Di penghujung malam, dingin seolah masuk lewati pori-pori. Gema takbir memantul pada dinding-dinding kota, mengisyaratkan bahwa besok adalah hari adha. Hari di mana aku meneteskan darah dan membagikan tubuh ini untuk kesejahtraan umat manusia. Aku dijerat kesedihan dan kegembiraan. Sedih karena esok adalah kematianku. Namun, aku juga gembira karena telah menjadi bagian peribadatan ini.

Entah apa yang terjadi jika Ismail waktu itu tidak digantikan oleh kami. Pasti manusia tidak akan menyambut hari adha dengan suka hati. Mereka akan dipenuhi dengan ketakutan. Jelaslah pisau tajam akan berada tepat di leher-lehernya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Sebagai gantinya keturunanku menggantikan Ismail untuk disembelih.

Aku mencoba menenangkan diri. Esok, darahku menyembur ke lubang tanah sedalam setengah meter. Kemudian, mereka meruang darahku dengan tanah. Semoga kelak darahku menjadi nutrisi bagi pohon, dan semoga tanah yang terkena oleh darahku menjadi subur. Sehingga manusia bisa merasakan manfaat darahku.

Aku berusaha menghibur diri sendiri; dengan membayangkan betapa banyaknya manfaatku bagi manusia. Walaupun memang, kegelisahan ini sulit untuk dihilangkan. Siapa yang tidak gelisah kalau besok tubuhnya akan dikuliti? Pikirku, besok aku akan digantung di suatu tiang dengan mengikatkan tali di kedua kaki belakangku. Dan badanku mulai dikuliti serta dipotong dalam beberapa bagian.

Di sela-sela gema takbir, teman-teman di sekelilingku bersedih karena mereka tau kapan kematian akan hinggap pada tubuhnya. Bahkan temanku yang berada tepat di hadapanku, meneriakan kata-kata yang aneh: “Kehidupanku hanya untuk kebutuhan manusia.” Beberapa menit kemudian ia berteriak lagi: “Aku dikurbankan atau dikorbankan?”

Aku sempat bingung, dengan kata-katanya yang kedua. Kalau kata-kata yang pertama aku memahami maksudnya, sebab aku juga memiliki anggapan seperti itu. Tapi apa yang hendak disampaikan olehnya dalam ucapan dia yang kedua? Apakah dia tidak rela untuk menjadi bagian peribadatan ini?

Aku sempat bertanya maksud dari ucapannya yang kedua. Tapi dia tidak menjawab. Malahan dia meneriakan ucapan itu lebih keras lagi “Aku dikurbankan atau dikorbankan?” Ucapannya memang membuatku bingung. Di sela-sela gema takbir berkumandang, dia seolah menyuruhku dan teman-teman yang lainnya untuk memikirkan hal itu. Memikirkan kembali apakah besok kita dikurbankan atau dikorbankan?

Jam demi jam tidak terasa terlewati. Aku habiskan untuk memikirkan maksud dari ucapan seorang teman yang tepat berada di hadapanku. Perlahan, aku mulai gemetaran dan sudah tidak memedulikan dengan ucapan temanku itu. Tapi, temanku tetap meneriakan; “aku dikurbankan atau dikorbankan?”

Tiba-tiba, datang lelaki berjubah putih dengan sorban yang melingkar di lehernya. Badannya gemuk dan tingginya sekitar 175 cm. Dia berdiri tegap dan tangannya menyilang: tangan kanannya ia masukan pada sela-sela ketiak kiri, begitu pun sebaliknya. Wajahnya ia angkat, sampai dagu lebih depan dari hidungnya.

Dengan segera satu per satu temanku dibawa ke lapangan, mereka dijatuhkan kemudian kepalanya disimpan pada kayu yang kurang lebih memiliki panjang satu meter. Kakinya diikat ke pohon dan ada juga yang dipegang langsung oleh manusia. Lelaki yang berdiri dengan jubah putih itu, langsung jongkok.

