Situasi Ramadhan tahun 2021 tidak jauh beda dibandingkan tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang belum teratasi membuat sebagian warga masih membatasi aktivitas atau pertemuan tatap muka secara langsung. Sehingga Ramadhan dan Lebaran tahun ini tetap akan dijalani dengan nuansa virtual.

Seperti halnya lebaran tahun lalu, mudik menjadi istilah yang selalu dinantikan dan diperbincangkan. Membahas mudik dari tahun ke tahun memang cukup menggelitik nurani saya untuk menuangkan coretan-coretan pada tulisan ini.

Banyak suka dan duka bahkan  kekonyolan di balik istilah mudik. Namun, di balik diksi mudik terkandung makna sakral tentang tradisi dan kerinduan kampung halaman.

Jagat dunia maya sedang dihebohkan dengan pemberitaan tentang larangan mudik oleh pemerintah, ini menjadi larangan kedua kalinya pada lebaran tahun ini dan sebelumnya. Pemerintah dengan tegas melarang masyarakat Indonesia untuk tidak mudik ke kampung halaman, hal ini sebagai tindakan pencegahan covid-19.

Seperti halnya tahun lalu, pemerintah mengeluarkan statement tentang pelarangan mudik, sedangkan pulang kampung diperbolehkan. Pada tahun ini masyarakat sedang dihadapkan kembali pada informasi yang membingungkan dari pemerintah bahwa mudik dilarang sedangkan rekreasi diperbolehkan.

Hal ini menjadi tanda tanya besar saya tentang informasi tersebut, pasalnya informasi ini menimbulkan kejanggalan pada pikiran saya tentang pelarangan mudik dan diperbolehkannya rekreasi. “jika saya ingin rekreasi ketempat wisata yang dekat rumah saya, apa diperbolehkan ?” 

Pada tulisan ini saya akan mencoba mengulas secara singkat mengenai diksi kata “mudik” dan “rekreasi” yang sedang viral saat ini. Selain itu, pada tulisan ini juga saya akan mengupas makna yang tersirat pada kata “mudik” dan “rekreasi”.

Tentang Diksi “Mudik” dan “Rekreasi’

Istilah "mudik" berasal dari kata udik yang dalam bahasa Betawi bermakna hulu/selatan. Kata ini mengalami perluasan makna menjadi "kampung" karena pada masa Jakarta masih bernama Batavia, hasil-hasil bumi diangkut dari hulu/selatan memasuki tembok kota yang berada di hilir.

Mudik kemudian secara luas digunakan sebagai istilah pengganti "pulang kampung", terutama saat perayaan hari besar seperti Idulfitri. Peristiwa mudik di Indonesia dianggap fenomenal karena melibatkan jutaan orang serta semua sarana transportasi. Karena itu, mudik menjadi ajang yang cukup dinantikan, khususnya para perantau untuk mengobati kerinduan kampung halaman.

Sedangkan istilah “rekreasi” secara harfiah berarti 'membuat ulang' atau kegiatan yang dilakukan untuk penyegaran kembali jasmani dan rohani seseorang. Hal ini merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan pekerja serta kegiatan yang umum dilakukan untuk rekreasi adalah pariwisata, olahraga, bermain, dan hobi. 

Secara definisi memang istilah mudik dan rekreasi cukup berbeda, tetapi permasalahan yang muncul di masyarakat saat ini disebabkan ungkapan sebuah bahasa. Hal tersebut terjadi karena petutur (lawan bicara) salah persepsi dalam memaknai bahasa penutur (pembicara) , ataupun bisa juga penutur tidak tepat dalam pemakaian bahasa yang disampaikan.

Kasus tersebut memberikan sebuah gambaran tentang pentingnya memahami sebuah ungkapan bahasa sebagai alat komunikasi, karena ungkapan bahasa memiliki fungsi tertentu. Fungsi bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi di masyarakat melainkan menjadi sebuah sarana interaksi.

Munculnya kata ‘mudik’ dan “rekreasi” yang disampaikan dalam satu momentum akan menimbulkan makna multitafsir. Sehingga ungkapan-ungkapan bahasa tersebut mengandung “makna liar”  yang akan diterjemahkan pendengar secara variasi.

Dalam  hal ini bahwa penutur (pembicara) harus memahami ungkapan yang sedang disampaikan ke lawan bicara. Ungkapam pembicara memiliki makna yang berubah-ubah, sehingga lawan bicara harus memahami maksud yang disampaikan pembicara dengan melihat konteks tuturan.

Konteks ‘mudik’ dan ‘rekreasi’ dalam pragmatik

Dalam membedah sebuah permasalahan kata ‘mudik’ dan ‘rekreasi’ ini, saya mencoba menggunakan teori pragmatik. Menurut Yule (2006: 3) bahwa pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau pembicara) dan ditafsirkan oleh pendengar.

Sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri.

Konteks sebuah bahasa  memiliki peran penting dalam mengidentifikasi bahasa yang dituturkan pembicara. Menurut Cumings (2007: 5) gagasan tentang konteks berada di luar perwujudan yang jelas seperti latar fisik, meskipun peran konteks dalam makna bahasa telah diketahui.

Akhir-akhir ini peran konteks  diuraikan secara jelas dalam disiplin ilmu pragmatik yang usianya masih relatif muda, dan baru sekarang ini kontribusi faktor-faktor konteks terhadap proses argumentasi diselidiki secara serius oleh para ahli pragmatik.

Pada konteks ini istilah pelarangan “mudik” dan diperbolehkannya “rekreasi” sebernarnya sudah jelas, bahwa makna yang ingin disampaikan pemerintah adalah untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Sehingga pelarangan mudik bagi pemerintah merupakan cara yang tepat untuk memotong rantai penyebaran Covid-19.

Sedangan istilah diperbolehkannya rekreasi oleh pemerintah bukan berarti masyarakat bisa keluar dari zona daerah tempat tinggal. Istilah rekreasi diperbolehkan jika tempat yang dituju masih dalam satu zona, itu pun harus dengan menaati protokol kesehatan yang ketat, sehingga tujuan dari pemerintah untuk memotong rantai penyebaran covid-19 bisa berjalan.

Memahami konteks tuturan cukup penting, sehingga informasi-informasi yang disampaikan pemerintah tidak menimbulkan multitafsir, dan akan menjadi polemik baru di masyarakat.