“Bakar pakaian Inggris! Bakar pakaian Inggris!” Teriak rombongan pawai. Mereka berduyun-duyun melakukan demonstrasi menolak pakaian produksi dari pabrik-pabrik Inggris. Dan para peserta pawai kian hari kian bertambah banyak. Pemerintah Inggris mulai merasa khawatir karena pendapatan dari impor dan penjualan kain akan berkurang.

Pawai itu terjadi akibat provokasi Mahatma Gandhi. Salah satu instruksi Gandhi, dalam ikhtiar memerdekaan India yakni mandiri dalam urusan pakaian. Gandhi memerintahkan rakyat India untuk memintal kapas sendiri dijadikan benang dan menenun jadi pakaian, lalu memakainya dengan penuh kebanggaan. 

Usai intruksi itu, ribuan potong pakaian yang dimiliki rakyat India, yang dibeli dari pabrik-pabrik tekstil dari Manchester dan Leeds dibakar oleh rakyat India. “Tidak ada keindahan pada pakaian yang paling bagus jika itu menyebabkan kelaparan dan kesengsaraan,” kata Kasturba Gandhi dalam sebuah pidato.

Bisa jadi kita ragu kalimat Kasturba Gandhi yang ia ucapkan pada paruh abad XX itu jika ia ucapkan saat ini. Kini, orang rela menabung sedikit demi sedikit hanya untuk memiliki pakaian bermerek terkenal. Orang rela menahan lapar agar bisa tampil ngejreng berbalut gengsi. Pakaian bermerek, berharga mahal, impor, dipakai agar tubuh jadi indah, meski harus rela sengsara untuk membelinya.

Pakaian hasil menenun dan memintal sendiri dari jutaan orang India, tentu akan menohok bisnis perdagangan tekstil yang beroperasi di India. Kain jadi simbol perlawanan masyarakat India. Namun, sebelum kesadaran Gandhi hadir untuk membuat pakaian sendiri, Raden Ajoe Abdulkadir sepertinya telah menyadari bahwa: 

Telah lamalah saja bermaksoed akan mengarang seboeah kitab jang menjatakan dari hal soeatoe peroesahaari Djawa, jang boléh dikatakan soedah hampir hilang jaitoe dari hal BERTENOEN. Makanja boléh dikatakan soedah hampir hilang, sebab di Djawa-Tengah pada waktoe sekarang jang masih mengerdjakannja hanja orang-orang desa pada beberapa tempat sahadja, tiada lazim dimana-mana.

Barang tenunan lokal terdesak oleh kain impor dari tanah seberang. Ketrampilan menenun mulai berada di gigir kepunahan. Raden Ajoe Abdulkadir prihatin. Karena itu, Raden Ajoe Abdulkadir ingin mengajak banyak orang untuk kembali bertenun. Raden Ajoe Abdoelkadir ingin berbagi pengetahuan dengan membuat buku bertajuk “bagaimana cara…” atau, dalam perbukuan nasional abad XXI disebut buku How to…

Judul buku “Kitab Tenoen”, bertahun 1925. Halaman judul bercap “CENTRALE BIBLIOTHEEK KON. INST. v. d. TROPEN AMSTERDAM” yang berarti buku tersebut adalah kepunyaan perpustakaan pusat Koninklijk Instituut v.d Tropen. Perpustakaan Londo tersebut rupanya ngopeni buku how to.

Saya ragu akan berjumpa buku ini di pasar loak buku bekas. Meski keraguan itu bisa saja runtuh, tapi masih adakah intelektual yang mau merawat buku bagaimana cara bertenun yang dicetak pada 1925?

Buku yang tebalnya hanya 20 halaman ini saya baca dalam bentuk digital. Membaca tanpa merasakan halusnya kertas dan penguknya aroma buku lawas. Buku ditulis beserta keterangan gambar untuk memudahkan pembaca menerapkan pengetahuan yang dibagikan oleh si penulis. Buku memberi kejutan-kejutan lewat pilihan diksi yang masih lawas dan membingungkan pembaca masa kini.

Simak kalimat pada bagian pertama buku Kitab Tenoen berikut:

Lakoenja orang memboeat lawé itoe haroes diantih dahoeloe, dan jang diboeat lawé itoe asalnja dari pada kapas. Kapasnja haroes dihilangkan dari pada [isinja] bidjinja atau woekoenja, soedah itoe laloe didjemoer. Djika kapas itoe soedah kering, laloe dibetoeti atau diiwir-iwir, soepaja gampang diantihnja dan digoeloengnja sedikit. Sesoedahnja digoeloeng laloe diantih memakai pesawat [djontro]. 

Apakah pembaca zaman kini akan mengernyitkan dahi, bingung sebesar gunung dan mangkel sebesar kepel membaca kata-kata lawé, diantih, wokoenja, dibetoeti, diiwir-iwir? Ah! Banyak kata-kata itu telah masuk di kamus, di kuburan kata-kata.

Kata-kata yang diantih oleh Raden Ajoe Abdulkadir, seorang anggota perkumpulan Wanito Oetomo Jokjakarta, agar pembaca tahu cara menenun. Si penulis mungkin berharap banyak bahwa para pembaca akan menemukan woekoenja. Lalu woekoe itu disemai dalam diri, bertumbuh keterampilan mengantih agar tidak diiwir-iwir oleh nasib berani lapar demi pakaian merek terkenal!

Buku bagaimana cara sangat banyak terbit dan terpajang di toko buku. Apalagi buku cara menjadi konglomerat atau cara lulus tes CPNS; membludak sampai rak toko buku mau patah berkeping-keping!

Banyak orang ingin menjadi kaya, ingin menjadi pegawai negeri; dengan membaca buku-buku yang mampu menggerakkan diri menuju cita-cita yang diinginkan. 

Buku menjadi obor dalam lorong gelap. Orang membaca buku ingin menjadi kaya, makmur, sejahtera. Atau lebih tepatnya mencari tahu bagaimana caranya bisa menjadi kaya. Buku diharapkan seorang pembaca bisa membuatnya menjadi kaya.

Banyak umat penggandrung buku bagaimana cara dengan pelbagai alasan. Salah satu alasan paling mungkin adalah buku tersebut memberi langkah yang jelas. Buku bagaimana cara adalah salah satu model buku yang seperti obor penerang dalam dunia gelap gulita. Buku seperti itu memberi tahu para pembaca langkah-langkah melakukan sesuatu secara jelas, cetho welo-welo.

Buku tak perlu menyuruh pembaca berpikir keras. Buku tak perlu membikin otak pembaca rasanya seperti diiwir-iwir yang nantinya mungkin otak bisa njarem dan mumet. Buku cara menenun, memberi pencerahan kepada pembaca pada tahun 1920an agar merawat ketrampilan nenek-moyang, agar kain tenunan tidak hilang dibantai kain dari tanah seberang. Salam iwir-iwir.