Dengan tangan kirinya lelaki itu mulai meraba leher temanku. Sedangkan tangan kanannya memegang sebilah pisau yang tajam. Temanku mulai memejamkan mata, dengan pasrah dia menyerahkan dirinya untuk disembelih. Saking deras darah itu keluar dari lehernya, darahnya menjadi berbusa.

Aku hanya terdiam, dan beberapa jam atau bahkan beberapa menit lagi aku yang akan seperti itu. Tapi aneh, walaupun semua teman-temanku terdiam dan pasrah akan takdirnya. Teman yang berada di hadapanku tetap meneriakan “Aku dikurbankan atau dikorbankan?”

Aku sempat membujuknya beberapa kali untuk memberi tahu apa yang dimaksud dengan ucapannya. Namun, dia hanya teriak dengan kata-kata yang sama. Sampai tibanya dia dibawa menuju tempat penyembelihan, dia bicara kepadaku “Kamu akan tau maksud dari ucapanku, setelah pisau berada tepat di lehermu!”

Aku sangat heran kenapa dia meneriakan itu terus-menerus. Bahkan ketika dia dituntun dengan tali yang melingkar di lehernya, dia terus meneriakan kata-kata itu. Dia sama sekali tidak berontak ketika dijatuhkan ke tanah dan kepalanya disimpan di kayu penuh darah.

Saat pisau mulai menembus lehernya, dia tetap meneriakan kata-kata yang sama “Aku dikurbankan atau dikorbankan?” Sampai ajal menjemputnya, sayup-sayup terdengar “Kehidupanku hanya untuk kebutuhan manusia. Aku dikurbankan atau dikorbankan?”

Satu per satu temanku sudah tergeletak. Dan mereka diangkut menuju tempat pengulitan dan pemotongan. Kematian teman-temanku ditonton oleh banyak orang; dimulai anak-anak sampai orang dewasa. Setahun sekali memang kami disiapkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan setahun sekali juga kami disembelih secara massal.

Menurut ibuku, tepat setelah aku dilahirkan, ayahku dibawa oleh seseorang. Konon, waktu itu ayahku mau disembelih. Awalnya aku hanya berkeluh kesah dan bersedih meratapi takdirku yang hanya dijadikan untuk santapan manusia. Namun ibuku selalu memberi nasihat. Katanya Tuhan tidak mungkin menggariskan suatu takdir yang tidak sesuai dengan kemampuan makhluk atau ciptaannya.

Semenjak ibu selalu menasihatiku, aku selalu ingat pada Sang Pencipta. Dan kegelisahanku hilang setelah aku mengingat diri-Nya. Namun sekarang berbeda, di penghujung kematianku, aku gelisah. Walaupun aku selalu mengingat nasihat ibu, namun gelisah ini tidak hilang, bahkan semakin menjadi-jadi.

Karena pertanyaan temanku itu aku menjadi gelisah. Aku mulai bertanya pada diri sendiri “Apakah aku dikurbankan atau dikorbankan?” Ketika semua temanku telah disembelih, sekarang giliranku. Aku dibawa menuju lapangan. Sesampainya di sana, aku dikerumuni oleh orang-orang.

“Satu lagi ayo satu lagi” ucap lelaki berjubah putih dengan memegang pisau penuh darah itu. Aku dijatuhkan, sementara kedua kakiku dipegang erat-erat. Aku baru menyadari ternyata beginilah orang tuaku dahulu mati. Mereka dituntut harus pasrah, karena mereka tidak bisa merubah takdir itu sendiri.

Tiba-tiba, seorang berpakaian serba merah dengan jari penuh akik datang menyelinap ke kerumunan orang. Aku rasa orang itu adalah orang kaya. Lihat saja, pakaiannya berbeda dengan orang lain; mewah, bersih, dan terlihat mahal. Dia memakai topi hitam, di sisi topinya nampak kialauan emas. Bak raja, dia begitu saja menerobos kerumunan orang tanpa memperlihatkan sopan santun sedikitpun. Tidak ada sedikitpun yang berani menegurnya. Aku rasa, karena dia adalah orang kaya.

