Apa yang dipikirkan ketika mendengar kata dikotomi kendali? Ingatan saya tertuju pada satu hal yaitu stoa. Stoa merupakan istilah lain dari filsafat stoikisme atau juga lebih dikenal dengan nama Filosofi Teras. Dalam filsafat ini ada poin penting yang dipelajari, salah satunya yaitu dikotomi kendali.

Dikotomi kendali sendiri merupakan suatu hal yang dapat dikendalikan dan tidak dapat kendalikan. Tentunya kita sebagai manusia adalah yang dimaksud dalam dikotomi tersebut. Iya, kita sebagai pengendali dalam ajaran filsafat stoa. Namun yang perlu diingat bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan oleh diri sendiri. 

Untuk itulah perlu memetakan dikotomi kendali. Dengan mempelajari filsafat ini tentu kita akan mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi kendali kita. Bagaimana kita menerapkan dikotomi kendali dalam kehidupan sehari-hari? Tentu setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menerapkannya. 

Namun ada hal yang menurut saya sangat menarik setelah mempelajari filsafat ini. Saya merasa tersadarkan, bahwa selama ini saya adalah orang yang memiliki banyak kekhawatiran. Yang mana kekhawatiran ini merupakan hal yang seharusnya saya buang jauh-jauh. 

Sebab penyebab kekhawatiran tersebut adalah hal yang masuk dalam sesuatu yang di luar kendali atau tidak bisa dikendalikan. Dalam buku yang saya baca mengenai filsafat stoa atau yang akhir-akhir ini telah dikenal dengan nama Filosofi Teras karya Henry Manamiring. 

Saya menjadi sadar, bahwa terlalu memikirkan risiko, kini menjadi suatu hal yang menurut saya sedikit agak negatif. Bagaimana tidak? Ternyata hal tersebut menjadi salah satu penyebab kenapa risiko yang dipikirkan benar-benar terjadi.

Saya tidak tahu bagaimana cara kerja pikiran itu sehingga menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Tetapi yang dapat saya tangkap bahwa, ketika memikirkan risiko yang sifatnya negatif secara tidak langsung itu adalah suatu pembenaran.

Di mana pembenaran itu akan menjadi nyata. Ketika memang telah memikirkan risiko yang cenderung negatif, hasilnyapun akan selaras yaitu negatif. Sedangkan, mengapa sekarang saya rasa itu perlu dihindari. Sesuatu hal, ada baiknya memang dicoba. 

Dengan begitu ada dua kemungkinan pasti, hasil positif dan negatif. Memikirkan risiko yang cenderung negatif ada satu kemungkinan yang terbayang yaitu hasil negatif. Padahal mencoba/melakukannya belum sama sekali. Itu artinya memikirkan risiko sama dengan memiliki sifat pesimis.

Seperti yang sudah diketahui bahwa sikap pesimis sendiri merupakan hal yang cenderung mengkhawatirkan sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. Padahal belum tentu sesuatu yang akan terjadi itu akan menimbulkan dampak buruk.

Dari sini, sepertinya saya harus banyak belajar bahwa terhadap suatu hal apa pun. Ada baiknya memang dicoba, ketika hal itu memang berada di jalan yang benar, dan tidak melanggar apa pun.

Banyak hal yang didapatkan ketika mempelajari filsafat stoikisme (stoa) atau lebih dikenal dengan Filosofi Teras. Penekanan akan dua hal (sesuatu yang bisa dikendalikan dan tidak bisa dikendalikan) atau dikotomi kendali dalam filsafat ini sangat menarik. 

Dan menurut saya itu sederhana namun dalam pelaksanaannya cukup kompleks. Tentu ini akan mempermudah, sebab terkadang kebanyakan ketika mendengar kata filsafat, pasti berpikir suatu hal yang rumit dan membosankan. Dengan adanya filsafat stoa ini, kita belajar dari sesuatu yang sederhana. 

Tentu dapat merubah sudut pandang kita dalam mempelajari filsafat. Hal sederhana adalah suatu hal yang mudah. Dalam artian tidak terlalu rumit dan bahkan dapat dipelajari dengan cepat. Oleh karenanya sekarang kita tidak perlu khawatir ketika belajar filsafat. 

Sebab filsafat yang satu ini(stoa) cukup memperdudah kita sebagi pemula untuk mengenal tentang filsafat. Seperti saya sendiri, saya bukan orang yang begitu paham atau telah lama belajar filsafat. Saya hanya mempelajari sedikit teori filsafat ketika saya masih duduk dibangku sekolah. 

Dan menurut saya itu sangat rumit dan sulit dimengerti. Dan tentu saja, menjadikan sayaberanggapan bahwa filsafat adalah hal rumit dan membosankan. 

Namun sekarang berbalik, ketika saya menemukan buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring saya merasa bahwa filsafat adalah sesuatu hal yang menarik. Dengan menguliknya akan tahu banyak hal yang sebernarnya itu berhubungan dengan kehidupan kita, dari hal sederhana maupun yang kompleks. 

Oleh karenanya, ketika memang mau belajar filsafat saya rasa harus ada pengantar sederhana yang membawa ketertarikan untuk mempelajarinya. Dan filsafat stoa ini adalah salah satu rekomendasi pengantar yang menarik. 

Dan juga dikatakan oleh penulisnya bahwa filsafat ini cukup relevan dan praktis untuk kehidupan generasi milenial seperti kita saat ini. Saya rasa juga demikian, sangat praktis dan relevan, terutama tentang dikotomi kendali. 

Cukup membuat pikiran saya terbuka, bahwa ada banyak hal yang seharusnya kita tidak perlu lakukan terhadap sesuatu hal yang diluar kendali. Sebab itu hanya akan membuat kita merasakan kekhawatiran yang tak berujung pada penyelesaian. Dan justru penyelesaian ada pada hal yang ada didalam kendali.