, harus berjuang mendapatkan cinta Milea yang juga disukai banyak pria. Cinta saat dikonsepkan sebagai perjuangan, maka yang terbesit dalam benak kita adalah kata penaklukan dan merdeka. Dilan merasakan kemerdekaan yang hakiki karena mampu menaklukan hati Milea.


Stereotip terhadap Perempuan

Bagi saya, kisah cinta film Dilan 1991 ini memang standar-standar saja. Film ini tidak jadi populer karena narasi cinta yang anti-mainstream, tetapi karena justru karena mainstream-nya. 

Orang suka dengan film ini bukan karena kualitas atau nilai-nilai yang ditawarkannya, tetapi karena film ini melestarikan gambaran tetang kisah cinta di mana relasi keduanya dikonstruksikan sebagai model relasi subjek-objek, relasi asimetris yang menempatkan perempuan sebagai sosok yang bergantung pada laki-laki, menjadi objek penaklukan laki-laki. 

Kisah romantisme Dilan-Milea adalah proyeksi kisah-kisah banal yang terjadi dalam masyarakat. Para perempuan akan merasa senang ketika dirinya dipuji dengan sebegitu romantisnya menggunakan diksi-diksi puitis. 

Hal ini mengekalkan stereotip bahwa perempuan ditakdirkan untuk menjadi objek penaklukan laki-laki. Perempuan direduksi sebagai manusia yang dominan secara emosional mudah dipengaruhi bahkan disihir serta diperdayai dengan kuasa bahasa romantis.

Film ini booming dan paling populer. Di hari perdana penayangannya, film ini mencetak rekor sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak, mengalahkan  film Hollywood, Avengers: Infinity War

Banyaknya penonton dan popularitas film ini menandakan satu fakta bahwa orang-orang Indonesia, tentu tidak semuanya, sadar atau tidak sadar turut melestarikan kalau tidak mau dibilang setuju dengan bangunan stereotip terhadap perempuan yang dikonstruksikan dalam film ini. 

Konsep tentang perempuan yang dibangun dalam film ini adalah sosok yang halus, lembut, anggun, penurut serta mudah jatuh dengan kuasa bahasa romantis sang laki-laki. Sang perempuan sebegitu mudahnya dimenangkan oleh cinta. Perasaan Dilan yang mendalam terhadap Milea memberikan peluang sebesar-besarnya kepada Dilan untuk mengekspresikan kehendak berkuasanya terhadap Milea tanpa ada dialog sebagai penanda kesetaraan relasi kekuasaan di antara keduanya. 

Cinta dalam kisah Dilan dan Milea adalah relasi yang dibangun atas penaklukan. Cinta yang dikonstruksikan oleh perasaan superioritas laki-laki dan ketakberdayaan perempuan merupakan cinta yang problematis dan memenjarakan autentisitas manusia pada kerangkeng budaya dominasi patriarkat.

Mencintai yang Membebaskan


Banyak manusia yang menganggap bahwa mencintai soal menaklukan hati seorang, seperti yang dipertontonkan dalam film Dilan 1991. Konsep seperti ini mereduksi cinta sebagai mencari objek yang menarik untuk dimiliki, bukan sebagai sebuah kemampuan untuk menerima, memahami, dan berbagi.

Dalam bukunya the Art of Loving, Erich Fromm merumuskan bahwa yang diinginkan dari kemampuan untuk menerima, memahami, dan berbagi adalah tidak lain dari perwujudan manusia mengerti bahwa persoalan mencintai bukan terletak pada keinginan untuk dicintai dan memiliki, melainkan sebuah wujud nyata untuk memberi. 

Konsekuensinya, cinta yang dikonsep untuk memberi tidak dibangun dari penaklukan, tetapi kesediaan keduanya untuk saling sepakat menjalin hubungan melalui dialog, saling mendengarkan, menghargai pendapat satu sama lain, tanpa mendominasi ataupun menguasai pasangan lain dengan hanya menggunakan intrik atau kekuatan bahasa puitis-romantis. 

Bahasa romantis-puitis umumnya hanya mendangkalkan rasa dan menyentuh aspek emosi membuat pasangannya terbuai karena keindahan kata, bukan karena pertimbangan ala rasionalitas yang matang. 

Cinta adalah seni, sama seperti hidup manusia adalah juga seni. Karena itu, sebagai seni, cinta adalah proses belajar, yakni belajar untuk pertama-tama menyadari bahwa kita diciptakan karena cinta Tuhan. Eskpresi cinta Tuhan menyata sebagai anugerah Tuhan yang diberikan lewat orang tua. 

Menyadari eksistensi diri sebagai kreasi cinta Tuhan, seharusnya menuntun kita untuk mencintai sesama, seperti kita mencintai Tuhan. Menurut Erich Fromm, cinta kepada Allah adalah cinta kepada ciptaannya, cinta yang tidak hanya dalam pikiran namun lebih pada tindakan. 

Jika kita mencintai Allah, itu artinya anda juga mencintai segala sesuatu yang berasal dari Allah. Mencintai segala sesuatu dengan tindakan yang benar dan baik, menghindarkan kita dari berbagai tindakan yang merugikan dan buruk terhadap sesama. Menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia adalah sama dengan mencintai Allah.

Tidak bisa dimungkiri bahwa konsep cinta hari-hari ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan ideologi kapitalis. Konsep cinta direduksi bahkan dikonstruksi sebatas yang ditontonkan dalam film-film, penuh kisah romantis, dipepaki ideologi patriarkat, serta jauh dari pengorbanan dan tragedi.

Konstruksi cinta ala kapitalis melahirkan cinta yang  semu, penuh ilusi, dan mereduksi manusia sekadar sebagai objek bukan subjek perasaan.

Dalam cinta yang dibangun dengan basis ideologi kapitalis, cinta kepada manusia setara dengan cinta kepada barang. Artinya, dalam aktus mencintai, sesama cenderung dikonsepkan sebagai objek, benda yang harus dimiliki. 


Setelah kita menaklukan objek, yakni orang yang kita cintai, kita tidak puas dan mencari objek cinta yang lain. Cinta hanya dijadikan sarana untuk merealisasikan kepentingan diri, bukan sebaliknya, cinta menjadi tujuan serentak nilai untuk membebaskan dan menciptakan kesetaraan antara laki-laki dan peremuan dalam kehidupan bersama.

Pada akhirnya, Dilan 1991 hanya film yang menawarkan kita pilihan, entah kita menerima konstruksi sosial yang dipertontonkannya ataukah kita memilih kritis, belajar dari film ini untuk dapat mengubah keadaan sehingga konsep cinta tidak melestarikan stereotip yang sudah mendarah daging dalam masyarakat tentang perempuan. 

Aktus mencintai seharusnya membebaskan kita dari berbagai tindakan yang bertolak dari naluri dan kehendak kita untuk berkuasa dan menaklukan yang lain. Mencinta mesti mengondisikan kesetaraan dan saling memberi tanggung jawab. Mencintai harus mendekatkan kita kepada Tuhan. Mencintai bukan tindakan penaklukan, tetapi seni kepada pembebasan.

Artikel Terkait