Dengan pongahnya, lelaki separuh baya itu menaruh kedua tangannya di pinggang. Ujung mulutnya ia tarik ke bawah. Pada raut mukanya, aku melihat kesombongan. Mataku terus memandangi orang itu. Dengan keadaan kakiku yang dipegang oleh manusia dan kepala menyentuh tanah, aku tidak melepaskan tatapanku pada orang itu. Rasanya aku baru melihat orang sesesombong dia.

Tiba-tiba dia mengambil cerutu dari saku celana kanannya. Kemudian dia menghisap cerutu itu. Sambil menghisap cerutunya, dia berbicara “Domba yang mau disembelih ini adalah domba yang tergemuk, domba yang aku beli dengan harga 10 juta.” Kata-katanya terdengar sombong sekali. Dia ingin dikenal sebagai seseorang yang kaya. Beberapa kali, dia tebarkan kesombongannya.

Selang beberapa menit lelaki itu bicara “Di sini tidak ada yang bisa kurban dengan domba seharga 10 juta.” Sempat aku berfikir, kenapa orang ini sombong sekali. Di ujung kematianku, aku baru mengerti maksud dari ucapan temanku.

Dan aku sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan “Apakah aku dikurbankan atau dikorbankan?” Jawabannya, aku tidak dikurbankan oleh lelaki itu, tapi aku dikorbankan. Walau secara jasad aku memang dikurbankan. Tapi secara hakikat aku dikorbankan demi kesombongan dan popularitas orang yang telah membeliku dengan harga 10 juta.

Demi sebuah popularitas, seseorang rela menghamburkan uangnya. Demi mendapat pujian seseorang berusaha menumbalkanku. Tuhan pasti mengetahui niatmu: ikhlas berkurban atau hanya ingin mendapat pujian?

Namun yang jelas, aku mengetahui betul niatmu. Aku bukan dikurbankan oleh lelaki tersebut, karena berkurban tidak perlu menyombongkan diri. Bahkan berkurban harus memiliki rasa ikhlas untuk berbagi. Aku bukan dijadikan hewan kurban tapi dijadikan hewan korban. Dikorbankan demi kesombongan manusia.

Kalau memang begitu kenyataannya, tidak sepantasnya lelaki itu menyebutku sebagai hewan kurban. Tapi sudah sepatutnya menyebutku sebagai hewan korban atau lebih parahnya hewan tumbal. Ditumbalkan demi kesombongan dan popularitas semata.

Di penghujung kematianku, aku berteriak. Bukan teriakan untuk menanyakan kembali seperti temanku—“Apakah aku dikurbankan atau dikorbankan?”

Tapi, karena aku sudah tahu jawabannya, aku berteriak “Aku bukan dikurbankan, tapi aku dikorbankan atau bahkan ditumbalkan”.

Setelah itu, pisau mulai ditarik keatas dan kebawah; leherku berdarah dan aku sulit untuk bernafas. Namun di detik-detik kematianku, aku terus berteriak “Aku bukan dikurbankan, tapi aku dikorbankan atau bahkan ditumbalkan.”

Di sela-sela terlepasnya ruh dari jasadku, aku menangis. Ternyata kematianku hanya dijadikan sebagai korban dan bukan dijadikan kurban oleh lelaki itu. Tubuhku yang gemuk, dijadikan sebagai senjata baginya untuk mendapatkan pujian dari orang lain.

Dia ingin dipandang sebagai orang dermawan yang murah hati. Namun sebenenarnya dia begitu  sombong. Di akhir terpejamnya mataku, aku melaknat kurbannya seseorang yang hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain “Celakalah orang yang berkurban hanya sekedar untuk menyombongkan dirinya!”